NASA Gelontorkan Rp 9,7 T untuk Rumah Manusia di Bulan, Misi Permanen Dimulai

Author: Qoo Media

NASA kembali mengakselerasi ambisi membangun pangkalan manusia di Bulan dengan target hunian permanen mulai 2032. Dalam pembaruan terbarunya, badan antariksa Amerika Serikat itu mengungkap rangkaian teknologi, tahapan misi, dan pendanaan baru yang disiapkan untuk mewujudkan rencana tersebut.

Proyek ini tidak hanya berfokus pada pendaratan astronaut, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur jangka panjang di dekat kutub selatan Bulan. Wilayah itu dipilih karena dinilai penting secara ilmiah, meski menawarkan tantangan yang jauh lebih berat dibanding lokasi pendaratan Bulan sebelumnya.

Pendekatan Bertahap ala Program Apollo

Administrator NASA Jared Isaacman mengatakan strategi yang dipakai mengikuti pola bertahap seperti era Apollo. Pendekatan itu menempatkan pengulangan misi dan pengujian teknologi sebagai fondasi sebelum melangkah ke pembangunan yang lebih besar.

Isaacman menegaskan NASA tidak ingin terburu-buru menuju operasi permanen di Bulan. Ia menyebut perjalanan ke kutub selatan Bulan jauh lebih menantang karena suhu ekstrem, periode gelap yang panjang, debu Bulan yang abrasif, dan medan yang terjal.

Fase Awal Fokus pada Robot dan Pengujian

Pada tahap pertama, NASA menempatkan misi robotik sebagai prioritas utama untuk memastikan teknologi dasar benar-benar siap. Carlos García-Galán, manajer program pangkalan Bulan NASA, menjelaskan fase ini memiliki tiga tujuan utama.

Tujuan itu mencakup memastikan misi ke Bulan bisa dilakukan secara konsisten, mengumpulkan data ilmiah lebih rinci tentang kutub selatan, dan menyiapkan teknologi pendukung bagi infrastruktur permanen. Untuk itu, NASA akan mengirim robot, kendaraan otonom, drone, dan perangkat pendarat guna memetakan wilayah serta mengenali potensi bahaya.

Langkah ini penting karena NASA menilai pengetahuan tentang Bulan masih belum cukup untuk mendukung kehidupan manusia dalam jangka panjang. Data dari perangkat robotik akan dipakai sebagai dasar sebelum astronaut diturunkan ke permukaan.

Pendarat Bulan Jadi Kunci Logistik dan Awak

Salah satu teknologi paling penting dalam program ini adalah pendarat Bulan. Pada awalnya, wahana itu akan membawa logistik dan muatan ilmiah, lalu pada tahap berikutnya dipakai untuk mengantar astronaut dari pesawat Orion ke permukaan Bulan.

NASA juga menyoroti perkembangan pendarat kargo yang dikembangkan Blue Origin. Menurut García-Galán, wahana tersebut hampir selesai setelah lolos pengujian lingkungan, meski pengirimannya ke Bulan masih bergantung pada roket angkut berat New Glenn.

Proyek itu sempat terganggu setelah lokasi peluncuran di Florida rusak akibat ledakan roket New Glenn saat uji coba mesin statis pada Mei lalu. NASA masih memantau proses perbaikan fasilitas itu, sambil menyiapkan opsi lain jika jadwal misi terganggu.

Rover Promise Masuk Pertimbangan

NASA juga membuka kemungkinan mengirim robot penjelajah Promise ke Bulan. Promise adalah singkatan dari Polar Rover for Observation, Mapping, and In-Situ Exploration, dan saat ini berada di Jet Propulsion Laboratory NASA sebagai wahana teknik untuk menguji sistem serta memecahkan persoalan teknis.

Robot ini disebut memiliki kemampuan eksplorasi dan penelitian yang sekelas dengan rover Perseverance dan Curiosity di Mars. Isaacman mengatakan NASA sedang mempertimbangkan serius penggunaan Promise di Bulan karena kemampuan ilmiahnya dinilai sangat berguna.

“Ini akan menjadi kemampuan yang luar biasa,” kata Isaacman, sembari menyebut studi kelayakan masih berjalan. Ia juga menambahkan bahwa proyek luar angkasa memang berada di wilayah yang nyaris mustahil, sehingga peluang seperti itu patut dicoba.

