Fenomena halo matahari baru-baru ini berhasil menarik perhatian warga Depok. Fenomena optik berupa cincin cahaya mengelilingi matahari tersebut muncul jelas dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak yang penasaran mengenai penyebab terjadinya fenomena alami yang indah sekaligus menakjubkan ini.
Menurut penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena halo matahari terbentuk karena interaksi sinar matahari dengan kristal es berbentuk heksagonal yang berada di lapisan atmosfer atas. Kristal es ini terdapat pada awan tinggi jenis cirrostratus yang melayang di ketinggian sekitar 5 hingga 10 kilometer di atas permukaan bumi.
Direktur Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Setyoajie Prayoedhie, menyampaikan bahwa “Cahaya yang menembus kristal-kristal es tersebut kemudian dibiaskan dan dipantulkan, membentuk pola cincin dengan radius sekitar 22 derajat dari pusat matahari.” Dalam fenomena ini, warna cincin yang terbentuk biasanya menyerupai pelangi samar, dengan bagian dalam cenderung berwarna merah dan bagian luar kebiruan.
Fenomena ini sebenarnya tidak berbahaya dan cukup sering terjadi, terutama pada kondisi langit cerah dengan keberadaan awan tinggi di atmosfer. BMKG menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik dengan kemunculan halo matahari karena fenomena ini merupakan bagian dari dinamika alam yang wajar. “Masyarakat diimbau tetap tenang dan menikmati keindahannya,” tambah Ajie.
Namun, BMKG mengingatkan agar warga tidak menatap matahari secara langsung ketika mengamati fenomena tersebut. Paparan sinar matahari langsung tanpa perlindungan dapat menyebabkan kerusakan pada mata. Oleh karena itu, disarankan menggunakan kacamata hitam berfilter UV atau lensa kamera dengan filter khusus untuk mengamati dan mendokumentasikan fenomena halo matahari secara aman.
Fenomena halo matahari merupakan efek pembiasan cahaya yang mirip dengan pelangi pada umumnya. Namun, perbedaan utamanya terletak pada medium yang membiaskan cahaya yaitu kristal es untuk halo dan tetesan air untuk pelangi. Profesor Matthias Roth dari National University of Singapore menjelaskan bahwa pembiasan cahaya oleh kristal es prisma inilah yang menciptakan bentuk khas halo berbentuk cincin. Fenomena ini hanya dapat terjadi secara lokal dan tidak selalu muncul di semua wilayah secara bersamaan.
Dalam sejarahnya, fenomena halo matahari pernah diartikan oleh manusia zaman dahulu sebagai pertanda akan datangnya hujan. Kini, sains telah menjelaskan proses ilmiah di balik halo. Proses pembiasan dan pantulan cahaya di kristal es mirip dengan pembentukan pelangi pada pagi atau sore hari setelah hujan. Perbedaan lainnya adalah posisi matahari yang biasanya berada di sudut rendah sehingga efek pembiasan dan dispersi warna terlihat lebih lengkap mengitari matahari.
Berikut ini poin penting terkait fenomena halo matahari yang muncul di Depok:
1. Terjadi akibat pembiasan dan pantulan cahaya matahari oleh kristal es heksagonal di awan cirrostratus.
2. Membentuk cincin cahaya berukuran sekitar 22 derajat dari pusat matahari.
3. Warna cincin menyerupai pelangi samar dengan warna merah di bagian dalam dan kebiruan di bagian luar.
4. Tidak berbahaya dan sering muncul saat langit cerah dengan awan tinggi.
5. Masyarakat dianjurkan untuk tidak menatap matahari langsung dan menggunakan alat pelindung mata saat mengamati.
Fenomena halo matahari yang sempat menghebohkan warga Depok ini merupakan salah satu peristiwa alam yang menunjukkan kompleksitas interaksi atmosfer dengan cahaya matahari. Keindahan visual yang muncul menjadi momen langka yang bisa dinikmati jika kondisi alam mendukung. Fenomena ini mengingatkan kita untuk lebih memahami karakteristik alam dan selalu menghargai dinamika langit yang terus berubah.
