Israel sedang membawa sistem pertahanan laser Iron Beam ke tahap yang lebih jauh, dari senjata darat menjadi platform udara. Langkah ini penting karena membuka cara baru untuk menghadang drone, rudal, dan mortir dengan biaya yang jauh lebih rendah dibanding sistem pertahanan udara berbasis rudal.
Iron Beam sudah beroperasi sejak 2024 sebagai solusi berbasis darat untuk melindungi Israel dari serangan udara. Sistem high-energy laser 100 kilowatt itu dibuat oleh Elbit Systems dan Rafael, lalu mencatat intersepsi operasional pertamanya dalam perang Israel-Hamas yang masih berlangsung.
Dari darat ke udara
Kini, Elbit Systems menyebut perusahaan telah mendapat kontrak untuk menerapkan sistem berbasis laser itu di berbagai platform udara. Pada presentasi hasil tahunan, CEO perusahaan mengatakan bahwa langkah ini akan memperluas penggunaan Iron Beam ke pesawat dan helikopter.
Gagasan itu sebenarnya sudah diuji sebelumnya. Pada 2021, teknologi ini berhasil didemonstrasikan dengan integrasi pada pesawat turboprop Cessna bermesin tunggal dan mampu mencegat beberapa UAV selama pengujian.
Dalam bentuk saat ini, Iron Beam dipasang dalam unit bergerak seukuran kontainer. Model ini dirancang untuk menghadapi gelombang drone murah, termasuk yang dibuat secara cepat atau bahkan bersifat improvisasi, yang kini semakin banyak digunakan dalam konflik modern.
Kenapa laser ini menarik
Nilai jual utama Iron Beam ada pada biaya operasionalnya yang lebih rendah dibanding pertahanan udara tradisional. Sistem konvensional biasanya mengandalkan rudal atau meriam berkecepatan tinggi, yang jauh lebih mahal untuk dipakai melawan drone berbiaya rendah.
Masalah utama pada laser berbasis darat adalah gangguan atmosfer. Suhu udara dan kerapatan udara dapat memengaruhi laser dengan bukaan besar, sehingga daya serangnya menurun saat menembus jarak tertentu.
Iron Beam mengatasi hal itu dengan pendekatan berbeda. Alih-alih memakai satu laser besar, sistem ini menggunakan ratusan sinar laser seukuran koin yang diarahkan oleh sistem penargetan termal.
Saat sinar-sinar itu bergerak ke target, sistem akan mencari tanda hit positif. Dalam hitungan detik, seluruh sinar kecil dapat dialihkan untuk berkumpul pada titik yang sama, memusatkan energi hingga target hancur.
Apa untungnya dipasang di pesawat
Elbit dan Rafael telah memasarkan ide bahwa Iron Beam bisa dipasang pada jet tempur F-15 dan helikopter UH-60. Dalam skema itu, laser tidak hanya dipakai untuk mencegat drone, tetapi juga bisa memberi perlindungan mandiri bagi pesawat dari roket dan rudal yang datang.
Pemasangan di pesawat juga memberi keuntungan teknis. Platform udara dapat memperluas jangkauan efektif laser dan menurunkan kebutuhan daya untuk menghasilkan efek yang setara dengan sistem darat.
Selain itu, versi udara bisa menghindari sejumlah kendala yang muncul di darat. Itu membuat konsep laser tempur menjadi lebih fleksibel untuk misi pertahanan yang bergerak dan cepat berubah.
Bagaimana dengan negara lain
Pengembangan senjata laser bertenaga tinggi tidak hanya terjadi di Israel. Angkatan Laut AS pernah menguji sistem HELIOS buatan Lockheed Martin di atas USS Preble, sementara Angkatan Laut Kerajaan Inggris baru-baru ini mengumumkan kesepakatan untuk melengkapi setiap kapal perusak Type 45 dengan senjata laser DragonFire.
Di Amerika Serikat, upaya menuju senjata laser udara juga sudah berlangsung lama. Contoh paling terkenal adalah Boeing YAL-1, pesawat uji berbasis Boeing 747-400 yang dipasangi laser kimia kelas megawatt untuk mencegat rudal balistik taktis.
Laser itu pertama kali diuji tembak pada 2007 dan berhasil menghancurkan dua rudal uji pada 2010. Namun, biaya pesawat dan sistem lasernya yang sangat tinggi membuat pendanaan akhirnya dipangkas dan program itu dihentikan.
Angkatan Udara AS juga pernah menggarap program Self-Protect High Energy Laser Demonstrator atau SHiELD. Program itu sempat menjalani beberapa pengujian, tetapi ditutup tanpa mencapai target operasional.
Saat ini, perhatian Amerika tertuju pada program Next Generation Air Dominance atau NGAD. Jet F-47 yang baru diungkap disebut akan membawa laser pertahanan berdaya tinggi untuk menghancurkan rudal yang mendekat, dengan mesin yang diperkirakan menghasilkan daya listrik beberapa ratus kilowatt.