Dana Hampir US$ 600 Juta untuk Tiga Perusahaan

NASA turut mengumumkan kontrak baru senilai hampir US$ 600 juta atau Rp 9,72 triliun kepada tiga perusahaan antariksa swasta. Astrobotic, Firefly Aerospace, dan Intuitive Machines akan mengembangkan pendarat Bulan yang dapat membawa muatan ilmiah ke permukaan.

Kolaborasi ini menunjukkan peran sektor swasta yang makin besar dalam strategi eksplorasi Bulan milik NASA. Badan antariksa itu menempatkan mitra komersial sebagai bagian penting dari upaya membangun kemampuan logistik dan teknologi yang dibutuhkan untuk misi jangka panjang.

Tiga Fase Menuju Kehadiran Permanen

NASA membagi pembangunan pangkalan Bulan menjadi tiga fase besar. Fase pertama berlangsung hingga 2029 dan berfokus pada misi robotik untuk membuktikan bahwa seluruh teknologi dan kendaraan yang dibutuhkan benar-benar dapat bekerja di lingkungan Bulan.

Dalam fase ini, NASA menargetkan 25 peluncuran roket dan 21 pendaratan di Bulan. Tahap tersebut juga menjadi ajang pembuktian bagi perusahaan swasta yang memasok perangkat keras dengan investasi bernilai miliaran dolar.

Fase kedua dijadwalkan dimulai pada 2029. Pada tahap ini, NASA akan mulai merakit infrastruktur semi permanen dan menjalankan operasi logistik awal, termasuk sistem tenaga tambahan berbasis surya dan nuklir, jaringan komunikasi yang lebih luas, rover generasi baru, kemungkinan penggunaan drone, serta pengiriman kargo hingga 60 ton ke permukaan Bulan.

NASA memperkirakan fase kedua memerlukan 27 peluncuran roket dan 24 pendaratan di Bulan. Setelah itu, fase ketiga dijadwalkan dimulai pada 2032 sebagai tahap saat manusia ditargetkan hadir secara permanen di Bulan.

Hunian Semi Permanen dan Operasi Bergilir

Pada fase akhir, astronaut akan tinggal dan bekerja di permukaan Bulan secara bergantian, dengan pola yang disebut mirip operasi Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS. Tahap ini akan mencakup pembangunan modul hunian semi permanen, reaktor nuklir sebagai sumber energi utama, rover dengan sistem pendukung kehidupan untuk perjalanan jarak jauh, serta pengiriman awak dan logistik secara rutin.

NASA memperkirakan fase ketiga memerlukan 29 peluncuran roket dan 28 pendaratan di Bulan. Skema ini menunjukkan bahwa kehadiran manusia di Bulan tidak dipandang sebagai misi singkat, melainkan sebagai sistem operasi berkelanjutan yang harus ditopang banyak lapisan teknologi.

Artemis III Jadi Pengujian Penting

Sebelum masuk ke fase yang lebih besar, NASA masih menyiapkan misi Artemis III sebagai langkah lanjutan dalam program eksplorasi Bulan. Misi itu dijadwalkan berlangsung tahun depan dan akan melibatkan empat astronaut yang menguji satu atau dua pendarat Bulan dari SpaceX dan Blue Origin di orbit rendah Bumi.

Misi tersebut belum akan menurunkan astronaut ke permukaan Bulan, tetapi akan berlangsung lebih lama dibanding Artemis II. Fokusnya adalah menguji sistem penting pada wahana Orion, termasuk pendukung kehidupan, tenaga, propulsi, dan komponen vital lainnya.

NASA sebelumnya menganggarkan sekitar US$ 20 miliar untuk pembangunan pangkalan Bulan. Sejumlah pakar menilai nilai itu bisa bertambah seiring perkembangan proyek, sementara Isaacman menilai langkah yang ditempuh NASA merupakan kelanjutan logis dari eksplorasi luar angkasa.

Ia menekankan bahwa Bulan menjadi lokasi strategis untuk menguji teknologi sebelum manusia melangkah lebih jauh. Menurut NASA, kedekatan Bulan dengan Bumi menjadikannya tempat paling masuk akal untuk membangun kemampuan operasi luar angkasa jangka panjang.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru