Selat Sunda kembali menjadi sorotan setelah dua tanda alam muncul hampir bersamaan, yaitu gempa tektonik dan erupsi Gunung Anak Krakatau. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar di tengah publik: apakah keduanya saling berkaitan atau hanya terjadi berdekatan di kawasan yang sama-sama aktif secara geologi.
Gempa tercatat lebih dulu oleh BMKG sebagai gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,5 pada kedalaman 43 kilometer. Getarannya terasa hingga Banten dan sebagian wilayah lain, sementara beberapa jam kemudian Gunung Anak Krakatau melontarkan abu vulkanik dari kawahnya.
Gempa terjadi di zona transisi subduksi
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan pusat gempa berada di sekitar 62 kilometer barat daya Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. Ia menegaskan lokasi gempa tidak persis berada di bidang kontak dua lempeng, melainkan di zona transisi subduksi yang berada sedikit lebih ke utara.
Menurut Wijayanto, mekanisme gempa itu adalah pergerakan naik atau thrust fault dengan kedalaman pusat gempa 43 kilometer. Hasil pemodelan BMKG juga menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami dan hingga pukul 03.05 WIB belum terdeteksi gempa susulan.
Guncangan di wilayah terdekat pun tergolong moderat, dengan intensitas IV MMI di Sumur dan III MMI di Bogor. Dampaknya bisa dirasakan seperti jendela berderik atau benda pecah ringan, tetapi belum sampai menimbulkan kerusakan bangunan besar.
Anak Krakatau kembali erupsi
Sekitar 4 jam 30 menit setelah gempa, pos pengamatan Gunung Api Anak Krakatau melaporkan erupsi pada pukul 07.11 WIB. Kolom abu teramati setinggi sekitar 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut, dengan warna kelabu hingga hitam dan arah sebaran condong ke barat laut.
Rekaman seismogram mencatat amplitudo maksimum 44,4 milimeter dengan durasi sekitar 31 detik. Hingga kini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus level III atau siaga, sehingga masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekat dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
BMKG dan PVMBG sama-sama tidak melihat hubungan langsung
Ketua Tim Kerja Gunung Api di PVMBG, Heruningtyas Desi Purnamasari, menjelaskan peningkatan aktivitas erupsi bukan dipicu langsung oleh gempa tektonik beberapa jam sebelumnya. Ia menyebut ada peningkatan aktivitas dangkal yang ditandai oleh naiknya gempa low frequency dan gempa hembusan.
“Bukan karena motion gempa, tapi ada peningkatan aktivitas terutama aktivitas dangkal,” ujar Heruningtyas. Ia menambahkan bahwa erupsi itu merupakan bagian dari dinamika internal magma dan sistem magmanya sendiri.
Wijayanto dari BMKG juga menyampaikan tidak ada indikasi keterkaitan instrumental antara gempa dan erupsi. Saat ditanya apakah aktivitas vulkanik itu memengaruhi rekaman seismik BMKG, ia menyebut tidak ada dampak intensitas yang tercatat pada peralatan lembaganya.
Empat langkah yang perlu diperhatikan warga
Ahli kegempaan sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, Daryono, menilai situasi di Selat Sunda perlu dihadapi dengan disiplin mitigasi. Ia menyebut ada empat langkah utama yang penting diperhatikan masyarakat di sekitar wilayah terdampak.
Pertama, patuhi zona larangan akses di radius 3 kilometer dari kawah aktif. Kedua, siapkan jalur evakuasi mandiri di kawasan pesisir jika muncul gempa kuat atau anomali air laut. Ketiga, lindungi diri dari abu vulkanik dengan menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah serta menjaga air minum tetap aman. Keempat, saring informasi melalui kanal resmi agar tidak terjebak kabar simpang siur.
Daryono menekankan warga pesisir perlu mengenali jalur menuju dataran tinggi dan menyepakati titik kumpul bersama keluarga atau komunitas. Ia juga mengingatkan bahwa abu vulkanik dapat mengganggu pernapasan dan mata, sehingga perlindungan dasar harus segera dilakukan bila sebaran abu meluas.
Apa kata sains soal gempa dan erupsi
Secara ilmiah, hubungan gempa tektonik dan letusan gunung api memang dikenal mungkin terjadi, tetapi tidak selalu langsung. Kajian di jurnal Nature Communications pada 2021 menyebut pemicuan letusan oleh gempa sangat bergantung pada kondisi tiap gunung api, termasuk viskositas magma, sistem gas, dan sistem hidrotermal yang aktif.
Studi itu juga menegaskan bahwa proses tersebut tidak bersifat universal maupun tetap. Artinya, gempa besar belum tentu memicu erupsi jika gunung api belum berada dalam kondisi kritis, sementara di sisi lain gunung yang memang sudah mendekati fase letus bisa bereaksi terhadap gangguan seismik.
Dalam kasus Selat Sunda, Heruningtyas menyebut aktivitas Anak Krakatau sebenarnya telah memasuki fase erupsi sejak 2 Juli karena sebelumnya terjadi peningkatan kegempaan. Karena itu, gempa dini hari dan erupsi pagi hari belum bisa dianggap sebagai satu rangkaian sebab-akibat yang terbukti langsung.
Yang jelas, dua tanda alam itu kembali menunjukkan Selat Sunda tetap berada di kawasan yang dinamis dan berisiko tinggi. Bagi warga Banten, Lampung, dan sekitarnya, kewaspadaan tetap menjadi langkah paling masuk akal, mulai dari memantau informasi resmi, menjauhi radius bahaya, hingga memastikan kesiapsiagaan rumah dan keluarga saat bumi di bawah dan gunung di tengah selat kembali menunjukkan aktivitasnya.
