Kemiri, yang biasa ditemui sebagai bumbu dapur, kini mendapat perhatian baru sebagai sumber energi terbarukan yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan bakar pesawat terbang. Dalam sebuah kolaborasi riset antara Universitas Hasanuddin (Unhas) dan University of Hawai‘i, tanaman ini tengah dikembangkan untuk menjadi bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Kerja sama antara kedua institusi pendidikan ini menjadi sebuah langkah signifikan dalam mendukung upaya pengurangan emisi karbon yang kerap dihasilkan oleh sektor transportasi udara. Program ini diinisiasi melalui kunjungan delegasi dari University of Hawai‘i ke Kampus Unhas pada bulan April, yang dipimpin oleh Prof. Scott Q. Turn dan Dr. Darshi Banan. Dalam sambutan, Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, menyatakan harapannya bahwa penelitian ini dapat memberikan dampak positif bagi teknologi dan melestarikan lingkungan.
Kemiri dikenal memiliki karakteristik yang menjadikan bijinya sangat cocok untuk diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF), atau bahan bakar berkelanjutan untuk diharapkan dapat menggantikan avtur konvensional. Menurut informasi yang dihimpun, minyak yang dihasilkan dari biji kemiri berhasil dikonversi menjadi bioavtur, yang diharapkan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Hal ini sejalan dengan tren global yang menciptakan tekanan untuk mengurangi emisi karbon di sektor penerbangan.
Prof. Scott Q. Turn menjelaskan bahwa pengembangan SAF dari kemiri tidak melulu berfokus pada efisiensi energi, tetapi juga menyentuh pada aspek keberlanjutan dan kemandirian energi lokal. Ia menegaskan bahwa potensi kemiri di Sulawesi sangat besar, memberikan peluang bukan hanya bagi pengurangan emisi tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat setempat.
“Kemiri tidak hanya dapat tumbuh di lahan marginal tanpa bersaing dengan tanaman pangan, tetapi juga memberikan dampak positif dalam konservasi tanah dan air,” tambah Dr. Wendy Aritenang, salah satu peneliti dari Unhas. Ia menjelaskan bahwa pohon kemiri memiliki siklus hidup yang panjang, menjadikannya komoditas yang strategis.
Rencana konkret yang dihasilkan dari diskusi antara Unhas dan delegasi University of Hawai‘i termasuk langkah awal penanaman kemiri di kawasan hutan pendidikan Unhas. Kegiatan ini diharapkan dapat diikuti dengan penyusunan strategi riset lanjutan untuk memastikan hasil riset dapat diimplementasikan secara efektif di lapangan.
Pengembangan komoditas lokal seperti kemiri tidak hanya membuka peluang baru dalam sektor energi, tetapi juga menjadi jembatan penghubung antara dunia akademis dan kesejahteraan masyarakat. Dengan mempromosikan penggunaan kemiri, Indonesia memungkinkan dirinya untuk menunjukkan bahwa solusi energi hijau dapat dimulai dari dalam negeri sendiri.
Pohon kemiri (Aleurites moluccanus) tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga berfungsi sebagai sumber biodiversitas dan pelestarian lingkungan. Ciri khas dari pohon ini adalah kemampuannya untuk tumbuh di lahan kurang subur, menjadikannya pilihan yang tepat untuk reboisasi dan agroforestri.
Dengan demikian, kemiri memiliki potensi untuk bukan hanya sebagai bumbu dapur, tetapi juga sebagai bahan bakar ramping yang dapat mendukung pencapaian tujuan keberlanjutan energi di Indonesia. Inisiatif ini mencerminkan langkah maju menuju pengembangan energi terbarukan yang dapat mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil sambil mempromosikan keberlanjutan lingkungan.
Langkah ini sejalan dengan komitmen global untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, Indonesia dapat bersaing di pasar energi terbarukan global dan mengukir jalan menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
