Tether, perusahaan stablecoin terbesar di dunia, mulai mengalihkan sebagian portofolio investasinya ke emas batangan. Langkah ini diambil menyusul kondisi ekonomi global yang dinilai tidak stabil dan penuh ketidakpastian oleh CEO Paolo Ardoino. Ia menyebut situasi dunia saat ini “tidak baik-baik saja” dan mendorong perusahaan untuk memperkuat cadangan aset fisik seperti emas.
Data terbaru menunjukkan bahwa Tether telah memiliki 130 metrik ton emas batangan yang digunakan sebagai jaminan bagi produk-produknya. Pada kuartal IV, perusahaan menambah 27 ton emas, dan dalam beberapa bulan terakhir terus membeli sekitar dua ton emas per minggu. Ardoino mengungkapkan bahwa rencana alokasi emas dalam portofolio mencapai 10% hingga 15%, di samping 10% portofolio yang juga dialokasikan ke Bitcoin.
Mengapa Emas Menjadi Pilihan?
Harga emas mencatat kenaikan signifikan sepanjang tahun lalu, dengan pertumbuhan mencapai 64%. Kenaikan ini tercatat sebagai rekor tertinggi (all-time high/ATH), yang menurut Ardoino adalah refleksi dari ketakutan pasar terhadap ketidakpastian ekonomi dan gejolak geopolitik yang terus terjadi. Emas dianggap sebagai instrumen investasi yang lebih aman di tengah volatilitas pasar dan penurunan kepercayaan terhadap mata uang fiat.
Tether selama ini memanfaatkan emas sebagai jaminan penopang stablecoin USDT, yang saat ini memiliki nilai token beredar sekitar US$186 miliar. Selain itu, token emas Tether juga menunjukkan nilai beredar mencapai US$2,7 miliar. Keberadaan emas dalam cadangan ini memberikan stabilitas tambahan bagi nilai USDT dan token terkait.
Strategi Investasi Tether
Perusahaan merencanakan untuk mengambil keputusan terkait pembelian emas batangan setiap kuartal. Emas fisik tersebut disimpan di fasilitas aman di Swiss, sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset. Selain emas, Tether juga mengalokasikan investasinya pada surat utang pemerintah Amerika Serikat, Bitcoin, serta saham sektor teknologi dan perusahaan royalti emas.
Investasi beragam ini bertujuan untuk menjaga likuiditas sekaligus memaksimalkan keuntungan pada portofolio perusahaan. Ardoino optimis bahwa laba Tether pada tahun ini akan melebihi US$10 miliar, berpotensi menyamai posisi laba US$13,7 miliar yang dicapai pada tahun 2024.
Faktor Global yang Mendorong Peralihan ke Emas
Pandemi Covid-19 yang mengguncang pasar sejak 2020, ditambah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, membuat perusahaan seperti Tether mencari instrumen investasi yang lebih stabil. Keputusan untuk meningkatkan kepemilikan emas merupakan respons terhadap tren global di mana investor semakin melepas aset berisiko tinggi dan memperbanyak aset safe haven.
Kondisi ini juga mencerminkan perubahan pandangan yang lebih luas di sektor keuangan dan kripto. Meski Bitcoin dan aset digital lain masih diminati, adanya proteksi dengan membeli aset fisik seperti emas memperingatkan pergeseran strategi investasi menjadi lebih hati-hati dan terukur.
Rincian Alokasi Investasi Tether
- 10%-15% portofolio dialokasikan ke emas batangan.
- Sekitar 10% portofolio dialokasikan ke Bitcoin.
- Cadangan dibangun dengan surat utang pemerintah Amerika Serikat.
- Investasi tambahan pada sektor teknologi dan perusahaan royalti emas.
Tether telah mengembangkan model investasi yang kuat dengan berfokus pada kombinasi aset digital dan fisik. Pendekatan ini diharapkan akan memberikan stabilitas nilai yang lebih baik bagi produk stablecoin dan menjaga posisi Tether sebagai salah satu pemain utama di industri kripto.
Keputusan Tether ini menjadi sinyal penting bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas kembali mendapat perhatian sebagai aset lindung nilai yang tangguh. Peralihan sebagian portofolio dari kripto ke emas mencerminkan kehati-hatian yang meningkat di kalangan investor dan perusahaan, mengantisipasi dinamika pasar yang terus berubah dan penuh risiko.







