Dari Hutan Tropis ke Benua Es, Jejak Perubahan Antartika Terungkap

Author: Qoo Media

Antartika yang dikenal hari ini sebagai benua es ternyata pernah menjadi wilayah yang hangat dan dipenuhi hutan tropis. Perubahan besar itu berlangsung sangat lama, hingga akhirnya daratan di kutub selatan ini membeku dan tertutup lapisan es tebal.

Kisah tersebut terungkap lewat jejak fosil tumbuhan kuno yang ditemukan di kawasan Antartika. Menurut Discovering Antarctica dan laporan yang dikutip www.suara.com, bukti itu membantu menjelaskan bagaimana benua yang dulu hijau bisa berubah menjadi dunia beku.

Jejak Hutan Purba di Balik Es

Salah satu petunjuk paling penting datang dari penemuan fosil pohon paku biji kuno bernama Glossopteris. Temuan itu dikumpulkan oleh Kapten Scott dan timnya pada perjalanan tahun 1912 di dekat Gletser Beardmore, Pegunungan Transantartika.

Fosil tersebut menjadi bukti kuat bahwa Antartika pernah memiliki iklim yang jauh lebih hangat. Menariknya, fosil serupa juga ditemukan di Amerika Selatan, Afrika, dan Australia, yang ikut memperkuat teori pergeseran benua Alfred Wegener.

Temuan Lokasi Makna Ilmiah
Fosil Glossopteris Gletser Beardmore, Pegunungan Transantartika Menunjukkan Antartika pernah hangat dan ditumbuhi vegetasi
Fosil identik Amerika Selatan, Afrika, Australia Mendukung teori pergeseran benua Alfred Wegener

Dari Gondwana ke Kutub Selatan

Jika ditarik mundur sekitar 200 juta tahun lalu, kerak benua Antartika belum berada di posisi kutub yang dingin. Daratan itu masih menyatu dengan benua-benua selatan lain dalam super benua Gondwana.

Seiring aktivitas tektonik, Gondwana perlahan pecah menjadi beberapa daratan baru. Antartika kemudian terpisah dan bergerak menjauhi wilayah lain hingga mencapai posisinya di kutub selatan saat ini.

Perubahan ini berlangsung selama jutaan tahun dan mengubah konfigurasi tektonik secara besar-besaran. Bahkan, sekitar 450 juta tahun lalu, daratan yang kini membentuk Antartika disebut pernah berada di sekitar garis khatulistiwa.

Gas Rumah Kaca dan Arus Laut yang Mengubah Iklim

Perpindahan posisi geografis memang berpengaruh, tetapi itu bukan satu-satunya penyebab Antartika membeku. Sekitar 100 juta tahun lalu, gas rumah kaca di atmosfer masih tinggi sehingga gletser global belum terbentuk.

Belakangan, penurunan konsentrasi karbon dioksida memicu pendinginan suhu Bumi secara bertahap. Dua peristiwa tektonik besar kemudian mempercepat proses itu, yakni melebaranya laut antara Antartika dan Australia serta terpisahnya Semenanjung Antartika dari Amerika Selatan.

Perubahan tersebut menciptakan Arus Sirkumpolar Antartika yang sangat dingin. Arus ini mengelilingi benua dan bekerja seperti penghalang yang mencegah masuknya air laut hangat ke wilayah pesisir.

Efek Albedo Mempercepat Pembekuan

Studi formasi batuan menunjukkan gletser mulai terbentuk di Antartika sekitar 38 juta tahun lalu. Namun, jejak vegetasi tundra di McMurdo Dry Valleys menunjukkan iklim serupa masih bertahan hingga 14 juta tahun lalu.

Saat es mulai menutupi daratan, muncul mekanisme umpan balik positif yang dikenal sebagai efek albedo. Permukaan putih es memantulkan sebagian besar sinar matahari kembali ke angkasa, sehingga pendinginan berlangsung makin cepat.

Proses itu membuat suhu daratan semakin ekstrem dan memperluas lapisan es. Lembaran es raksasa di Antartika Timur akhirnya mencapai ukuran masif seperti sekarang sejak 13,8 juta tahun yang lalu.

Perubahan Antartika dari hutan tropis menjadi benua beku menunjukkan bahwa iklim Bumi dapat berubah secara drastis dalam skala waktu geologis. Bukti fosil, pergerakan lempeng, arus laut, dan efek pemantulan cahaya bersama-sama menjelaskan mengapa wilayah ini kini menjadi salah satu tempat paling dingin di planet ini.

Source: www.suara.com
Terbaru