Situs Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah telah menarik perhatian sejak penemuan fosil gajah purba jenis Elephas yang ditemukan dalam kondisi nyaris utuh. Temuan fosil yang langka ini bukan hanya menciptakan peluang untuk penelitian lebih lanjut, tetapi juga memicu pengembangan rencana wisata edukasi baru yang menjanjikan. Fosil ini ditemukan oleh warga setempat, dan menurut Koordinator Museum Purbakala Patiayam, Jamin, fosil tersebut akan tetap berada di lokasi aslinya. Rencana pembangunan gazebo di lokasi temuan bertujuan untuk meningkatkan daya tarik wisata.
Keputusan untuk tidak memindahkan fosil menunjukkan keinginan untuk mempertahankan konteks arkeologisnya. Pengunjung akan diberi kesempatan tidak hanya untuk melihat fosil yang tereksplorasi di museum, tetapi juga untuk mengamati posisi aslinya di tempat temuan. Hal ini diyakini akan memberikan pengalaman yang berbeda dan lebih mendalam tentang proses penemuan fosil. Menurut Jamin, lokasi ini terletak dalam posisi strategis yang mendukung pengembangan sebagai destinasi wisata edukatif.
Penemuan fosil Elephas ini merupakan yang pertama di Situs Patiayam, yang sebelumnya lebih dikenal dengan temuan fosil dari spesies Stegodon. Usia fosil Elephas ini diperkirakan antara 300.000 hingga 500.000 tahun. Ini memberikan pengetahuan baru karena sebelumnya, fosil Stegodon yang ditemukan di lokasi ini diperkirakan lebih tua, yaitu antara 750 ribu hingga 1,5 juta tahun. Dengan penemuan ini, sejarah ekskavasi di Patiayam semakin kaya.
Ekskavasi dan Pengembangan Edukasi
Pihak Museum Patiayam merencanakan ekskavasi tambahan di sejumlah titik untuk memastikan apakah ada fosil lain di sekitarnya. Pemkab Kudus juga akan memperbaiki fasilitas pendukung seperti gardu pandang untuk memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan situs dari ketinggian. Pembangunan gazebo dan fasilitas lain diharapkan memberi kenyamanan kepada pengunjung.
“Pengunjung tidak hanya akan melihat koleksi fosil di dalam museum, tetapi juga belajar tentang proses ilmiah di balik penemuan fosil tersebut. Kami ingin mereka memahami jenis-jenis lapisan tanah tempat fosil ditemukan,” imbuh Jamin. Hal ini diharapkan dapat menambah nilai edukatif bagi pengunjung, terutama pelajar yang tertarik pada sejarah prasejarah dan ilmu geologi.
Koleksi Fosil yang Beragam
Sampai saat ini, Situs Patiayam telah menemukan lebih dari 10 ribu fragmen fosil. Di antara temuan tersebut, hanya sekitar 200 fragmen yang dipamerkan di museum, sementara sisanya masih dalam penyimpanan atau proses identifikasi. Koleksi fosil di Patiayam bervariasi, termasuk gajah purba, rusa, badak, dan bahkan buaya.
Penemuan artefak lainnya, seperti kapak genggam, menambah pentingnya situs ini dalam memahami kehidupan prasejarah di Indonesia. Kawasan Patiayam menjadi bukti adanya ekosistem yang kaya akan fauna purba, memberikan wawasan yang lebih dalam tentang sejarah bumi Nusantara.
Langkah Menuju Wisata Edukatif yang Berkelanjutan
Pengembangan Situs Patiayam menjadi destinasi wisata edukatif berbasis fosil purba dinilai sebagai langkah positif untuk mengelola warisan budaya dan alam. Pemkab Kudus diyakini akan terus mendukung pengembangan infrastruktur dan promosi wisata sejarah ini. Konsep wisata yang inklusif ini tidak hanya akan menarik wisatawan lokal tetapi juga peneliti dan pelajar dari berbagai daerah.
Dengan pendekatan gabungan antara aspek ilmiah, edukatif, dan rekreasi, diharapkan kawasan ini dapat dikenal lebih luas. Patiayam tidak hanya berfungsi sebagai museum, tetapi juga sebagai "laboratorium terbuka" untuk belajar tentang masa lalu bumi.
Eksplorasi dan penemuan di situs ini diharapkan dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang sejarah prasejarah Indonesia, serta berfungsi sebagai daya tarik wisata yang unik dan mendidik bagi pengunjung.
