Serangan Siber Indonesia Tembus 5,5 Miliar, Hexnode dan Ingram Micro Melihat Celah Besar

Lonjakan serangan siber di Indonesia membuat pengelolaan perangkat kerja menjadi perhatian yang semakin mendesak bagi perusahaan. Ketika perangkat kantor, ponsel pribadi, dan komputer jarak jauh terhubung ke jaringan bisnis, satu titik lemah dapat memperbesar risiko terhadap data perusahaan.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sekitar 5,5 miliar insiden siber sepanjang 2025. Angka tersebut melonjak 714% dibandingkan rata-rata insiden dalam empat tahun sebelumnya, menurut data yang dikutip teknologi.bisnis.com.

PeriodeTemuan BSSNKonteks
Sepanjang 2025Sekitar 5,5 miliar insiden siberNaik 714% dari rata-rata empat tahun sebelumnya
Beberapa bulan pertama 2026Sekitar 1,52 miliar insiden siberAncaman terhadap infrastruktur digital masih meningkat

Besarnya angka tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan siber tidak hanya menyangkut sistem pusat data atau jaringan utama. Endpoint, yakni perangkat yang dipakai karyawan untuk mengakses sistem perusahaan, juga menjadi area yang perlu diawasi secara konsisten.

Situasi ini membuka peluang bagi penyedia keamanan digital, termasuk Hexnode yang memperluas pasar di Indonesia. Perusahaan tersebut menggandeng Ingram Micro sebagai distributor resmi untuk menyalurkan solusi Unified Endpoint Management atau UEM melalui jaringan mitra.

Perangkat Kerja Makin Beragam

Kebutuhan pengelolaan endpoint meningkat seiring meluasnya pola kerja hibrida dan penggunaan perangkat pribadi untuk bekerja. Perusahaan kini dapat menghadapi kombinasi laptop, komputer, tablet, dan ponsel dengan sistem operasi yang berbeda dalam satu lingkungan kerja.

Platform UEM Hexnode dirancang untuk mengelola perangkat berbasis Windows, macOS, Linux, Android, dan iOS dari satu konsol. Pendekatan terpusat ini ditujukan untuk membantu organisasi mengawasi perangkat yang tersebar tanpa harus mengelolanya satu per satu secara terpisah.

Fungsi yang diintegrasikan dalam platform tersebut mencakup pengelolaan keamanan, patch management, pemantauan jarak jauh, dan otomatisasi. Hexnode juga menyatakan solusinya mendukung kebutuhan kepatuhan terhadap Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi atau UU PDP.

Pengelolaan pembaruan perangkat lunak menjadi penting karena perangkat yang belum diperbarui dapat menyimpan celah keamanan. Pemantauan jarak jauh juga relevan bagi perusahaan yang harus menjaga standar keamanan pada perangkat yang dipakai dari luar kantor.

Jaringan Mitra Jadi Jalur Ekspansi

Melalui kerja sama ini, Hexnode akan memperluas distribusi platformnya lewat jaringan reseller, system integrator, dan managed service provider atau MSP milik Ingram Micro. Model tersebut membuat solusi UEM dapat ditawarkan bersama layanan implementasi dan dukungan teknis oleh mitra lokal.

Presiden Direktur Ingram Micro Mulia Dewi Karnadi mengatakan penunjukan Hexnode diharapkan membuka peluang bagi reseller dan system integrator untuk mengembangkan layanan berbasis managed service. Ia menilai peran distributor kini tidak lagi terbatas pada menghadirkan produk teknologi kepada pasar.

“Melalui dukungan teknis, integrasi solusi, dan strategi go-to-market, kami ingin membantu mitra memperluas layanan sekaligus mempercepat adopsi pengelolaan perangkat modern di Indonesia,” ujar Mulia. Pernyataan itu menekankan pentingnya kemampuan mitra dalam menerapkan solusi sesuai kebutuhan pelanggan.

Enterprise Sales Director ASEAN Hexnode Keith O’Leary menilai Indonesia sebagai salah satu pasar prospektif di tengah percepatan transformasi digital lintas sektor. Menurutnya, kebutuhan terhadap pengelolaan endpoint akan terus bertambah ketika perangkat perusahaan semakin kompleks untuk diawasi.

“Bersama-sama kami juga ingin memperkuat komitmen terhadap pasar Indonesia dan memberdayakan pelaku usaha dengan solusi pengelolaan endpoint kelas dunia,” kata Keith. Kerja sama distribusi ini menempatkan jaringan mitra sebagai bagian penting dalam memperluas penggunaan teknologi keamanan perangkat di Indonesia.

Bagi perusahaan, meningkatnya ancaman siber dapat mendorong investasi pada sistem yang membantu mengatur keamanan perangkat secara terpusat. Seiring ekonomi digital dan kerja hibrida berkembang, pengelolaan endpoint menjadi salah satu kebutuhan untuk menjaga keamanan data sekaligus efisiensi operasional.

Terkait