Burung Pelatuk Mematuk Ribuan Kali Tanpa Cedera, Ini Rahasia Tubuhnya

Author: Qoo Media

Burung pelatuk tampak seperti mesin pemukul alami yang tak kenal lelah. Dalam sehari, burung ini bisa mematuk batang pohon sebanyak 8.000 hingga 12.000 kali tanpa terlihat mengalami cedera kepala.

Kebiasaan itu bukan aksi acak. Burung pelatuk mematuk pohon terutama untuk mencari makanan, menandai wilayah, menarik pasangan, dan membuat lubang sarang.

Mencari larva di balik kulit kayu

Target utama pelatuk adalah larva serangga yang bersembunyi di bawah permukaan kulit pohon. Beberapa spesies juga memakan getah pohon dan serangga yang terjebak di dalamnya.

Jenis pohon yang sering menjadi sasaran antara lain pinus, cemara, birch, pohon buah-buahan, dan sweet gum. Pohon dengan kayu lebih lunak biasanya lebih disukai, tetapi pelatuk juga akan mengebor pohon yang mengandung serangga penggerek kayu atau kutu kulit kayu.

Pelatuk bahkan kerap mencari lubang atau celah kecil yang dipakai serangga untuk masuk ke batang pohon. Dari sana, mereka menggunakan ketukan untuk menemukan bagian kayu yang berongga, tempat larva kemungkinan bersembunyi.

Memanfaatkan suara untuk wilayah dan pasangan

Pada musim semi, pelatuk menjadi lebih aktif dan lebih sering mengeluarkan suara ketukan. Mereka memakai bunyi itu untuk menarik pasangan sekaligus menegaskan wilayah kekuasaan.

Dalam proses itu, pelatuk memilih objek yang menghasilkan resonansi tertentu. Suara ketukan bukan hanya alat mencari makan, tetapi juga sinyal komunikasi yang penting bagi kehidupan mereka.

Burung ini juga mengebor pohon mati atau sekarat untuk membuat sarang. Lubang untuk bersarang biasanya jauh lebih besar dibanding lubang kecil yang dibuat saat mencari makan.

Ada peran penting bagi ekosistem

Perilaku pelatuk memberi manfaat bagi hutan dan lingkungan sekitar. Di hutan, mereka membantu menekan populasi hama serangga pada pohon.

Salah satu contoh yang disebutkan adalah kemampuan pelatuk menghilangkan hingga 85% larva kumbang abu zamrud dari pohon abu yang terinfestasi. Di kawasan perkotaan, lubang-lubang sporadis pada batang dan cabang juga bisa menjadi tanda bahwa sebuah pohon terserang hama atau sedang sekarat.

Tubuh pelatuk memang dirancang untuk memukul

Kemampuan mematuk ribuan kali itu didukung tubuh yang sangat khusus. Pelatuk memiliki cakar melengkung tajam, kaki zygodactyl yang kuat, dan ekor kaku yang membantu menopang tubuh saat memanjat batang pohon.

Paruhnya berbentuk seperti pahat dan digunakan untuk mengupas kulit kayu, menggali kayu, serta mengukir lubang untuk bertengger dan bersarang. Tengkorak dan paruhnya juga dirancang untuk menyerap guncangan dari pukulan berulang.

Saat mematuk, pelatuk bisa mencapai 17 hingga 20 ketukan per detik. Dalam satu rangkaian, mereka biasanya melakukan 10 hingga 30 ketukan sebelum berhenti sejenak.

Mengapa kepalanya tidak cedera

Setiap pukulan menghasilkan benturan yang sangat besar, dengan tengkorak kecil pelatuk menyerap gaya maksimum 1.400 kali gaya gravitasi. Kepalanya juga dapat bergerak dengan kecepatan 24 km/jam saat menghantam kayu.

Meski begitu, pelatuk tidak mengalami gegar otak karena tengkoraknya bekerja seperti helm permanen. Otaknya pas di dalam tengkorak dan tidak mudah bergeser di dalam lapisan cairan di sekitarnya.

Lapisan dalam tengkoraknya berpori, sementara lapisan luarnya padat. Struktur itu membantu menyerap dan menyebarkan energi benturan agar tidak langsung sampai ke otak.

Lidah pelatuk juga ikut melindungi kepala. Lidah yang panjang, bahkan bisa mencapai sepertiga panjang tubuhnya, dapat ditarik kembali hingga melilit dan membentuk semacam sabuk pengaman di sekitar jaringan saraf.

Paruhnya pun ikut meredam dampak. Bentuknya yang tajam dan padat membantu menyalurkan kekuatan pukulan ke seluruh tubuh, bukan menumpuknya di kepala saja.

Dengan kombinasi itu, burung pelatuk bisa mematuk pohon keras berkali-kali setiap hari sambil tetap berburu makanan, membangun sarang, dan menjalankan perannya di alam. Perilaku yang terdengar ekstrem ini justru menjadi hasil dari desain tubuh yang sangat presisi.

Source: www.idntimes.com
Terbaru