Kebahagiaan yang meluap ternyata dapat memberi tekanan serius pada jantung, meski kasusnya sangat jarang. Kondisi ini dikenal sebagai happy heart syndrome, bentuk kardiomiopati stres yang dapat memunculkan nyeri dada dan sesak napas.
Kasus terbaru dialami seorang perempuan berusia 65 tahun beberapa hari setelah menghadiri pernikahan putrinya. Rasa bahagia yang sangat kuat diduga menjadi pemicu gangguan jantung sementara tersebut.
Kondisi ini berkaitan dengan sindrom takotsubo atau takotsubo syndrome (TTS), yang lebih sering dikenal sebagai broken heart syndrome. Pada banyak kasus, TTS muncul setelah seseorang menghadapi tekanan fisik atau emosi negatif yang berat, seperti kehilangan orang terdekat, pertengkaran, maupun masalah keuangan.
Namun, emosi positif yang sangat intens juga dapat memicu respons tubuh yang serupa. Dalam konteks inilah istilah happy heart syndrome digunakan, yakni ketika TTS terjadi setelah peristiwa yang menggembirakan.
Gejalanya Menyerupai Serangan Jantung
Salah satu tantangan terbesar dalam mengenali TTS adalah gejalanya yang sangat mirip sindrom koroner akut. Pasien dapat mengalami nyeri dada, sesak saat beraktivitas, serta perubahan penanda klinis pada elektrokardiogram dan pemeriksaan medis lain.
Perbedaan pentingnya, TTS tidak disertai sumbatan pada arteri koroner. Kondisi ini ditandai gangguan sementara pada kemampuan ventrikel kiri, ruang jantung utama yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh.
Philip Lee, konsultan dokter di bidang kedokteran akut dan kedokteran lansia, menjelaskan kepada IFLScience bahwa kondisi ini dapat berbahaya. “Pada dasarnya, terlalu banyak noradrenalin atau adrenalin menyebabkan bagian bawah jantung berhenti memompa dengan baik.”
Lonjakan hormon stres seperti adrenalin dan noradrenalin dapat memengaruhi kerja otot jantung. Karena itu, meski disebut gangguan sementara, TTS tetap berisiko memicu komplikasi serius, termasuk henti jantung mendadak setelah pemicu emosional atau fisik terjadi.
Kasus Setelah Pernikahan Putri
Perempuan dalam laporan kasus tersebut mencari pertolongan medis setelah mengalami nyeri dada selama tiga hari pascapernikahan putrinya. Ia juga merasakan sesak napas yang semakin berat saat melakukan aktivitas fisik.
Sebelum peristiwa itu, pasien diketahui pernah menjalani rawat jalan karena keluhan nyeri dada dalam beberapa bulan sebelumnya. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan mendesak untuk membedakan keluhannya dari serangan jantung akibat penyumbatan pembuluh darah.
Hasil pemeriksaan tidak menemukan penyakit arteri koroner obstruktif, pheochromocytoma, maupun miokarditis. Tim medis justru mendapati pembesaran dan pelemahan pada ventrikel kiri, atau pola ballooning, yang mengarah pada diagnosis TTS.
Menurut laporan yang dimuat www.kompas.com, pasien sebelumnya mengalami kebahagiaan luar biasa saat menyaksikan putrinya menikah. Setelah penanganan dan pemantauan, fungsi jantungnya membaik pada pemeriksaan lanjutan.
| Kondisi | Pemicu Umum | Pola Gangguan Jantung |
|---|---|---|
| Broken heart syndrome | Stres, kesedihan, atau peristiwa traumatis | Lebih sering menunjukkan pola apikal klasik |
| Happy heart syndrome | Emosi positif yang sangat kuat | Lebih sering terkait ballooning tengah atau basal |
Lebih Jarang, Tetapi Tetap Perlu Diwaspadai
Peneliti mencatat bahwa happy heart syndrome lebih jarang ditemukan dibanding bentuk TTS yang dipicu emosi negatif. Kondisi ini juga cenderung menampilkan gejala lebih ringan dan hasil jangka pendek yang lebih baik, walau data tambahan masih dibutuhkan.
Secara umum, broken heart syndrome diperkirakan mencakup sekitar 1–2 persen dari seluruh kasus dugaan sindrom koroner akut. Happy heart syndrome merupakan kelompok yang jauh lebih kecil lagi, sehingga risikonya bagi masyarakat umum tergolong sangat rendah.
Meski demikian, keluhan nyeri dada dan sesak napas setelah momen emosional tidak boleh disepelekan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan serangan jantung dan mencari penyebab gangguan fungsi jantung secara tepat.
Laporan kasus ini dipublikasikan dalam jurnal Oxford Medical Case Reports. Temuan tersebut menegaskan bahwa emosi positif yang ekstrem pun dapat menjadi pertimbangan klinis, terutama ketika gejala pasien menyerupai serangan jantung tanpa ditemukan sumbatan arteri koroner.







