Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, Meutya Hafid, menyoroti peran strategis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dalam memperkuat integrasi ekonomi digital kawasan ASEAN. Pernyataan ini disampaikan dalam World Economic Forum (WEF) yang digelar di Davos, Swiss. QRIS, menurut Meutya, telah berhasil menghubungkan sejumlah negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand dalam satu sistem pembayaran digital yang terintegrasi.
Dengan integrasi pembayaran lintas negara melalui QRIS, hambatan transaksi dapat diminimalisir, biaya operasional ditekan, dan akses pasar bagi pelaku usaha regional semakin terbuka luas. Sistem ini menjadi solusi efektif untuk mempercepat proses transaksi serta memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara di Asia Tenggara.
Peran QRIS dalam Digitalisasi ASEAN
QRIS bukan sekadar inovasi domestik, melainkan jembatan penting menuju ekosistem ekonomi digital yang saling terhubung di ASEAN. Meutya menegaskan bahwa digitalisasi tidak hanya mempermudah transaksi, namun juga meningkatkan produktivitas secara signifikan. Inovasi pembayaran digital ini mendukung terciptanya efisiensi dan daya saing baru bagi perusahaan dan UMKM di kawasan.
Indonesia bersama negara anggota ASEAN lainnya terus mendorong penguatan sistem pembayaran terintegrasi sebagai pilar utama mempererat kerja sama ekonomi digital. Pengembangan QRIS menjadi contoh konkret bagaimana negara-negara ASEAN bergerak menuju ekosistem digital yang komprehensif.
Mendorong Integrasi Melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA)
Selain chat pembayaran, Indonesia aktif menginisiasi pelaksanaan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang bertujuan mempercepat integrasi digital kawasan. Meutya menyatakan bahwa DEFA merupakan kerangka kerja esensial untuk menyelaraskan standar layanan digital di seluruh negara anggota. Hal ini menjadi pondasi bagi terciptanya ekosistem digital yang interoperabel dan berkelanjutan.
DEFA juga berperan mengurangi fragmentasi kebijakan di bidang digital yang selama ini menjadi kendala utama dalam ekspansi bisnis lintas negara. Kepastian regulasi dalam DEFA memberikan ruang lebih luas bagi para pelaku usaha untuk berinovasi dan berinvestasi di berbagai sektor digital, sehingga perekonomian ASEAN dapat tumbuh secara inklusif dan kompetitif.
ASEAN di Titik Strategis Transformasi Digital
Menurut Meutya, ASEAN kini memasuki tahap penting dalam perjalanan digitalisasi, yakni bergeser dari integrasi parsial menuju pembangunan ekosistem digital utuh dan berdaulat. Hal ini menandai kesiapan kawasan dalam menghadapi tantangan dan peluang ekonomi global yang semakin dipengaruhi teknologi digital.
Komitmen Indonesia dalam kolaborasi bersama seluruh negara anggota ASEAN dan mitra global menjadi kunci keberhasilan transformasi ini. Upaya bersama difokuskan pada percepatan proses digitalisasi yang aman, inklusif, dan efektif. Meutya percaya bahwa dengan strategi yang tepat, ASEAN mampu menghadirkan daya saing global sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Fakta Penting Mengenai Integrasi Digital ASEAN:
- QRIS sudah terhubung dengan mitra di Singapura, Malaysia, dan Thailand.
- Integrasi ini menekan biaya dan memperluas akses pasar pelaku usaha.
- Digitalisasi diyakini meningkatkan produktivitas ekonomi kawasan.
- DEFA menyediakan kerangka regulasi dan standar interoperabilitas digital.
- ASEAN bergerak dari integrasi parsial menuju ekosistem digital yang lengkap.
Transformasi digital melalui sistem pembayaran terintegrasi dan kerangka kerja seperti DEFA merupakan langkah konkret untuk membangun ASEAN yang lebih terhubung secara elektronik dan ekonomi. Konsep ini mendukung visi kawasan menjadi pusat ekonomi digital global dengan daya saing kuat dan pemerataan kesejahteraan antarnegara anggota.







