Ketegangan antara Israel dan Iran yang terus meningkat membawa perdebatan mengenai efektivitas serangan rudal yang dilakukan dari jarak jauh. Tanggal 13 Juni 2025, serangan Israel ke sejumlah fasilitas nuklir Iran diikuti oleh ratusan rudal balistik yang diluncurkan dari Teheran menuju wilayah Israel. Meski beberapa rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan seperti Iron Dome dan Arrow, namun sejumlah lainnya berhasil menghancurkan target penting di Tel Aviv.
Kemampuan rudal untuk menghancurkan sasaran yang berada di ratusan hingga ribuan kilometer jauhnya dengan tingkat akurasi tinggi adalah hasil dari kombinasi teknologi canggih yang mendasari sistem pemanduan mereka. Dalam konteks ini, terdapat dua jenis utama rudal yang digunakan dalam konflik modern: rudal balistik dan rudal jelajah. Rudal balistik, misalnya, bergerak mengikuti lintasan melengkung dan dapat menembus atmosfer sebelum jatuh ke target, sementara rudal jelajah terbang rendah dan mendatar, memanfaatkan kontur permukaan bumi untuk menghindari deteksi radar.
Salah satu komponen kunci yang menentukan akurasi rudal adalah sistem pemandu. Terdapat beberapa teknologi yang digunakan untuk meningkatkan akurasi serangan. Salah satunya adalah sistem navigasi inersial (INS), yang menggunakan sensor internal untuk melacak posisi rudal secara mandiri. Walaupun INS efisien dan tidak bergantung pada sinyal eksternal, akurasinya dapat menurun seiring waktu tanpa koreksi eksternal.
Untuk mengatasi batasan ini, rudal modern juga dilengkapi dengan teknologi navigasi satelit seperti GPS, yang memungkinkan rudal mengetahui posisinya secara real-time dengan tingkat kesalahan sangat kecil, bahkan dari jarak ribuan kilometer. Dengan kombinasi INS dan GPS, rudal dapat mengarahkan diri menuju koordinat target dengan ketepatan luar biasa.
Selain itu, teknologi lebih lanjut seperti “terrain contour matching” (Tercom) dan “digital scene matching area correlation” (DSMAC) memungkinkan rudal jelajah untuk lebih cerdas dalam menentukan jalur. Tercom mencocokkan kontur tanah yang dilalui dengan peta digital yang dimiliki, sedangkan DSMAC menggunakan gambar visual yang dipadankan dengan data yang tersimpan dalam sistem rudal. Pendekatan ini membuat misil bergerak dengan lebih presisi, bahkan saat harus menghindari radar musuh.
Kecepatan tinggi rudal balistik juga berperan penting dalam efektivitasnya. Banyak dari rudal ini bisa mencapai kecepatan hipersonik, di mana waktu yang tersedia bagi sistem pertahanan untuk mendeteksi dan mencegat sangat singkat, hanya beberapa detik. Sebuah contoh nyata dari hal ini tercermin dalam serangan terbaru antara Iran dan Israel, di mana beberapa rudal Iran berhasil menembus pertahanan canggih yang ada.
Kombinasi semua teknologi ini memberikan rudal kemampuan untuk menghancurkan target kritikal, yang seringkali terdiri dari infrastruktur vital seperti pangkalan militer dan fasilitas nuklir. Dalam kejadian terakhir, serangan rudal berhasil mencapai pusat kota Tel Aviv dalam waktu singkat, menegaskan bahwa rudal modern telah menjadi alat perang presisi yang sangat efektif.
Meskipun sistem pertahanan seperti Iron Dome memiliki keefektifan yang tinggi, ketidakpastian tetap ada. Sistem pertahanan ini tidak dapat menjamin bahwa semua rudal yang diluncurkan dapat dicegat, terutama ketika menghadapi serangan massal. Melihat teknologi yang terus berkembang dalam sistem pemanduan dan kecepatan rudal, jelas bahwa masa depan peperangan akan semakin ditentukan oleh keakuratan serangan jarak jauh.
Oleh karena itu, pertanyaan mengenai pergeseran taktik dan teknologi dalam konflik modern terus menarik perhatian, terutama di saat ketegangan internasional meningkat.