Mayoritas warga Amerika Serikat kini tengah diliputi kekhawatiran bahwa kemajuan kecerdasan buatan (AI) akan menyebabkan hilangnya pekerjaan secara permanen. Jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Reuters bersama Ipsos pada bulan Agustus 2025 mengungkap bahwa sekitar 71% responden merasa khawatir AI akan menggantikan terlalu banyak posisi kerja.
Survei daring ini melibatkan 4.446 orang dewasa di seluruh AS dan menunjukkan kekhawatiran publik meningkat signifikan meski tingkat pengangguran nasional pada Juli 2025 tercatat hanya 4,2%. Lonjakan rasa takut ini berkaitan dengan percepatan pesat di bidang AI yang mencapai puncaknya setelah peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada akhir 2022. Aplikasi tersebut menjadi fenomena teknologi tercepat yang tumbuh dalam sejarah, diikuti oleh produk serupa dari raksasa teknologi seperti Meta, Google, dan Microsoft.
Kekhawatiran Luas Selain Kehilangan Pekerjaan
Selain potensi penghapusan lapangan kerja, survei juga mengangkat kekhawatiran warga terkait implikasi lain dari AI. Sebanyak 77% responden menyatakan ketakutan bahwa teknologi ini bisa digunakan untuk menyebarkan berita palsu dan manipulasi politik. Fenomena video manipulatif yang semakin realistis, termasuk video buatan AI yang diunggah mantan Presiden Donald Trump yang memperlihatkan kejadian fiktif seperti penangkapan Barack Obama, makin menguatkan kekhawatiran publik.
Isu militer menjadi perhatian lain. Sekitar 48% warga menolak penggunaan AI sebagai penentu target serangan dalam operasi militer, dengan hanya 24% yang mendukung dan sisanya ragu-ragu. Pandangan ini mencerminkan ketegangan etis dan strategis yang muncul terkait peran AI dalam sektor keamanan nasional dan persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China.
Dampak Energi dan Penyalahgunaan AI
Khawatir akan beban energi juga turut menghantui masyarakat, dengan 61% responden mengaku resah atas tingginya konsumsi listrik yang dibutuhkan untuk menjalankan pusat data AI. Merespons hal tersebut, Google menjalin kemitraan dengan dua perusahaan utilitas listrik untuk mengelola penggunaan energi pusat data mereka selama puncak permintaan.
Di sisi lain, berbagai kritik mengenai penyalahgunaan AI juga mencuat. Bot yang bisa berinteraksi dengan anak-anak secara tidak pantas, penyebaran informasi medis palsu, serta penggunaan AI untuk membenarkan argumen rasis menjadi sorotan. Lebih dari dua pertiga responden mengaku takut manusia kali akan lebih memilih hubungan dengan “pasangan” AI dibandingkan interaksi sosial antar manusia.
Pandangan Terhadap AI di Bidang Pendidikan dan Investasi
Opini masyarakat terkait AI di dunia pendidikan juga terbagi. Sebanyak 36% percaya AI dapat memberikan manfaat, sementara 40% ragu bahkan berpendapat bahwa dampaknya negatif. Sisanya masih belum menentukan sikap.
Terlepas dari kekhawatiran tersebut, teknologi ini terus memicu gelombang investasi signifikan. Beberapa perusahaan besar seperti Foxconn dan SoftBank berkomitmen membangun pabrik pusat data di Ohio, menunjukkan besarnya optimisme pasar terhadap potensi AI. Hal ini, sekaligus, menandai pergeseran fokus kebijakan pemerintah yang kini semakin memperhatikan keamanan nasional dalam konteks persaingan strategis AS-China.
Survei ini menandai gambaran luas kompleksitas yang dihadapi masyarakat AS terhadap AI. Dari ketakutan kehilangan pekerjaan, kekhawatiran politis, militer, hingga dampak sosial dan energi, isu-isu tersebut mengindikasikan bahwa masa depan teknologi ini akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Amerika Serikat dan dunia.
