Buaya Purba Seukuran Kucing Ini Masih Menyimpan Kulit dan Pola Warnanya

Author: Qoo Media

Seekor buaya purba kecil yang hidup sekitar 125 juta tahun lalu menyimpan detail yang sangat langka dalam catatan fosil. Bukan hanya tulangnya, fosil Montsecosuchus juga memperlihatkan jejak kulit, sisik, tulang rawan, hingga pola belang pada ekornya.

Temuan itu membuka gambaran yang lebih utuh tentang hewan reptil purba berukuran kurang dari satu meter tersebut. Dengan bobot yang diperkirakan hanya sekitar 4 kilogram, bentuknya bahkan disebut menyerupai kucing rumahan.

Fosil kecil dengan pelestarian tak biasa

Fosil Montsecosuchus ditemukan di formasi La Pedrera de Meià, timur laut Spanyol, dan pertama kali dideskripsikan pada 1915. Penelitian ulang dilakukan bukan karena ukurannya, melainkan karena lokasi itu diketahui dapat menyimpan jaringan lunak pada fosil.

Menurut laporan Kompas.com yang mengutip IFLScience, tim peneliti kemudian menyorot fosil tersebut menggunakan sinar ultraviolet. Metode itu sebelumnya juga membantu mengungkap pelestarian jaringan lunak pada fosil serangga dari lokasi yang sama.

Di bawah sinar UV, sisik-sisik yang masih bertahan menjadi lebih jelas terlihat. Tim juga menemukan struktur tulang rawan di sekitar tulang rusuk dan lengan, pelestarian yang jarang dijumpai pada fosil reptil purba.

Aspek Temuan pada Montsecosuchus
Ukuran tubuh Kurang dari satu meter
Perkiraan bobot Sekitar 4 kilogram
Jaringan lunak Sisik kulit dan struktur tulang rawan
Pola ekor Pita terang dan gelap menyerupai belang

Sisik yang memberi petunjuk tentang indra

Pengamatan terhadap kulit memperlihatkan bahwa sisik menutupi tubuh hewan ini dengan pola yang tidak seragam. Ukuran sisik pada lengan dan kaki tampak berbeda, memberi petunjuk bahwa bagian tubuh itu mungkin memiliki fungsi yang berbeda pula.

Para peneliti juga melihat kemungkinan adanya organ sensorik pada sisik tersebut. Pada buaya modern, organ serupa berperan sebagai reseptor sentuhan dan suhu yang tersebar di tubuh.

Pada fosil ini, struktur yang diduga organ sensorik justru terkonsentrasi di area leher dan lengan. Pola itu mengarah pada kemungkinan bahwa sistem sensorik pada kelompok buaya mula-mula berkembang secara lokal sebelum meluas ke bagian kulit lain.

Óscar Castillo-Visa, salah satu penulis studi, mengatakan tim tidak hanya menaruh perhatian pada sisik. “Tapi kami tidak hanya fokus pada sisik, karena rongga dada dan lengannya juga mengandung struktur tulang rawan,” katanya kepada IFLScience.

Misteri buaya air yang mungkin lebih banyak berlari

Ada satu ciri lain yang membuat Montsecosuchus sulit dipahami sepenuhnya. Hewan ini tidak memiliki struktur seperti sirip yang berjajar di sepanjang ekor, padahal struktur tersebut biasanya membantu buaya modern saat berenang.

Ketiadaan struktur itu terasa janggal karena Montsecosuchus hidup di lingkungan yang hampir sepenuhnya akuatik. Castillo-Visa mempertanyakan alasan buaya kecil di habitat seperti itu tidak memiliki bagian tubuh yang dapat membantu pergerakannya di air.

Ia menduga reptil tersebut mungkin lebih sering berlari daripada berenang. Namun, dugaan itu belum menjawab seluruh teka-teki karena jari tangan dan kaki yang memanjang justru dikenal sebagai ciri hewan akuatik.

Belang ekor dari masa sangat lampau

Petunjuk paling menarik lainnya muncul di bagian ekor, tempat ditemukan pita kulit terang dan gelap. Pola itu membentuk belang yang tidak jauh berbeda dari corak pada anakan alligator modern.

Temuan tersebut tidak serta-merta memastikan warna persis tubuh Montsecosuchus saat hidup. Namun, jejak pola terang dan gelap itu memberi dasar bagi dugaan bahwa garis-garis pada ekor telah muncul sejak awal pohon evolusi kelompok buaya.

“Barangkali, ini menjadi bukti bahwa sifat evolusioner buaya memiliki garis-garis pada ekor sudah ada sejak awal pohon evolusi kelompok buaya,” kata Castillo-Visa. Studi mengenai fosil dari La Pedrera de Meià ini telah dipublikasikan dalam Zoological Journal of the Linnean Society.

Terbaru