Jauh sebelum satelit dan superkomputer dipakai untuk membaca cuaca, para ilmuwan Amerika Serikat pernah melakukan percobaan yang terdengar ekstrem. Pada 1947, sebuah pesawat diterbangkan ke tengah badai dan menjatuhkan sekitar 86 kilogram es kering untuk melihat apakah badai bisa dilemahkan atau diubah arahnya.
Eksperimen itu menjadi bagian dari Project Cirrus, kerja sama General Electric, Naval Research Laboratory, dan Army Signal Corps. Tujuannya sederhana di atas kertas, tetapi sangat berani untuk masanya, yakni menguji apakah cuaca bisa dimodifikasi lewat teknik penyemaian awan.
Awal Dari Gagasan Penyemaian Awan
Ide tersebut berangkat dari temuan Vincent Schaefer pada 1946. Ahli kimia dan meteorologi Amerika itu menemukan bahwa es kering bisa memicu air superdingin berubah menjadi kristal es, lalu memunculkan pertanyaan apakah teknik serupa dapat diterapkan pada badai tropis.
Kesempatan uji coba datang pada Oktober 1947 ketika Badai King bergerak menjauhi Florida menuju Samudra Atlantik. Karena diperkirakan tak lagi mengancam daratan, badai itu dianggap sebagai objek yang ideal untuk eksperimen.
| Fakta Utama | Detail |
|---|---|
| Nama proyek | Project Cirrus |
| Jumlah es kering | Sekitar 86 kilogram |
| Pesawat yang dipakai | B-17 |
| Ketinggian penjatuhan | Sekitar 8.000 meter |
| Objek uji | Badai King |
Sebuah pembom B-17 lalu diterbangkan ke area badai dan menjatuhkan es kering dari ketinggian sekitar 8.000 meter ke dekat pusat badai. Para peneliti ingin melihat apakah penyemaian itu akan mengubah struktur atau jalur badai tersebut.
Badai Berbelok, Warga Langsung Marah
Tak lama setelah penyemaian dilakukan, badai memang tampak melemah. Namun sehari kemudian, kondisinya kembali menguat dan berbelok ke arah barat sebelum menghantam Georgia dan South Carolina, dengan kerugian lebih dari USD 2 juta pada saat itu.
Perubahan arah itu memicu kemarahan warga. Banyak yang menuding eksperimen tersebut sebagai penyebab badai berbalik arah dan menyerang daratan, sehingga gugatan hukum pun diajukan terhadap proyek itu.
Para meteorolog menolak tudingan tersebut. Mereka menunjukkan bahwa badai pada 1906 dan bahkan badai yang terjadi sepekan sebelumnya pernah menempuh lintasan yang hampir identik, sehingga arah Badai King dinilai kemungkinan memang sudah berubah secara alami.
Meski tidak terbukti mengubah arah badai, para ilmuwan tetap melihat ada perubahan pada struktur awan. Vincent Schaefer yang ikut menyaksikan penerbangan itu mengatakan penyemaian menghasilkan wilayah awan salju dan hujan ringan yang sebelumnya tidak ada.
Dalam keterangan yang dikutip inet.detik.com dari IFL Science, Schaefer menyebut operasi itu menghasilkan “wilayah yang memperlihatkan hujan salju dan awan salju yang stabil dengan hujan ringan di daerah yang suhunya di atas titik beku”. Ia menambahkan bahwa awan salju tersebut menutupi area yang cukup luas dan mungkin bertahan cukup lama untuk memengaruhi awan superdingin lainnya.
Namun Schaefer juga mengakui tim tidak berhasil mencapai inti badai karena keterbatasan peralatan navigasi saat itu. Artinya, mereka belum bisa memastikan seberapa besar es kering benar-benar memengaruhi perilaku badai.
Irving Langmuir, fisikawan peraih Nobel yang juga terlibat dalam Project Cirrus, kemudian menyimpulkan bahwa eksperimen itu lebih banyak memunculkan pertanyaan daripada jawaban. Ia mengatakan hal utama yang dipelajari dari penerbangan tersebut adalah bahwa masih sangat banyak hal tentang badai yang belum dipahami.
Project Cirrus akhirnya menghentikan eksperimen penyemaian badai setelah kontroversi itu muncul. Namun, upaya untuk mempelajari cara memengaruhi cuaca tetap berlanjut selama beberapa dekade berikutnya.
Hingga kini, sebagian besar ilmuwan menilai energi badai tropis terlalu besar untuk diubah hanya dengan menjatuhkan es kering. Meski begitu, percobaan 1947 itu tetap dikenang sebagai salah satu yang paling berani sekaligus paling kontroversial dalam sejarah penelitian cuaca.
