Fenomena hujan meteor Orionid akan mencapai puncaknya pada malam ini, tepatnya pada tanggal 21 hingga 22 Oktober 2025. Penggemar astronomi dan masyarakat umum di seluruh Indonesia dapat menyaksikan gerhana cahaya meteor yang akan menghiasi langit malam, dengan kesempatan terbaik dimulai pukul 22.00 hingga menjelang fajar. Fenomena ini menjadi salah satu pertunjukan langit spektakuler yang sayang untuk dilewatkan.
Sekilas Tentang Hujan Meteor Orionid
Hujan meteor Orionid merupakan peristiwa tahunan yang berlangsung sejak awal Oktober sampai minggu pertama November. Namun, puncak kemunculannya jatuh pada akhir Oktober. Meteor-meteor ini berasal dari sisa debu yang ditinggalkan oleh Komet Halley, sebuah komet legendaris yang melintasi orbit Bumi setiap 75 tahun. Ketika partikel-partikel kecil dari komet Halley memasuki atmosfer Bumi, mereka terbakar dan membentuk garis cahaya yang indah yang seolah ‘menetes’ dari rasi bintang Orion.
NASA menyatakan bahwa Orionid termasuk ke dalam hujan meteor dengan kecepatan tertinggi, yakni sekitar 66 kilometer per detik atau 238.000 kilometer per jam. Kecepatan tersebut membuat meteor meninggalkan jejak cahaya panjang yang terang dan beberapa di antaranya bahkan menyebabkan kilatan bola api yang memukau dan jejak bercahaya berlalu-lalang di langit.
Waktu dan Lokasi yang Tepat untuk Mengamati
Peneliti utama Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menyampaikan bahwa waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor ini adalah mulai pukul 22.00 hingga 04.00 pagi. Puncak kemunculan meteor diyakini mencapai intensitas tertinggi sekitar pukul 01.00 dini hari, ketika rasi Orion sudah tampak lebih dari 30 derajat di atas ufuk timur, sehingga peluang untuk melihat hujan meteor semakin besar.
Pengamatan terbaik dilakukan di lokasi dengan langit gelap dan bebas polusi cahaya, seperti di daerah pegunungan, pedesaan, atau pantai yang jauh dari keramaian dan lampu kota. Tidak diperlukan alat khusus seperti teleskop, cukup menggunakan mata telanjang dengan posisi berbaring atau duduk nyaman menghadap ke arah timur. Mata yang sudah beradaptasi dengan kegelapan akan memudahkan untuk menangkap kilauan meteor.
Faktor Cuaca dan Kondisi Pendukung
Keberhasilan menyaksikan hujan meteor Orionid juga sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca lokal. Awan tebal, kabut, atau badai petir dapat menghalangi pengamatan. Beruntungnya, tahun ini puncak hujan meteor bertepatan dengan fase bulan baru, sehingga langit malam akan lebih gelap dan sangat ideal untuk pengamatan tanpa gangguan cahaya bulan yang diterangi.
Tips Mengamati Hujan Meteor Orionid
Untuk mendapatkan pengalaman terbaik saat menyaksikan Orionid, beberapa tips penting bisa dilakukan:
- Pilih lokasi observasi yang gelap dan minim polusi cahaya.
- Datang lebih awal agar mata dapat menyesuaikan diri dengan kegelapan sekitar 20-30 menit.
- Kenakan pakaian yang hangat karena suhu malam hari bisa turun cukup drastis.
- Bawa tikar, matras, atau kursi santai untuk kenyamanan saat menunggu meteor muncul.
- Hindari penggunaan ponsel atau alat elektronik dengan cahaya terang agar mata tetap fokus dan adaptasi kegelapan tidak terganggu.
Hujan meteor Orionid bukan hanya sekadar pemandangan alam yang memukau, tetapi juga sebuah momen yang menghubungkan kita dengan sejarah dan keajaiban tata surya. Dengan kecepatan tinggi, cahaya yang terang, serta latar belakang astronomi komet Halley, fenomena ini menawarkan kesempatan langka bagi masyarakat untuk menikmati keindahan alam semesta secara langsung. Bagi penggemar astronomi maupun awam, menyaksikan Orionid di langit malam menjadi acara wajib yang dapat menginspirasi kekaguman dan rasa ingin tahu terhadap ruang angkasa.
Source: www.beritasatu.com
