Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO menilai kehadiran AI di sektor kesehatan belum menjadi ancaman langsung bagi dokter dan perawat. Teknologi ini justru diperkirakan lebih banyak mengubah cara kerja tenaga kesehatan, terutama lewat pembagian tugas yang lebih efisien.
Ekonom Senior ILO Janine Berg mengatakan profesional kesehatan relatif aman dari risiko tergantikan penuh oleh AI karena pekerjaan mereka masih sangat bergantung pada interaksi manusia. Dalam diskusi ILO di Jakarta, ia menegaskan bahwa AI lebih mungkin mengambil alih pekerjaan administratif rutin dibanding tugas klinis yang membutuhkan penilaian dan kontak langsung dengan pasien.
AI dinilai membantu diagnosis
Riset ILO di Indonesia, Kenya, dan Belanda menunjukkan model large language model atau LLM dapat meningkatkan kualitas diagnosis medis. Di Indonesia, riset yang dilakukan bersama IMERI Universitas Indonesia mencatat skor rata-rata diagnosis praktisi medis naik dari kisaran 40 poin menjadi hampir 50 poin saat menggunakan bantuan AI.
Temuan itu menunjukkan AI tidak hanya berperan sebagai alat otomatisasi, tetapi juga sebagai pendukung kerja klinis. Dalam konteks layanan kesehatan, kemampuan ini bisa membantu tenaga medis mengambil keputusan dengan lebih cepat dan lebih akurat.
Beban administratif jadi sasaran utama
Janine menjelaskan bahwa AI berpotensi mengurangi beban administratif yang selama ini menyita waktu dokter dan perawat. Pekerjaan seperti pencatatan, pengolahan data, dan tugas rutin lain sering memicu kelelahan kerja atau burnout, sehingga otomatisasi di area ini bisa memberi ruang lebih besar untuk pelayanan pasien.
Ia juga menyoroti bahwa ancaman kekurangan tenaga kesehatan global masih besar. ILO merujuk estimasi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang memperkirakan kebutuhan hingga 30 juta tenaga kesehatan pada 2030, sehingga teknologi seperti AI bisa menjadi alat bantu penting untuk menutup sebagian celah tersebut.
Risiko berbeda antara tugas klinis dan administratif
ILO memetakan risiko pekerjaan di sektor kesehatan yang dapat digantikan sepenuhnya oleh AI. Hasilnya, tugas yang berkaitan langsung dengan aktivitas klinis memiliki tingkat risiko yang rendah, sedangkan tugas administratif menunjukkan skor risiko yang jauh lebih tinggi, sekitar 0,4-0,45.
Perbedaan ini memperlihatkan bahwa adopsi AI tidak akan berdampak sama pada semua jenis pekerjaan di rumah sakit. Justru, teknologi ini lebih mungkin mengubah alur kerja dan distribusi tanggung jawab ketimbang menggantikan profesi medis secara utuh.
Suara tenaga medis perlu dilibatkan
Janine menegaskan bahwa rumah sakit dan pembuat kebijakan tidak boleh mengadopsi AI tanpa mendengar masukan dari tenaga medis sebagai pengguna akhir. Menurutnya, dokter dan perawat paling memahami kebutuhan di lapangan, termasuk bagaimana teknologi seharusnya dirancang dan dikelola.
Pendekatan itu penting agar pemanfaatan AI benar-benar mendukung layanan kesehatan, bukan justru menambah beban baru. Dengan melibatkan tenaga medis sejak awal, penerapan teknologi bisa lebih tepat sasaran dan selaras dengan kebutuhan pasien maupun sistem pelayanan kesehatan.
Source: teknologi.bisnis.com






