Nisan Aceh Kuno Ditemukan di Sulsel: Peneliti Ungkap Temuan Menarik

Tim peneliti gabungan dari Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini menemukan sebuah nisan kuno asal Aceh di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Nisan yang diperkirakan berusia sekitar 525 tahun itu ditemukan dalam rangkaian penelitian bertajuk “Penelusuran Toponimi Kuno Pesisir Sulawesi Selatan”. Penemuan ini bukan hanya menarik perhatian karena usianya, tetapi juga karena nilai sejarah yang tinggi.

Nisan tersebut ditemukan di Kampung Lembang, Kecamatan Labakkang, khususnya dalam kompleks makam Somba Labakkang. Salah satu keunikan dari temuan ini adalah nisan tersebut diidentifikasi sebagai “Nisan Aceh”, yang merupakan artefak budaya langka di Sulawesi Selatan. Menurut catatan, nisan ini digunakan pada makam I La Upa Bagenda Ali Matinroe ri Sikkiri’na, yang dikenal sebagai Somba Labakkang.

Ketua tim peneliti, Profesor Muhlis Hadrawi, menjelaskan bahwa penelitiannya bertujuan untuk menelusuri toponimi kuno, yaitu nama-nama tempat bersejarah. “Kabupaten Pangkep dipilih karena memiliki kekayaan sejarah dan warisan budaya yang berharga,” ujar Muhlis. Penelitian ini dimulai pada 17 Mei dan akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisan yang ditemukan adalah tipe C. Nisan ini biasanya digunakan oleh bangsawan tinggi atau tokoh penting pada awal masuknya Islam ke Sulawesi Selatan. “Nisan ini diproduksi di Aceh pada tahun 1500-an dan keberadaannya sangat terbatas di Sulawesi Selatan. Hanya segelintir tokoh yang memiliki nisan jenis ini,” jelasnya.

Keberadaan nisan Aceh mengungkapkan status dan pengaruh sosial serta politik dari tokoh yang dimakamkan. Penemuan nisan ini juga membuka lembaran sejarah baru yang belum banyak diketahui oleh publik. Pangkep, sesuai dengan penemuan ini, dianggap menyimpan jejak-jejak penting masa lalu yang perlu dirawat dan dikenalkan lebih luas.

Peneliti dari BRIN, Makmur, menambahkan bahwa nisan Aceh bukan sekadar simbol status sosial tinggi, tetapi juga penting dalam konteks arkeologi dan sejarah budaya Islam di daerah tersebut. “Nisan ini menunjukkan bahwa Somba Labakkang adalah salah satu bangsawan yang memeluk Islam pada masa awal penyebarannya di Sulawesi Selatan,” kata Makmur.

Dosen Arkeologi Unhas, Hasanuddin, mengemukakan bahwa nisan tipe C yang ditemukan menegaskan adanya hubungan erat antara Kesultanan Aceh dan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan sejak abad ke-17. Hubungan ini melampaui aspek perdagangan dan mencakup penyebaran agama, budaya, serta pertalian keluarga antar bangsawan.

“Pangkep bisa jadi menjadi simpul peradaban dalam konteks spiritual, politik, dan ekonomi pada masa lalu,” imbuh Hasanuddin. Ia juga menunjukkan bahwa pembagian nisan Aceh hanya diperuntukkan bagi tokoh yang memiliki kharisma keagamaan dan koneksi politik yang kuat.

Meskipun situs makam Somba Labakkang sudah diidentifikasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), hingga kini belum ada penetapan resmi sebagai cagar budaya dari pemerintah daerah. Tim peneliti berharap penemuan ini dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah daerah Pangkep dan Maros untuk melindungi situs tersebut sebagai warisan budaya.

Tak hanya itu, pada bulan April lalu, tim yang sama juga menemukan batu nisan Aceh pertama di kampung Belang-belang, Kecamatan Lau, Maros. Temuan ini menandai pentingnya perhatian terhadap pelestarian situs bersejarah di Pangkep dan wilayah lain di Sulawesi Selatan.

Pentingnya penelitian toponimi kuno tak hanya memperlihatkan asal-usul nama tempat, namun juga menawarkan wawasan tentang dinamika budaya, politik, dan agama di masa lampau. Diharapkan, dengan adanya penemuan ini, masyarakat semakin peduli akan pentingnya warisan budaya yang ada di sekitar mereka.

Exit mobile version