China kembali menunjukkan ambisi besar untuk membangun ekosistem kecerdasan buatan yang tidak lagi bergantung pada Amerika Serikat. Salah satu pemain yang paling mencuri perhatian adalah Zhipu AI, perusahaan spin-off dari Tsinghua University, yang mengklaim berhasil mempercepat penggunaan chip buatan dalam negeri untuk mendukung model AI generasi terbarunya.
Langkah ini menjadi sinyal penting dalam persaingan teknologi global. Di saat sejumlah perusahaan masih bergantung pada chip dan infrastruktur asal AS, Zhipu AI menyebut optimasi mendalam pada chip domestik membuat performa inferensi mereka bisa menyaingi chip asing terbaik di dunia.
Chip domestik makin kompetitif
Zhipu AI menyebut lonjakan permintaan komputasi sejak Februari memaksa perusahaan untuk mengubah strategi teknis secara agresif. Alih-alih mengandalkan sistem luar negeri, perusahaan ini mendorong pemakaian chip lokal agar beban komputasi dapat ditopang lebih mandiri.
CEO Zhipu AI, Zhang Peng, menegaskan bahwa optimalisasi tersebut menghasilkan efisiensi yang tinggi pada model seri GLM. Ia mengatakan model mereka mampu berjalan efektif di atas chip domestik dan mencapai tingkat inferensi yang kompetitif dengan produk asing papan atas, menurut kutipan Reuters.
Perkembangan ini penting karena pasar AI global selama ini banyak bergantung pada ekosistem chip Amerika, terutama untuk pelatihan model besar dan layanan inferensi. Jika klaim Zhipu benar dalam skala operasional nyata, maka posisi China dalam rantai pasok AI akan semakin kuat.
Kinerja bisnis ikut melonjak
Di tengah tekanan pasar dan meningkatnya kebutuhan komputasi, Zhipu AI justru mencatat pertumbuhan bisnis yang sangat cepat. Perusahaan menyebut pendapatannya naik 132% sepanjang 2025, menandakan permintaan terhadap layanan AI mereka terus menguat.
Kenaikan itu tidak hanya datang dari satu lini bisnis. Pendapatan dari pemasangan sistem AI di server lokal klien dilaporkan naik lebih dari dua kali lipat, sementara layanan berbasis cloud meningkat hampir tiga kali lipat. Volume penggunaan layanan API juga melonjak 400%, sehingga perusahaan menaikkan harga API hingga 83% pada kuartal pertama.
Berikut gambaran sederhananya:
| Indikator | Keterangan |
|---|---|
| Pertumbuhan pendapatan | 132% |
| Kenaikan harga API | 83% |
| Lonjakan penggunaan API | 400% |
| Pertumbuhan pendapatan pemasangan sistem lokal | Lebih dari 2 kali lipat |
| Pertumbuhan layanan cloud | Hampir 3 kali lipat |
Data tersebut menunjukkan bahwa pasar domestik China masih sangat besar untuk solusi AI yang cepat, murah, dan bisa diandalkan. Dalam situasi seperti ini, ketergantungan pada teknologi Amerika memang bisa diperkecil, setidaknya untuk kebutuhan tertentu.
GLM-5 jadi ujian penting
Perhatian besar juga tertuju pada model terbaru Zhipu, GLM-5, yang diklaim mampu menyamai pesaing dari AS dalam sejumlah metrik kinerja. Model ini menjadi semacam pembuktian bahwa China tidak hanya bisa membangun aplikasi AI, tetapi juga membentuk tumpukan teknologi yang lebih mandiri.
Bagi industri, pencapaian semacam ini tidak sekadar soal kecepatan model. Hal itu juga menyangkut efisiensi biaya, ketersediaan infrastruktur, dan kemampuan bertahan di tengah pembatasan teknologi lintas negara.
Persaingan di dalam China makin ketat
Meski berkembang cepat, Zhipu tidak bergerak di ruang kosong. Perusahaan ini harus bersaing dengan MiniMax, DeepSeek, Alibaba, dan ByteDance yang juga agresif mengembangkan produk AI.
Tekanan kompetitif itu membuat inovasi berjalan sangat cepat. Dalam pasar yang padat pemain, diferensiasi teknis dan efisiensi operasional menjadi faktor penentu, terutama ketika pelanggan korporasi menuntut hasil yang stabil dan terukur.
Ekspansi luar negeri tetap berjalan
Di tengah persaingan domestik, Zhipu juga mulai mendorong ekspansi ke luar negeri, terutama ke Asia Tenggara. China tetap menjadi pasar utama, tetapi langkah ke pasar regional menunjukkan ambisi perusahaan untuk memperluas pengaruh di luar ekosistem internal negeri itu.
Namun tantangan masih besar karena perusahaan tetap mencatat kerugian 4,72 miliar yuan pada 2025. Meski begitu, manajemen optimistis profit bisa dicapai lebih cepat berkat efisiensi yang meningkat dan perluasan bisnis yang terus berjalan.
Pergerakan Zhipu AI mencerminkan arah baru industri teknologi China: membangun sistem AI yang lebih mandiri, mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat, dan memperkuat posisi di rantai nilai teknologi global. Jika strategi chip domestik dan model AI seperti GLM terus berkembang, peta persaingan antara China dan AS di sektor kecerdasan buatan bisa berubah lebih cepat dari yang diperkirakan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com