Dugaan ijazah palsu yang melibatkan Presiden Joko Widodo saat ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Kasus ini telah memasuki tahap hukum, di mana publik mulai mempertanyakan keaslian ijazah yang ia miliki. Namun, Indonesia bukan satu-satunya yang mengalami skandal semacam ini. Sejumlah pemimpin dunia juga pernah tersangkut dalam perkara serupa, yang tentunya memicu reaksi publik dan media.
Kasus Bola Tinubu di Nigeria
Di Nigeria, Presiden Bola Tinubu mendapati dirinya terjebak dalam kontroversi terkait ijazah palsu dari Universitas Chicago pada tahun 2023. Lawan politik Tinubu, Atiku Abubakar, mempertanyakan keaslian dokumen pendidikan yang diajukan. Bahkan, Universitas Chicago menyatakan tidak memiliki bukti kelulusan atas nama Tinubu. Meskipun eksistensi kasus ini masih berada di Mahkamah Agung Nigeria, tuduhan ini telah menimbulkan gejolak di masyarakat.
Ali Kordan dan Universitas Oxford
Tidak jauh berbeda, mantan Menteri Dalam Negeri Iran, Ali Kordan, tersandung kasus ijazah palsu pada tahun 2008. Kordan dikabarkan memiliki gelar doktor kehormatan dari Universitas Oxford, yang pada akhirnya dipertanyakan oleh publik. Universitas Oxford menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah memberikan gelar tersebut kepada Kordan. Dalam memberi klarifikasi, Kordan menyatakan dirinya menjadi korban penipuan, namun langkah ini tidak dapat menghentikan konsekuensi dari skandal tersebut, yang berujung pada pengunduran dirinya dari jabatan.
Pal Schmitt di Hungaria
Kasus serupa juga menimpa Pal Schmitt, mantan Presiden Hungaria, yang tersandung skandal plagiasi disertasi doktoralnya pada tahun 2012. Setelah penyelidikan publik, Universitas Semmelweis mencabut gelar doktoral yang dimilikinya. Pencabutan tersebut memicu Schmitt untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden, menunjukkan dampak serius dari skandal tersebut terhadap karier politiknya.
Tuduhan Terhadap Recep Tayyip Erdogan
Selama kampanye pemilihan presiden di Turki pada tahun 2014, Recep Tayyip Erdogan juga menjadi sorotan terkait dugaan ijazah palsu. Lawan politiknya menantang keaslian ijazahnya dari Universitas Marmara. Meski menuai kritik, isu ini tidak berdampak signifikan pada posisi Erdogan, dan ia tetap melanjutkan masa kepemimpinannya.
Aamir Liaquat Hussain di Pakistan
Kasus paling mencolok mungkin berasal dari Pakistan, di mana Aamir Liaquat Hussain, mantan Menteri Agama, mengaku memiliki gelar dari institusi fiktif. Gelar BA dan MBBS yang diakuinya terbukti tidak valid setelah penyelidikan. Publik di Pakistan mengeluarkan reaksi keras terhadap klaim palsu ini, menuntut pertanggungjawaban lebih lanjut dari Hussain dan dampaknya terhadap loyalitas politiknya.
Dari berbagai kasus di atas, terlihat bahwa isu ijazah palsu bukan hanya masalah yang dihadapi oleh satu individu atau negara saja. Isu ini dapat mengguncang fondasi kepemimpinan dan merusak kepercayaan publik. Bagi masyarakat Indonesia, kasus Jokowi mungkin menjadi yang terbaru, tetapi sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin di seluruh dunia telah menghadapi situasi serupa. Diperlukan transparansi dan kejelasan agar kepercayaan publik tetap terjaga.
