Burung camar-kejar pomarin punya reputasi yang nyaris seperti bajak laut. Dari jauh, ia memang tampak seperti camar biasa, tetapi tubuhnya lebih besar, lebih kekar, dan perilakunya jauh lebih agresif saat berburu makanan.
Spesies laut ini dikenal gemar mengejar burung lain yang lebih kecil lalu merebut hasil tangkapannya. Karena kebiasaan itu, camar-kejar pomarin atau pomarine skua kerap dijuluki perompak laut.
Mengenal jenisnya
Camar-kejar pomarin memiliki nama ilmiah Stercorarius pomarinus. Di Amerika, burung ini disebut pomarine jaeger, sementara istilah jaeger dipakai untuk kelompok camar-kejar berukuran kecil.
Kelompok itu juga mencakup camar-kejar kecil atau long-tailed jaeger serta camar-kejar arktika atau parasitic jaeger. Di antara semuanya, camar-kejar pomarin menjadi jenis jaeger terbesar.
Mengutip Birds of the World, panjang tubuhnya mencapai 46—51 sentimeter dengan rentang sayap 1,25—1,38 meter. Betina juga lebih berat, dengan bobot sekitar 750 gram, sedangkan jantan rata-rata sekitar 650 gram.
Sulit dibedakan di alam liar
Secara tampilan, camar-kejar pomarin memang mirip burung camar. Namun, tubuhnya lebih kokoh, paruhnya lebih tebal, dan warna bulunya cenderung kecokelatan.
Warna itu membuatnya sulit dibedakan dari jaeger lain. Burung ini punya dua versi warna, yakni bentuk terang dengan kepala hitam dan dada putih krem, serta bentuk gelap yang cokelat muram seragam.
Keduanya sama-sama memiliki bercak putih khas di sayap. Ciri itu sering menjadi petunjuk penting bagi pengamat burung di lapangan.
Ekor dengan rumbai khas
Salah satu ciri paling unik dari camar-kejar pomarin ada pada dua bulu ekor panjang di bagian tengah. Menurut BioDB, bulu itu melengkung 90 derajat dan berujung tumpul seperti sendok.
Tidak ada burung lain yang memiliki bentuk bulu ekor seperti ini. Karena itu, rumbai ekor sering menjadi tanda identifikasi yang paling mudah dikenali ketika burung ini sedang terlihat jelas.
Namun, ciri tersebut tidak selalu muncul. Bulu unik itu hampir selalu hilang setelah burung meninggalkan tempat berbiaknya di Arktik.
Hidup di laut lepas
Camar-kejar pomarin adalah burung laut pelagis. Artinya, ia menghabiskan hidup di laut lepas saat musim dingin dan jarang berada jauh di daratan.
Menurut Oiseaux Birds, wilayah berbiaknya berada di tundra Rusia bagian utara, Alaska bagian utara, dan Kanada bagian utara. Saat musim dingin, burung ini menyebar di laut dan dekat pantai berbagai benua di antara Garis Balik Utara dan khatulistiwa, termasuk di sekitar Australia.
Indonesia juga termasuk jalur yang kerap dilalui burung ini. Bahkan, camar-kejar pomarin menjadi jenis camar-kejar yang paling sering terlihat di lautan Indonesia saat bermigrasi.
Perompak yang sangat terampil
Strategi makan camar-kejar pomarin sangat berbeda dari kebanyakan burung laut. Alih-alih berburu sendiri, ia lebih sering mencuri ikan dari burung laut lain yang sudah lebih dulu menangkap mangsa.
Burung camar tiga jari dari marga Rissa dan burung dara-laut menjadi sasaran yang sering diserang. Camar-kejar pomarin lalu melakukan akrobat terbang, terjun dari ketinggian, dan berbelok tajam untuk membuat korbannya panik.
Saat mangsa jatuh, burung ini langsung menangkapnya di udara. Cara berburu seperti itu memang terlihat brutal, tetapi membutuhkan tenaga besar dan keterampilan terbang yang sangat tinggi.
Menu yang berubah saat musim kawin
Di musim dingin, camar-kejar pomarin bebas mencuri ikan dari burung lain. Tetapi saat berada di tempat berbiak, pola makannya berubah drastis.
Di musim kawin, burung ini hampir hanya makan leming atau tikus-kutub. Hewan pengerat kecil itu mengisi sekitar 90 persen makanannya, sementara sisanya kadang berupa telur burung.
Sangat bergantung pada leming
Keberhasilan reproduksi camar-kejar pomarin sangat bergantung pada populasi leming. Kondisi bersarang yang ideal terjadi di tundra basah dataran rendah dekat pantai Arktik, terutama saat populasi leming meledak.
Karena itu, keberhasilan berkembang biak burung ini hanya terjadi sekitar sekali dalam tiga atau empat tahun. Jika leming langka, camar-kejar pomarin memilih tidak kawin dan kembali ke laut.
Source: www.idntimes.com






