Para ilmuwan baru saja memperkenalkan kecoak “cyborg” yang bisa menyelam dan bertahan di bawah air hingga tiga jam. Temuan ini membuka peluang penggunaan serangga robotik untuk menjangkau area yang terlalu berbahaya atau sulit diakses manusia, terutama lokasi banjir dan ruang sempit seperti pipa.
Dalam studi yang terbit di Nature Communications, tim peneliti memakai kecoak hissing Madagascar, salah satu spesies kecoak terbesar di dunia. Serangga itu dipasangi “baju selam” kecil yang terdiri dari tabung oksigen dan cangkang pelindung.
Tabung oksigen tersebut bekerja seperti regulator pada alat selam dan ditempelkan ke spirakel toraks, yaitu lubang pernapasan pada tubuh kecoak. Dengan konfigurasi ini, kecoak darat itu tetap bisa bertahan dan beroperasi di lingkungan miskin oksigen seperti bawah air.
Para peneliti menyebut pendekatan itu mengubah kecoak menjadi robot cyborg amfibi yang dapat bergerak di dua lingkungan sekaligus, darat dan air. Kemampuan itu menjadi penting karena banyak medan darurat tidak bisa dijelajahi langsung oleh tim penyelamat.
Ukuran tubuh yang kecil dan kebutuhan energi yang rendah membuat serangga ini dinilai cocok untuk misi pencarian di ruang terbatas. Tim peneliti menyoroti potensi penggunaannya di dalam pipa, saluran sempit, dan area terdampak bencana.
Cockroach juga dipilih karena dianggap sangat tangguh. Kecoak hissing Madagascar dapat tumbuh hingga sekitar 7,5 sentimeter, kira-kira sepanjang jari orang dewasa, dan bisa hidup hingga lima tahun.
Hirotaka Sato, penulis senior studi sekaligus profesor di School of Mechanical and Aerospace Engineering, Nanyang Technological University, Singapura, mengatakan lokasi bencana seperti area banjir sering kali sulit dan berbahaya bagi manusia. Kondisi itu menjadi lebih rumit ketika jalan dan akses lain tertutup air serta puing-puing.
Sato menambahkan bahwa memperluas kemampuan operasi serangga cyborg hingga bisa bergerak di bawah air dapat membantu misi pencarian dan penyelamatan. Dalam pandangan tim, platform ini memberi cara baru untuk menjangkau ruang yang tidak aman bagi manusia.
Meski fokus awalnya pada kecoak, para peneliti menilai teknologi serupa juga berpeluang diterapkan pada serangga lain. Locust dan kumbang disebut sebagai kandidat yang bisa menjadi sasaran pengembangan berikutnya.
Eksperimen ini menempatkan kecoak bukan sekadar sebagai hewan uji yang aneh, tetapi sebagai platform bergerak berbiaya energi rendah. Dengan kombinasi cangkang pelindung dan suplai oksigen, serangga itu dapat menjalankan fungsi dasar di air tanpa kehilangan kemampuan berpindah.
Bagi dunia robotika biologis, pendekatan ini menunjukkan bagaimana organisme hidup bisa dipadukan dengan perangkat sederhana untuk melampaui batas lingkungan alaminya. Fokusnya bukan menciptakan mesin besar, melainkan memanfaatkan ketahanan serangga untuk membantu pencarian di tempat yang terlalu sempit, tergenang, atau penuh hambatan.







