Investasi dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) dan data semakin menjadi fokus utama bagi para CEO di seluruh dunia. Sebuah laporan dari PwC mengungkapkan bahwa saat ini 81% CEO menempatkan investasi AI sebagai prioritas utama, naik signifikan dari 60% pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan kesadaran yang lebih besar akan peran AI dalam menjaga daya saing bisnis dan tidak lagi sebatas pada aplikasi dasar seperti chatbot.
Meski begitu, mayoritas perusahaan global belum merasakan keuntungan signifikan dari investasi AI tersebut. Di Inggris, misalnya, hanya 9% organisasi yang berhasil mengimplementasikan dan mengembangkan AI secara efektif di tingkat operasional. Sisanya masih dalam tahap awal atau perencanaan, menandakan bahwa banyak perusahaan menghadapi hambatan serius dalam menjadikan AI sebagai bagian utama bisnis mereka.
Hambatan Implementasi AI di Perusahaan
Menurut laporan PwC, masalah utama bukan berasal dari teknologi AI itu sendiri, melainkan dari tantangan internal perusahaan. Kekurangan tenaga ahli AI menjadi kendala utama, khususnya di Inggris di mana hanya 25% CEO yang yakin mampu mendatangkan talenta AI berkualitas tinggi. Angka ini jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 42%. Hal ini menunjukkan bahwa kesenjangan keterampilan menjadi faktor penghambat yang signifikan bagi kemajuan AI secara menyeluruh.
Birokrasi juga menjadi hambatan besar, dengan sepertiga responden menyebutnya sebagai penghalang dalam pelaksanaan strategi AI. Selain itu, hampir 29% responden mengeluhkan kendala pada infrastruktur teknologi internal. Hal tersebut memperlihatkan bahwa selain kebutuhan sumber daya manusia, perusahaan juga harus memperbaiki sistem dan proses internal agar investasi AI dapat memberikan hasil optimal.
Pertumbuhan Pendapatan Terkait AI
Meskipun banyak hambatan, ada tanda-tanda positif dari penggunaan AI di perusahaan tertentu. Sekitar 30% CEO di Inggris melaporkan adanya pertumbuhan pendapatan yang mereka kaitkan dengan penerapan AI. Rata-rata global yang melaporkan hal serupa adalah 26%. Ini memberikan indikasi bahwa upaya bisnis di Inggris mendapatkan sedikit keuntungan lebih cepat dari penggunaan AI dibandingkan wilayah lain meskipun mereka tetap merasa investasi saat ini belum mencapai tingkat optimal.
Strategi Membangun Fondasi AI
PwC menekankan pendekatan ‘foundations first’, yakni membangun terlebih dahulu keterampilan, infrastruktur, serta tata kelola AI yang kuat. Hampir 49% perusahaan secara aktif mendirikan fondasi ini dengan fokus pada aspek data, etika, kepatuhan, dan keamanan. Pendekatan ini dianggap penting agar transformasi berbasis AI tidak hanya berhasil di level teknologi, tetapi juga terintegrasi dalam tata kelola perusahaan.
Selain itu, terdapat ketertarikan besar pada teknologi AI generasi berikutnya, khususnya agentic AI, yaitu AI yang dapat bertindak secara lebih mandiri dan menjadi bagian aktif proses bisnis. Saat ini sekitar 81% perusahaan sedang menjajaki atau mengembangkan teknologi ini sebagai langkah lanjut transformasi digital mereka.
Agentic AI dan Masa Depan Transformasi Bisnis
Umang Paw, CTO PwC, menyoroti peran agentic AI sebagai kunci perubahan mendalam dalam cara perusahaan menjalankan operasionalnya. Dia menyebutkan bahwa organisasi yang mengintegrasikan AI secara strategis dan dipimpin dari sisi bisnis akan lebih cepat merasakan manfaat besar dibandingkan yang hanya menganggap AI sebagai proyek teknologi semata.
Hal ini menandakan bahwa AI bukan hanya soal penerapan teknologi baru, tetapi juga kebutuhan untuk membangun visi bisnis yang jelas dan kemampuan adaptasi dalam menghadapi perubahan. Organisasi yang mampu menyesuaikan strategi dan budaya perusahaan terhadap AI akan lebih siap membentuk lanskap persaingan di masa depan.
Fakta Penting dari Laporan PwC tentang Investasi AI:
- 81% CEO memprioritaskan investasi AI dan data.
- Hanya 9% organisasi di Inggris yang sukses mengembangkan AI secara skala operasional.
- 25% CEO Inggris percaya bisa menarik talenta AI berkualitas, dibanding rata-rata global 42%.
- Sepertiga responden menyebut birokrasi sebagai hambatan utama.
- 30% CEO Inggris melaporkan pertumbuhan pendapatan berkat AI.
- 49% perusahaan membangun fondasi AI terintegrasi pada data, etika, dan keamanan.
- 81% perusahaan tengah mengembangkan agentic AI.
Data tersebut menunjukkan bahwa sementara investasi pada AI semakin intensif, beberapa perusahaan masih harus mengatasi tantangan internal agar dapat menuai hasil optimal. AI berpotensi mengubah bisnis secara signifikan, tetapi eksekusi yang matang dan dukungan keterampilan serta tata kelola menjadi faktor krusial bagi keberhasilan jangka panjang.
Para pemimpin bisnis dunia kini dituntut tidak hanya berani berinvestasi pada AI, tetapi juga mampu memandu perusahaan melalui proses transformasi yang kompleks agar mendapatkan manfaat yang lebih nyata. Keberlanjutan dan keberhasilan investasi AI bergantung pada kesiapan organisasi dalam menghadapi berbagai kendala internal dan memanfaatkan teknologi AI generasi terbaru secara efektif.
