PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) memberikan respons positif terhadap target terbaru yang dicanangkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk menekan harga layanan broadband agar lebih terjangkau pada tahun 2026. Komdigi menetapkan sasaran rasio harga layanan jaringan pita lebar tetap terhadap pendapatan per kapita sebesar 4%. Ini merupakan penurunan signifikan dibandingkan dengan target-target sebelumnya dalam Rencana Strategis Komdigi 2025–2029.
Menurut Abdullah Fahmi, VP Corporate Communications and Social Responsibility Telkomsel, harga layanan internet di Indonesia saat ini sudah cukup kompetitif jika dikaji berdasarkan rasio harga terhadap pendapatan masyarakat. Telkomsel selama ini berkomitmen menyeimbangkan antara harga yang terjangkau, kualitas layanan yang tinggi, dan keberlanjutan investasi dalam pengembangan jaringan.
Upaya Telkomsel dalam Mendukung Keterjangkauan Broadband
Telkomsel menjalankan berbagai langkah strategis untuk menjaga keterjangkauan harga layanan broadband. Langkah tersebut meliputi efisiensi operasional yang berkelanjutan, modernisasi jaringan dengan teknologi terbaru, serta pengembangan paket data yang inklusif dan sesuai dengan kebutuhan beragam pelanggan. Mengingat struktur biaya yang kompleks dalam industri telekomunikasi, termasuk regulasi dan kewajiban operasional, Telkomsel menilai dukungan kebijakan dari pemerintah amat dibutuhkan.
Fahmi mengungkapkan bahwa sinergi antara pemerintah dan industri telekomunikasi menjadi krusial agar target keterjangkauan dan kualitas layanan broadband dapat tercapai secara optimal dan berkelanjutan. Kolaborasi ini diyakini mampu mempercepat pertumbuhan ekosistem digital nasional serta mendukung ekonomi digital Indonesia dalam jangka panjang.
Target Cakupan Layanan Mobile Broadband dan Pengembangan Jaringan 5G
Selain fokus pada keterjangkauan harga, Komdigi juga menetapkan target ambisius terkait cakupan layanan broadband bergerak. Dokumen Renstra Komdigi mengatur bahwa cakupan mobile broadband minimal 4G/LTE harus mencapai 97,50% di seluruh wilayah permukiman pada 2026. Target ini kemudian meningkat bertahap hingga mencapai 98% pada 2029.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada 2024 cakupan layanan sudah mencapai 97,16%, mendekati target 2025 yang sebesar 97,30%. Kemajuan ini menunjukan upaya perluasan jaringan broadband yang terus berjalan meski masih terdapat sedikit selisih dari target.
Komdigi juga menetapkan target khusus bagi jaringan 5G terkait blank spot sinyal, yaitu agar persentase daerah tanpa sinyal 5G tidak melebihi 4,44% di wilayah permukiman dan jalur transportasi utama. Selain itu, kementerian menargetkan hadirnya satu kota berkonsep gigacity pada 2026 dan penambahan 29 kabupaten/kota berkonsep gigacity pada 2027, sebagai bagian dari pengembangan teknologi jaringan dan layanan digital yang lebih maju.
Peran Industri dalam Mendukung Transformasi Digital Nasional
Telkomsel memandang penting peran aktif operator seluler dalam mendukung target pemerintah. Kunci keberhasilan peningkatan keterjangkauan dan kualitas layanan broadband terletak pada keseimbangan antara inovasi teknologi, regulasi yang kondusif, dan investasi yang berkelanjutan. Kebijakan yang mendukung efisiensi operasional dan penurunan biaya menjadi faktor utama agar harga layanan dapat ditekan.
Telkomsel menyatakan kesiapan dan komitmennya untuk terus meningkatkan kapasitas serta kualitas jaringan demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan internet yang menjangkau lebih luas dengan harga yang lebih bersahabat. Upaya ini juga diharapkan dapat memperkuat ekosistem digital yang inklusif dan mendorong percepatan ekonomi berbasis teknologi.
Dengan target-target strategis Komdigi yang jelas dan dukungan penuh dari pelaku industri, Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk mewujudkan akses broadband yang merata dan terjangkau sekaligus memperkokoh fondasi pengembangan ekonomi digital nasional. Telkomsel menegaskan kolaborasi erat dengan pemerintah menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan tersebut secara berkelanjutan.





