Meteor Melintas dari Bekasi ke Jawa Tengah, BRIN Ungkap Kenapa Warnanya Berubah

Author: Qoo Media

Meteor yang terlihat melintas dari langit Bekasi pada Senin malam bukan peristiwa biasa yang harus membuat panik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan, objek itu pertama kali terdeteksi di atas Laut Jawa sebelum tampak dari Bekasi sekitar pukul 21.22 WIB.

Penjelasan BRIN menegaskan bahwa cahaya terang, perbedaan warna, hingga dentuman yang terdengar sebagian warga merupakan bagian dari proses meteor memasuki atmosfer Bumi. Fenomena ini terjadi ketika batuan antariksa bergerak sangat cepat dan mengalami gesekan hebat dengan udara.

Lintasan Meteor dari Laut Jawa ke Arah Tenggara

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menyebut meteor tersebut masih berada di ketinggian tinggi saat mulai terlihat dari daratan. Karena itu, objeknya tampak kecil namun bercahaya putih, meski termasuk fenomena berukuran besar yang memasuki atmosfer Bumi.

Dalam keterangan yang dikutip dari BRIN oleh Bisnis.com, Thomas menjelaskan bahwa batuan antariksa itu berasal dari objek yang mengorbit Matahari. Saat lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut masuk atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi dan langsung berpijar akibat gesekan udara.

BRIN menganalisis lintasan meteor itu bergerak ke arah tenggara melintasi sebagian wilayah Pulau Jawa. Ketika memasuki atmosfer yang makin rapat, cahaya meteor menjadi semakin terang dan perubahan warna mulai terlihat dari sejumlah lokasi pengamatan.

Lokasi Pengamatan Waktu Warna/Ciri yang Terlihat
Bekasi sekitar 21.22 WIB Objek bercahaya putih, relatif kecil
Majalengka tidak disebutkan Berwarna biru
Nagreg sekitar 21.23.37 WIB Cahaya terang
Tasikmalaya tidak disebutkan Sesekali menerangi awan
Yogyakarta sekitar 21.23.57 WIB Cahaya hijau sangat terang

Kenapa Ada Dentuman dan Warna Berbeda

Di sejumlah wilayah Jawa Barat bagian timur, termasuk Cirebon dan Kuningan, warga melaporkan mendengar suara dentuman beberapa saat setelah meteor melintas. Thomas menjelaskan bahwa suara itu bukan ledakan di permukaan, melainkan gelombang kejut atau sonic boom yang terbentuk saat meteor melaju jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara.

Suara dentuman baru terdengar beberapa saat kemudian karena gelombang suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan Bumi. Menurut Thomas, hal serupa juga menjelaskan mengapa cahaya dan suara tidak muncul bersamaan ketika meteor melintas di langit.

Variasi warna pada meteor juga dijelaskan BRIN sebagai fenomena yang umum terjadi. Warna tersebut dipengaruhi komposisi mineral batuan antariksa dan kondisi atmosfer yang dilaluinya saat terbakar.

Thomas mengatakan warna hijau yang terlihat di Yogyakarta berasal dari unsur magnesium dalam batuan antariksa. Ia menambahkan bahwa setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya berbeda ketika dipanaskan, termasuk magnesium atau nikel yang dapat memunculkan cahaya khas saat terbakar pada suhu sangat tinggi.

Meteor Besar, Tapi Atmosfer Tetap Jadi Pelindung

Dari rangkaian pengamatan yang dihimpun, BRIN memperkirakan meteor itu terus bergerak ke arah tenggara hingga akhirnya kehilangan kecepatan. Kemungkinannya berakhir di Samudera Hindia, di selatan Jawa Timur atau Bali.

Thomas juga menegaskan bahwa meteor seperti ini tidak tergolong luar biasa dalam skala astronomi. Setiap hari Bumi menerima jutaan batuan antariksa dalam berbagai ukuran, tetapi sebagian besar berukuran sangat kecil dan habis terbakar di atmosfer.

Fenomena yang terlihat sebagai bintang jatuh itu, kata Thomas, menunjukkan peran atmosfer Bumi sebagai pelindung alami yang sangat efektif. Karena sebagian besar meteoroid habis terbakar sebelum mencapai permukaan, masyarakat tidak perlu panik saat melihat kejadian serupa.

“Fenomena ini merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir. Yang terpenting adalah memahami fenomenanya secara ilmiah agar tidak mudah terpengaruh berbagai informasi yang tidak benar,” pungkas Thomas.

Source: teknologi.bisnis.com
Terbaru