China Kembangkan AI Drone Militer Canggih, Ketakutan Trump Soal Ancaman AS Jadi Nyata

Seiring meningkatnya persaingan teknologi global, China kini menunjukkan langkah agresif dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) untuk keperluan militer. Ketakutan yang pernah diungkapkan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai kekuatan militer China yang semakin maju dengan AI, kini semakin menjadi kenyataan secara nyata.

Amerika Serikat selama ini aktif menghambat ekspor chip canggih untuk AI ke China guna membatasi kemajuan teknologi militer Beijing. Namun, alih-alih bergantung pada teknologi asing, China justru mempercepat pengembangan chip sendiri untuk mengurangi ketergantungan.

Inovasi Drone Berbasis Perilaku Hewan

Penelitian di Beihang University, salah satu kampus yang berafiliasi dengan militer China, berhasil mengembangkan sistem drone yang meniru perilaku hewan dalam berperang. Model drone defensif diibaratkan seperti elang yang menyerang target paling rentan, sedangkan drone penyerang berperilaku seperti merpati yang lincah menghindari serangan.

Dalam simulasi 5 lawan 5, drone ‘elang’ mampu menghancurkan drone ‘merpati’ dalam waktu hanya 5,3 detik. Inovasi ini telah mendapat paten resmi dan menjadi bagian penting dalam program pertahanan China.

Kawanan Drone sebagai Kunci Revolusi Perang

Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menganggap kecerdasan buatan sebagai kunci mengoperasikan drone dan robot tempur tanpa kendali manusia secara langsung. Konsep “perang kawanan drone” dijuluki sebagai revolusi peperangan baru setara dampaknya dengan penemuan bubuk mesiu pada masa lalu.

China memiliki produksi drone massal yang sangat besar, lebih dari satu juta unit murah per tahun. Jumlah ini jauh melampaui produksi Amerika Serikat, yang hanya puluhan ribu unit dengan biaya jauh lebih tinggi.

Selain Drone, Robot ‘Serigala’ Menguatkan Pasukan

China juga mengembangkan robot ‘serigala’ bersenjata yang beroperasi bersama kawanan drone udara. Teknologi ini belum banyak dimiliki negara lain dan menunjukkan tingkat integrasi AI yang tinggi dalam strategi militer.

Dokumen pengadaan militer China juga mengungkap riset sistem perang kognitif yang mencakup penyebaran deepfake, robot anjing tempur, dan penggunaan suara terarah untuk menyerang musuh. Namun, teknologi ini masih dalam tahap pengembangan dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi risiko keselamatan.

Dominasi Paten AI Kawanan Drone

Sejak 2022, institusi militer China telah mengajukan sekitar 930 paten yang berkaitan dengan kecerdasan kawanan drone. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat yang hanya mencatat 60 paten serupa.

AS memang mengembangkan teknologi drone, tetapi fokusnya lebih pada integrasi antara drone individual dan prajurit manusia daripada kawanan otomatis.

Potensi Dampak Konflik Regional

Para analis militer menilai bahwa gabungan AI dan jumlah drone masif ini bisa memungkinkan China membanjiri sistem pertahanan musuh dalam konflik seperti di Taiwan. Kepadatan tembakan yang terus-menerus membuat pertahanan lawan jadi sangat sulit berhasil.

Stacie Pettyjohn dari Center for a New American Security menyatakan bahwa teknologi tersebut akan memperumit operasi defensif Taiwan secara signifikan.

Risiko dan Kekhawatiran Etis

Meski teknologi ini membawa keunggulan strategis, ahli militer dan pakar AI mewaspadai risiko jika keputusan mematikan diambil tanpa kontrol manusia. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan fatal dalam situasi perang elektronik dan mengaburkan tanggung jawab hukum.

Zhu Qichao dari Universitas Pertahanan Nasional China mengingatkan bahwa ‘kotak hitam algoritma’ yang tidak transparan bisa menjadi alasan bagi pihak terkait untuk menghindari pertanggungjawaban atas tindakan militer berbasis AI.

China pun tidak berhenti meneliti perilaku hewan lain seperti semut, koyote, domba, paus, dan lalat buah untuk terus meningkatkan kemampuan koordinasi kawanan drone mereka.

Dengan perkembangan teknologi yang cepat dan ambisi besar Beijing, dunia mulai menyaksikan realisasi ketakutan besar AS terhadap dominasi militer China yang berbasis AI. Situasi ini menandai babak baru dalam persaingan teknologi tinggi yang akan menentukan dinamika keamanan global di masa depan.

Terkait