Cuaca panas yang belakangan terasa di banyak wilayah Indonesia bukan hanya soal suhu udara luar. Di dalam rumah, panas bisa bertahan lebih lama karena beberapa bagian bangunan menyerap dan menyimpannya, lalu melepaskannya kembali ke ruangan.
Akibatnya, rumah bisa tetap gerah meski kipas angin atau pendingin ruangan sudah menyala. Pada kondisi terik, ada tiga titik yang paling sering menjadi jalur utama masuknya panas, yaitu atap, dinding yang kena matahari langsung, dan jendela kaca.
Atap jadi jalur terpanas
Atap menerima paparan sinar matahari paling lama karena berada di bagian paling atas rumah. Permukaannya menyerap panas langsung sejak pagi hingga sore, lalu panas itu merambat ke ruang di bawahnya.
United States Department of Energy menyebut panas yang diserap atap dapat meningkatkan suhu bagian dalam rumah. Karena itu, ruangan di lantai atas atau tepat di bawah atap sering terasa lebih gerah dibanding area lain.
Warna atap ikut menentukan besar kecilnya panas yang masuk. Atap berwarna gelap seperti hitam, abu-abu tua, atau cokelat tua cenderung menyerap lebih banyak panas dibanding warna terang seperti putih atau abu-abu muda.
Jenis material juga berpengaruh besar. Atap aspal dan logam tanpa lapisan pemantul panas dapat menjadi sangat panas saat terkena sinar matahari langsung.
Sebaliknya, atap terang atau material yang dirancang untuk memantulkan panas, seperti cool roof, membantu menjaga suhu dalam rumah tetap lebih sejuk. Kombinasi warna dan material ini menjadi faktor penting saat cuaca terik berlangsung lama.
Dinding yang menghadap matahari ikut menyimpan panas
Selain atap, dinding yang terkena sinar matahari langsung juga dapat menyerap panas dalam jumlah besar. Kondisi ini biasanya lebih terasa pada dinding yang menghadap ke arah datangnya matahari pada siang hingga sore hari.
YourHome, situs panduan rumah hemat energi milik Pemerintah Australia, menyebut dinding berbahan bata, beton, atau batu mampu menyimpan panas selama siang hari. Panas itu kemudian dilepaskan perlahan, sehingga rumah masih terasa gerah meski matahari sudah terbenam.
Karakter material dinding seperti ini membuat suhu dalam rumah sulit turun cepat setelah sore. Karena itu, penggunaan insulasi atau pelapis dinding yang tepat menjadi langkah penting untuk mengurangi perpindahan panas dari luar ke dalam rumah.
Insulasi berbahan fiberglass, wol mineral, atau busa kaku dapat membantu menghambat panas masuk. Dengan perlindungan itu, dinding tidak terlalu mudah berubah menjadi penyimpan panas saat cuaca panas berlangsung sepanjang hari.
Jendela kaca membuat panas lebih mudah masuk
Jendela kaca juga menjadi sumber panas yang sering luput diperhatikan. Saat terkena sinar matahari langsung, cahaya dan panas dapat menembus kaca dengan mudah lalu masuk ke dalam rumah.
U.S. Department of Energy menyebut sekitar 25–30 persen panas yang memengaruhi kebutuhan pendinginan dan pemanasan rumah berkaitan dengan perpindahan panas melalui jendela. Setelah masuk, panas itu diserap oleh lantai, dinding, dan furnitur, lalu dipancarkan kembali ke ruangan.
Itulah sebabnya ruang dengan banyak jendela kaca tanpa pelindung biasanya terasa lebih panas pada siang hari. Dalam kondisi seperti ini, suhu ruangan bisa naik cepat meski ventilasi tetap terbuka.
Penggunaan kaca low-e, tirai, atau peneduh jendela dapat membantu menahan panas masuk. Langkah sederhana itu penting terutama di rumah yang mendapat paparan matahari langsung dalam waktu lama.
BMKG sebelumnya menjelaskan puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, sehingga cuaca panas masih berpotensi dirasakan di berbagai daerah. Dalam situasi seperti ini, mengenali bagian rumah yang paling menyerap panas menjadi langkah awal untuk menjaga ruangan tetap lebih nyaman.
Source: www.idntimes.com






