Pakar Ungkap Fakta Meteor Jatuh di Cirebon: Data dan Dampak Terkini

Warga Cirebon dihebohkan dengan munculnya kilatan cahaya bola api yang melintas cepat dan disertai dentuman suara nyaring pada awal Oktober 2025. Fenomena ini memicu berbagai spekulasi mengenai asal-usul benda tersebut. Berdasarkan penyelidikan oleh pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta ilmuwan dari Universitas Negeri Surabaya, diketahui bahwa peristiwa ini merupakan meteor airburst—meteoroid yang meledak di atmosfer sebelum mencapai permukaan bumi.

Meteor Airburst di Langit Cirebon

Menurut peneliti BRIN, meteor tersebut memasuki lapisan atmosfer rendah sehingga menimbulkan gelombang kejut yang mengakibatkan dentuman suara terdengar cukup luas di wilayah Cirebon. Warga setempat melaporkan getaran rumah akibat ledakan tersebut, namun tidak ada kerusakan berarti maupun korban luka yang tercatat. Lokasi jatuh benda ini diduga kuat berada di arah Laut Jawa, sehingga fragmen besar meteor belum ditemukan di daratan.

Pakar dari Universitas Negeri Surabaya menjelaskan bahwa meteor airburst seperti ini umumnya terjadi ketika meteoroid meledak di udara pada ketinggian tertentu akibat tekanan atmosfer. Fenomena ini memproduksi cahaya yang sangat terang dan suara dentuman kuat, namun tidak menghasilkan kawah atau kerusakan fisik yang parah. “Tipe ini sering menghasilkan cahaya terang dan suara dentuman tanpa meninggalkan kawah,” jelas salah satu pakar melalui situs resmi universitas, Selasa (7/10/2025).

Keterkaitan dengan Aktivitas Meteor Draconids

Peristiwa meteor airburst di Cirebon terjadi bertepatan dengan periode aktivitas meteor Draconids yang diperkirakan mencapai puncak pada tanggal 8 Oktober 2025. Beberapa ahli menduga bahwa meteor yang melintas di Cirebon ini merupakan bagian dari jejak puing-puing dari jalur orbit komet yang menjadi sumber hujan meteor Draconids. Meskipun demikian, penyelidikan lebih lanjut terus dilakukan untuk memastikan hubungan pasti antara peristiwa tersebut dengan aktivitas meteor yang sedang berlangsung.

Alasan Tidak Adanya Peringatan Dini

Meskipun fenomena meteor airburst ini menggemparkan warga, tidak ada peringatan dini yang disampaikan sebelum kejadian. Hal ini dijelaskan oleh pakar sebagai akibat dari beberapa keterbatasan teknologi dan karakteristik meteoroid tersebut:

  1. Ukuran Meteor Terlalu Kecil untuk Deteksi Jauh
    Meteoroid yang masuk ke atmosfer bumi dalam peristiwa ini berukuran hanya beberapa meter atau bahkan lebih kecil. Radar dan teleskop antariksa yang umumnya digunakan untuk memantau benda langit berpotensi berbahaya (Near Earth Objects) biasanya hanya mampu mendeteksi objek dengan diameter puluhan hingga ratusan meter. Oleh sebab itu, benda sekecil ini sangat sulit terdeteksi jauh-jauh hari karena pencahayaannya yang minim di luar angkasa.

  2. Atmosfer Bumi sebagai Pelindung Alami
    Secara rutin, sekitar 100 ton debu kosmik memasuki atmosfer bumi setiap hari. Sebagian besar dari debu ini terbakar habis sebelum mencapai permukaan bumi. Hanya meteoroid tertentu yang cukup besar dan keras yang mampu menimbulkan kilatan cahaya terang dan dentuman kuat saat meledak di udara (fenomena airburst atau bolide). Ledakan ini terjadi sangat mendadak karena pengaruh tekanan atmosfer dan sangat sulit diprediksi secara akurat sebelumnya.

  3. Teknologi Deteksi yang Masih Terbatas
    Program pemantauan global, seperti yang dijalankan NASA melalui Planetary Defense Coordination Office menggunakan teleskop Pan-STARRS dan Catalina Sky Survey, lebih difokuskan untuk mendeteksi asteroid besar yang berpotensi membahayakan bumi dalam jangka panjang. Sedangkan meteoroid kecil seperti yang terjadi di Cirebon hanya bisa diketahui beberapa jam sebelum masuk atmosfer—dan bahkan itu pun terkadang masih terlewat.

  4. Sering Terjadi Tanpa Kerusakan Serius
    Kasus meteor airburst bukanlah hal baru, seperti kejadian Chelyabinsk di Rusia pada 2013 yang meledak di ketinggian 30 kilometer dan menghasilkan gelombang kejut yang merusak jendela ribuan rumah. Meski demikian, peristiwa serupa di Cirebon berskala jauh lebih kecil sehingga tidak sampai menimbulkan ancaman besar terhadap keselamatan warga atau properti.

Penelitian dan Pemantauan Lanjut

BMKG terus melakukan penelitian mendalam terhadap fenomena yang terjadi di Cirebon ini untuk memperkuat pemahaman ilmiah dan mendukung mitigasi risiko di masa depan. Meskipun saat ini belum ditemukan fragmen meteoroid besar di daratan, kajian terkait gelombang kejut dan rekaman citra masih berlangsung.

Pakar memastikan bahwa fenomena meteor airburst yang melintas tanpa jejak besar seperti ini adalah bagian dari dinamika alami ruang angkasa yang rutin terjadi dan sulit untuk dideteksi secara dini. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang serta menjaga kewaspadaan terhadap potensi kejadian serupa, terutama saat memasuki periode puncak aktivitas meteor tahunan.

Source: www.suara.com

Exit mobile version