Fenomena meteor yang melintas dan jatuh di langit Cirebon pada Sabtu malam, 4 Oktober 2025, menarik perhatian dan sempat membuat geger warga setempat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa cahaya misterius disertai dentuman yang terdengar tersebut merupakan meteor berukuran cukup besar yang memasuki atmosfer dan jatuh di Laut Jawa. Fenomena ini menggarisbawahi potensi dampak dari batuan luar angkasa terhadap wilayah Indonesia, sekaligus membuka peluang penelitian ilmiah yang bermanfaat.
Fenomena Meteor di Langit Cirebon
Menurut ahli astronomi dan astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, meteor melintas dari arah barat daya memasuki wilayah Kuningan dan Cirebon sekitar pukul 18.35-18.39 WIB. Saat memasuki atmosfer bagian bawah, meteor menimbulkan gelombang kejut yang terdengar sebagai dentuman dan juga tercatat oleh alat pengukur BMKG Cirebon. “Saya menyimpulkan itu adalah meteor cukup besar yang melintas memasuki wilayah Kuningan-Kabupaten Cirebon dan jatuh di Laut Jawa,” ujar Thomas.
Peristiwa ini menjadi momen penting mengingat Indonesia, sebagai negara yang secara geografis dilalui jalur penerbangan batuan antariksa, berpotensi terkena dampak jatuhan meteor yang bisa menimbulkan bahaya fisik maupun kesempatan ilmiah.
Manfaat Ilmiah dari Jatuhan Meteor
Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Nugroho Imam Setiawan, menuturkan bahwa jatuhan meteor menyimpan manfaat besar, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan. Melalui analisis batuan meteor, ilmuwan dapat mempelajari komposisi material dari tata surya, mengetahui usia meteorit yang secara tidak langsung memberikan informasi mengenai umur bumi, serta mengungkap karakteristik planet dan objek langit lainnya.
“Meteorasi membantu kita memperoleh informasi tentang batuan yang berasal dari ruang angkasa serta kandungan mineral di dalamnya,” jelas Nugroho. Proses ini sangat penting untuk memperdalam pemahaman tentang tata surya dan meningkatkan wawasan geologi serta astronomi.Dr. Nugroho juga menekankan pentingnya pengambilan sampel meteorit dalam waktu singkat setelah jatuh untuk menjaga keaslian kandungan batuan. Jika lama tertimbun tanah atau mengalami pelapukan, nilai ilmiah meteorit bisa menurun drastis. Oleh karena itu, daerah kutub seperti Antartika menjadi situs favorit dalam menemukan meteorit karena lapisan salju memudahkan pendeteksian dan menjaga keaslian meteorit.
Risiko dan Potensi Bahaya Meteor Jatuh
Di balik manfaatnya, fenomena jatuhan meteor juga menyimpan risiko. Meteor berukuran besar yang jatuh di wilayah pemukiman atau perairan dapat menimbulkan kerusakan fisik bahkan bencana alam seperti tsunami. Dr. Nugroho mengingatkan masyarakat agar tetap waspada walaupun insiden meteor berupa batuan besar dan mematikan sebenarnya jarang terjadi.
Kekhawatiran publik pun sempat meningkat dengan berita prediksi asteroid yang disebut akan mendekati dan berpotensi menabrak bumi pada tahun 2032. Namun, pakar geologi ini menilai ancaman tersebut sangat kecil kemungkinan terjadi. Perlindungan bumi melalui atmosfer dapat mengecilkan ukuran meteor dan mengurangi dampak langsungnya ketika memasuki atmosfer bumi. “Prediksi itu sangat memungkinkan sekali untuk tidak terjadi,” ujar Nugroho.
Fenomena meteor di Cirebon ini bukan hanya sekadar tontonan alam, tapi juga pengingat bahwa Indonesia perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi dampak benda antariksa. Selain itu, fenomena ini membuka peluang studi astronomi dan geologi yang dapat berkontribusi pada ilmu pengetahuan global.
Informasi Tambahan Tentang Meteor
Meteor adalah batuan atau debris dari ruang angkasa yang jika memasuki atmosfer bumi akan terbakar dan menghasilkan cahaya terang, sering disebut sebagai ‘bintang jatuh’. Bila meteoroid berhasil sampai ke permukaan bumi tanpa terbakar habis, benda itu disebut meteorit. Perbedaan jelas antara meteoroid, meteor, dan meteorit penting untuk diketahui agar masyarakat tidak salah informasi terkait fenomena langit.
Fenomena meteor di berbagai wilayah Indonesia kadang hadir bersamaan dengan gelombang kejut suara, terutama jika meteor berukuran besar. Peristiwa langka seperti di Cirebon dapat memberikan data penting bagi para ilmuwan untuk terus memantau aktivitas benda luar angkasa di sekitar bumi.
Melalui kajian dan pengembangan teknologi deteksi, diharapkan Indonesia dapat semakin siap menghadapi setiap potensi ancaman meteor sekaligus memanfaatkan setiap fenomena untuk kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih luas.
Source: www.beritasatu.com
