Indonesia menghadapi krisis infrastruktur kabel laut di wilayah tengah. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan lonjakan kebutuhan konektivitas digital yang sangat besar.
Asosiasi Penyelenggara Sistem Komunikasi Kabel Laut Seluruh Indonesia (Askalsi) mengungkapkan defisit kabel laut sebagai tulang punggung komunikasi digital nasional sangat terlihat di wilayah tengah. Tingkat konektivitas di bagian ini masih relatif rendah dan perlu segera diatasi.
Kebutuhan Kapasitas Bandwidth yang Meningkat
Permintaan kapasitas bandwidth terus melonjak tajam. Lonjakan ini dipicu oleh penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif dan jaringan 5G yang sedang dipercepat oleh operator seluler. Selain itu, rencana pembangunan Fixed Wireless Access (FWA) di frekuensi 1,4 GHz juga menambah tekanan kebutuhan infrastruktur digital.
Sekretaris Jenderal Askalsi, Resi Y. Bramani menjelaskan bahwa komunikasi telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat, sehingga pengembangan kabel laut di wilayah tengah memberikan peluang besar. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi magnet bagi investor dan membuka ruang pembiayaan lebih efisien untuk infrastruktur telekomunikasi.
Namun, penyediaan kabel laut di wilayah ini menghadapi kendala teknis dan lingkungan yang signifikan. Faktor cuaca yang sulit diprediksi serta kondisi perairan yang menantang menimbulkan risiko tinggi pada penggelaran kabel.
Risiko Kerusakan Kabel Laut yang Tinggi
Insiden putusnya kabel laut di Indonesia cukup sering terjadi, terutama di wilayah tengah. Risiko kerusakan juga tinggi lantaran lalu lintas kapal yang sibuk, aktivitas nelayan dengan alat tangkap ikan, serta kerusakan akibat jangkar kapal yang tenggelam atau tidak terkendali.
Direktur Utama PT Triasmitra, Titus Dondi Patria, menegaskan bahwa kabel laut dilindungi oleh regulasi ketat. Kerusakan akibat kelalaian diatur dalam sanksi pidana untuk memberikan efek jera.
Meski demikian, sepanjang tahun sebelumnya terjadi banyak insiden kabel putus, perusahaan berhasil menekan angka kejadian tersebut mulai tahun berikutnya. Saat ini, TRIasmitra telah mengoperasikan lima sistem kabel laut di Indonesia.
Proyek Kabel Laut Triasmitra di Wilayah Tengah
Triasmitra tengah melaksanakan proyek penggelaran kabel laut sepanjang 8.732 kilometer yang melayani wilayah tengah Indonesia. Rute kabel ini dikembangkan dalam lima segmen untuk menghubungkan 18 daerah strategis, antara lain:
- Tanjung Pakis
- Tanjung Pandan
- Ketapang
- Pangkalan Bun
- Takisung
- Banyuurip
- Makassar
- Amlapura
- Mataram
- Labuan Bajo
- Kendari
- Morowali
- Luwuk
- Kema
- Manado
- Toli-Toli
- Tarakan
- Balikpapan
Proyek ini menggunakan teknologi kabel repeater dengan kapasitas hingga 24 terabit per detik dan mencakup pembangunan 16 fiber pair. Target penyelesaian (ready for service) dijadwalkan pada akhir 2027.
Penggelaran kabel laut ini dilaksanakan dengan kapal cable laying vessel Bentang Bahari, dan direncanakan berlangsung selama dua tahun, mulai tahun depan hingga dua tahun ke depan.
Dukungan dan Investasi Infrastruktur Kabel Laut
Selain inisiatif dari dalam negeri, ada kabar bahwa China Mobile juga akan menarik kabel laut baru ke Indonesia dalam waktu dekat. Inisiatif ini dapat membantu memperkuat konektivitas nasional, khususnya di wilayah yang masih kurang terlayani.
Upaya bersama dari perusahaan lokal dan kerja sama internasional menjadi kunci untuk mengatasi krisis kabel laut. Penguatan infrastruktur ini akan menjadi fondasi penting dalam memenuhi kebutuhan 5G dan AI yang terus meningkat secara drastis.
Indonesia tengah berada pada titik krusial bagi transformasi digital nasional. Oleh karena itu, pengembangan jaringan kabel laut yang andal, cepat, dan aman sangat dibutuhkan untuk mendorong era konektivitas digital yang lebih maju.
