16 Miliar Password Bocor: Vida Peringatkan Ancaman Phishing dan Soceng

Kebocoran lebih dari 16 miliar password baru-baru ini menjadi ancaman serius bagi keamanan data pribadi di dunia digital. Penyedia solusi identitas digital, Vida, mengingatkan publik mengenai bahaya yang ditimbulkan oleh kebocoran tersebut, serta tingginya risiko serangan penipuan seperti phishing dan social engineering (soceng). Founder dan CEO Vida, Niki Luhur, menegaskan pentingnya pemilihan password yang tepat untuk melindungi diri dari kerugian yang dapat terjadi akibat aktivitas siber yang tidak bertanggung jawab.

Data dari Vida menunjukkan bahwa masih terdapat 64% pengguna yang mendaur ulang password mereka. Parahnya, 80% dari kebocoran data diakibatkan oleh penggunaan password yang lemah dan tidak aman. Niki menjelaskan, “Kebocoran sekecil apa pun dapat membuka celah bagi serangan siber yang merugikan, baik secara finansial maupun emosional.” Keadaan ini menjadikan kewaspadaan atas keamanan digital semakin mendesak.

Sebuah studi menunjukkan bahwa kombinasi password yang paling umum digunakan di Indonesia antara lain “123456” dan “password”. Penggunaan password dengan delapan karakter ini sangat berisiko, karena saat ini bisa dipatahkan dalam waktu kurang dari satu detik. Hal ini menyoroti lemahnya perlindungan yang dimiliki pengguna, yang berkontribusi pada meningkatnya kasus penipuan digital.

Antara November 2024 hingga Mei 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat ada 135.397 laporan kasus penipuan digital, dengan total kerugian mencapai Rp2,6 triliun. Angka tersebut mencerminkan betapa meningkatnya insiden penipuan yang terjadi akibat kurangnya perhatian terhadap keamanan informasi pribadi.

Untuk mengatasi masalah ini, Niki mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih dan mengelola password. Rekomendasi dari Vida mencakup penggunaan kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol, dengan panjang minimal 24 karakter. Selain itu, pengguna sebaiknya mengubah password secara berkala, setidaknya setiap 90 hari, dan tidak menggunakan password yang sama untuk berbagai akun.

Pengaktifan autentikasi dua faktor (2FA) juga menjadi langkah penting yang harus diambil untuk menambah lapisan keamanan pada aplikasi dan perangkat. Dengan langkah ini, pengguna dapat meminimalisir risiko yang timbul dari kebocoran data.

Investigasi yang dilakukan oleh tim peneliti Cybernews dan Forbes mengungkap bahwa dari 16 miliar kredensial login yang bocor, banyak di antaranya adalah hasil dari malware infostealer yang semakin banyak beredar di internet. Data ini ditemukan dalam 30 kumpulan database yang berbeda, yang menampung puluhan juta hingga lebih dari 3,5 miliar kredensial. Hampir seluruh dataset ini belum pernah dilaporkan sebelumnya, dengan sebagian besar di antaranya bukan sekadar daur ulang dari kebocoran lama.

Kebocoran password ini menjadi pengingat bagi semua pengguna internet bahwa keamanan data pribadi sangatlah penting dan tidak boleh dianggap remeh. Minimalkan risiko dengan menerapkan praktik terbaik dalam pengelolaan kata sandi dan memperkuat sistem keamanan pribadi.

Seiring meningkatnya rentetan serangan siber, penting bagi masyarakat untuk senantiasa melengkapi diri dengan pengetahuan mengenai praktik keamanan digital. Kesadaran akan potensi risiko yang ada dapat membantu individu dan organisasi untuk mengambil langkah proaktif dalam menjaga keamanan informasi mereka. Di era digital ini, respons yang cepat dan tepat terhadap isu keamanan data menjadi salah satu kunci untuk menghindari kerugian yang lebih besar di masa depan.

Exit mobile version