Penamaan jet tempur Amerika Serikat terlihat rapi, tetapi ada dua lubang yang selalu memicu pertanyaan: ke mana F-13 dan F-17 menghilang. Celah itu membuat banyak orang menduga ada alasan teknis atau rahasia besar di baliknya, padahal jawabannya lebih dekat ke sejarah program pesawat dan sedikit unsur takhayul.
Urutannya memang tampak logis pada F-14, F-15, dan F-16, lalu melompat ke F-18 dan F-22. Di dunia pertahanan, angka pada prototipe sering dipakai sebagai penanda awal, dan kadang nomor itu bertahan sampai pesawat masuk layanan.
Jejak F-17 yang hampir masuk dinas
F-17 sebenarnya nyaris menjadi nama resmi pesawat tempur Amerika. Northrop Aircraft, yang kini menjadi Northrop Grumman, mengembangkan YF-17 Cobra dan menerbangkan prototipenya pada 1976 dengan bantuan NASA.
Pesawat itu lahir dari program Lightweight Fighter milik Angkatan Udara Amerika Serikat. Namun kontrak tersebut justru dimenangkan General Dynamics, yang mengubah YF-16 menjadi F-16 Falcon.
Kisah YF-17 tidak berhenti di sana. Angkatan Laut Amerika Serikat melihat nilai desain itu dan memberi kontrak kepada Northrop, sehingga YF-17 berkembang menjadi F-18 Hornet dan keluarga Super Hornet untuk operasi berbasis kapal induk.
Mengapa nomor 13 dihindari
Cerita F-13 lebih kabur, tetapi justru di situlah daya tariknya. Jika dicari secara luas, nama F13 memang muncul pada pesawat buatan Junkers di Jerman pada 1919, yang dikenal sebagai pesawat penumpang berbahan logam pertama.
Namun dalam sistem penamaan modern Angkatan Udara Amerika Serikat, tidak pernah ada pesawat tempur modern yang memakai nama F-13. The Runway, publikasi daring Angkatan Udara Australia, menyebutkan bahwa penjelasan paling sederhana adalah triskaidekaphobia, yakni ketakutan terhadap angka 13.
Pandangan itu terdengar tidak resmi, tetapi masuk akal jika dilihat dari kebiasaan militer yang kadang berhati-hati terhadap simbol dan angka tertentu. Untuk pesawat tempur yang dirancang melesat lebih dari 1.000 mil per jam dan berperan menjaga wilayah udara Amerika, kehati-hatian seperti itu dianggap tidak aneh.
Nomor yang dilewati bukan hanya 13
Kebiasaan melewati nomor tertentu ternyata tidak berhenti di F-13. Northrop juga sempat melewati F-19 saat mengembangkan penerus F-5 Tiger, lalu memilih F-20.
Alasannya berkaitan dengan pola penamaan pesawat Uni Soviet yang sering memakai nomor ganjil, seperti MiG-19 dan MiG-21. F-20 sendiri tidak pernah melampaui tahap prototipe, sehingga nomor yang dipilih pun tidak otomatis berakhir sebagai pesawat tempur operasional.
Pola ini menunjukkan bahwa penamaan pesawat tempur tidak selalu mengikuti urutan matematika yang ketat. Kadang keputusan dipengaruhi strategi, persepsi lawan, kontrak militer, dan pertimbangan yang tidak sepenuhnya dijelaskan ke publik.
Rumor yang terasa masuk akal, tapi tetap tak resmi
Dari luar, hilangnya F-13 dan F-17 mudah dibaca sebagai misteri besar. Namun jika ditelusuri, F-17 tidak hilang begitu saja, karena perannya berlanjut melalui F-18 yang kemudian masuk layanan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Sementara itu, F-13 lebih dekat ke wilayah kebiasaan dan superstisi ketimbang dokumen teknis yang terbuka. Dunia pertahanan memang jarang mengakui unsur takhayul secara langsung, tetapi cerita soal nomor yang dihindari tetap bertahan karena cocok dengan cara industri ini bekerja: serba hati-hati, serba simbolik, dan tidak selalu sepenuhnya transparan.







