Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa tidak ada anomali seismik di Bogor, Jawa Barat, menyusul gempa berkekuatan 4,1 yang terjadi pada 10 April lalu. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebut klaim mengenai anomali seismik yang beredar di media sosial sama sekali tidak berdasar dan tidak ada bukti yang mendukung informasi tersebut.
Pernyataan ini dilontarkan Daryono saat dimintai tanggapannya atas cuitan sebuah akun verified di platform X, Infomitigasi, yang mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap “anomali seismik”. Cuitan tersebut mencuat di tengah kerisauan masyarakat pasca-gempa, dan telah dilihat lebih dari 6.000 kali. Meski demikian, Daryono menegaskan bahwa prediksi terkait gempa bumi belum dapat dilakukan secara akurat hingga saat ini. Ia mengatakan, “Ingat-ingat betul ya, bahwa hingga saat ini belum ada satu pun yang bisa memprediksi gempa.”
Daryono menjelaskan bahwa gempa yang terjadi di Bogor diduga kuat berasal dari aktivitas Sesar Citarik, yang membentang dari perairan selatan Sukabumi hingga pantai utara Bekasi. Gempa yang terjadi tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan, tetapi juga mengguncang masyarakat setempat dengan suara gemuruh yang terdengar saat gempa berlangsung. Menurut Daryono, suara tersebut adalah hal biasa pada gempa dangkal akibat getaran dengan frekuensi tinggi.
BMKG mencatat empat gempa susulan setelah peristiwa utama tersebut, semua dengan magnitudo di bawah 2. Meskipun gempa ini telah menimbulkan kerusakan, Daryono mengonfirmasi bahwa intensitasnya tidak tergolong terlalu tinggi. Laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa sebanyak 35 unit rumah di Kota dan Kabupaten Bogor mengalami kerusakan, dengan satu orang dilaporkan mengalami luka ringan.
Kerusakan yang dialami mencakup 24 rumah rusak ringan di Kota Bogor dan sembilan rumah rusak ringan di Kabupaten Bogor. Selain itu, satu fasilitas pendidikan juga dilaporkan mengalami kerusakan. Daryono menekankan pentingnya informasi yang akurat dan tidak menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat terkait peristiwa seismik.
Ia juga mempertanyakan klasifikasi “anomalies” seismik yang disebutkan oleh akun Infomitigasi, menyiratkan bahwa informasi tersebut tidak jelas. “Anomali seismik seperti apa?” tanyanya, seolah meminta penjelasan lebih lanjut mengenai pernyataan yang beredar di media sosial.
Keberadaan akun-akun yang menyebarkan informasi tidak valid dalam situasi bencana semacam ini dapat menjadi tantangan. Daryono menyatakan bahwa, di era informasi saat ini, tidak jarang masyarakat lebih memilih mengikuti berita dari media sosial daripada sumber resmi.
Menyikapi situasi ini, Daryono mengimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan informasi yang dihasilkan oleh instansi resmi, terutama ketika terjadi bencana. Beliau menekankan bahwa mitigasi bencana dapat dilakukan dengan cara mengikuti petunjuk dari pihak berwenang, dan menjaga kewaspadaan tanpa panik berlebihan.
Sebagai bagian dari upaya BMKG untuk memberikan informasi yang akurat, mereka terus meneruskan kegiatan pengurangan risiko bencana. Dengan berbagai alat dan teknologi yang ada, mereka berfokus pada analisis data untuk memahami perilaku seismik di wilayah Indonesia.
Dengan ciri geografis yang rawan bencana seperti Indonesia, terutama di daerah Jawa Barat, perhatian akan informasi yang salah dapat membantu mengurangi dampak psikologis dan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting untuk tetap bersikap kritis terhadap berita yang beredar di media sosial dan memprioritaskan sumber informasi yang terpercaya.
