Awas Hujan Ekstrem Melanda NTT, BMKG Ungkap Peran Bibit Siklon 97S dan Peringatan Cuaca 19-21 Jan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan ekstrem yang akan melanda beberapa wilayah di Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT). Peringatan ini dikeluarkan menyusul adanya bibit siklon tropis yang terbentuk di Laut Timor yang berdampak pada cuaca buruk dalam beberapa hari mendatang.

BMKG menginformasikan bahwa pada periode tiga hari ke depan, sejumlah daerah di NTT seperti Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Flores Timur, Lembata, Belu, dan Alor akan berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem. Hujan dengan curah mencapai 150 mm per hari ini diperkirakan akan berlangsung sejak hari pertama peringatan.

Penyebab utama kondisi cuaca ekstrem ini adalah keberadaan bibit siklon tropis 97S yang mulai terbentuk di Laut Timor pada pertengahan Januari. Meski peluangnya masih terbilang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis, bibit siklon tersebut sudah cukup kuat untuk memengaruhi pola hujan di wilayah sekitarnya. BMKG menyatakan bibit siklon ini bergerak perlahan ke arah barat dalam 24 jam ke depan.

Dampak tidak langsung dari bibit siklon ini tidak hanya dirasakan di NTT. Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) juga berpotensi menerima hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Selain meningkatkan curah hujan, bibit siklon 97S juga meningkatkan risiko angin kencang yang dapat memperparah kondisi cuaca ekstrem.

Gelombang laut tinggi turut menjadi dampak lain yang perlu diwaspadai masyarakat pesisir. BMKG memperkirakan gelombang setinggi 1,25-2,5 meter akan terjadi di Laut Banda, Laut Flores, sejumlah perairan Kepulauan Kei, Aru, Babar, dan Tanimbar serta Laut Arafuru bagian utara, tengah, dan timur. Di beberapa wilayah, gelombang bahkan dapat mencapai ketinggian 2,4-4 meter, terutama di Perairan Kupang, Laut Sawu, Samudra Hindia selatan NTT, serta Laut Arafuru bagian barat.

Selain NTT dan NTB, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini untuk sejumlah wilayah lain di Indonesia terkait risiko hujan dan angin kencang dalam tiga hari ke depan. Berikut rincian peringatan cuaca yang dikeluarkan:

  1. 19 Januari

    • Waspada: Hujan sedang hingga lebat di Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan sejumlah wilayah lainnya.
    • Siaga: Hujan lebat hingga sangat lebat di Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.
    • Awas: Hujan sangat lebat hingga ekstrem di NTT.
    • Angin kencang: Berpotensi terjadi di Banten, Bengkulu, Maluku, NTT, Papua, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
  2. 20 Januari

    • Waspada: Hujan sedang hingga lebat meliputi Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan wilayah lainnya.
    • Siaga: Hujan lebat hingga sangat lebat di Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Bali, NTB, Sulawesi Selatan.
    • Awas: Hujan sangat lebat hingga ekstrem kembali di NTT.
    • Angin kencang: Berisiko terjadi di Bali, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, Papua, dan Sulawesi.
  3. 21 Januari
    • Waspada: Hujan sedang hingga lebat di Sumatera Selatan, Lampung, Yogyakarta, Sulawesi Utara, dan kawasan lainnya.
    • Siaga: Hujan lebat hingga sangat lebat di Bengkulu, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, NTB, dan Sulawesi Selatan.
    • Awas: Hujan sangat lebat hingga ekstrem tetap berstatus di NTT.
    • Angin kencang: Dikeluarkan untuk Bali, Banten, Yogyakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan wilayah lainnya.

Peringatan dini cuaca tersebut bertujuan agar masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana, lebih waspada dan mempersiapkan langkah antisipasi. Wilayah pesisir juga disarankan untuk memonitor perkembangan cuaca dan gelombang laut yang dapat memengaruhi aktivitas nelayan serta keselamatan masyarakat sekitar pantai.

BMKG memberikan himbauan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan saat hujan ekstrem dan angin kencang terjadi. Pemerintah daerah diharapkan memperkuat koordinasi serta kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan kerusakan infrastruktur.

Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi bukan hanya risiko lokal, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas sosial ekonomi, terutama di sektor pertanian, perikanan, dan transportasi. Oleh sebab itu, data dan informasi cuaca dari BMKG harus menjadi acuan bagi seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mitigasi risiko yang maksimal.

Penting untuk terus memantau informasi terbaru dari BMKG melalui kanal resmi agar tidak tertinggal update situasi cuaca yang dinamis. Waspada tetap menjadi kunci utama guna mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang dapat membahayakan jiwa dan harta benda.

Dengan situasi ini, berbagai langkah pencegahan dan kesiapsiagaan harus segera diambil agar potensi kerugian bisa diminimalkan. BMKG akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan cuaca yang berlangsung di Nusantara dan sekitarnya dalam waktu dekat.

Exit mobile version