Cuma Rp 170 Ribuan, Kepala Boneka Ronaldo-Messi Bisa Mengecoh Sistem Autopilot Tesla

Trik sederhana dengan boneka kepala Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi membuat sistem pemantau pengemudi Tesla kembali disorot. Hanya dengan aksesori murah sekitar USD 10, sebagian pemilik mobil disebut bisa mengecoh kamera interior yang seharusnya memastikan pengemudi tetap fokus saat Autopilot atau Full Self-Driving aktif.

Fenomena ini ramai dibicarakan di media sosial, terutama di kalangan pemilik Tesla di China. Sorotan muncul karena celah itu menyentuh salah satu lapisan keselamatan paling penting pada mobil modern berbasis bantuan mengemudi.

Tesla menempatkan kamera kecil di atas spion tengah untuk menjalankan Driver Monitoring System atau DMS. Kamera berbasis AI itu bertugas memantau mata dan gerakan kepala pengemudi selama fitur bantuan mengemudi digunakan.

Saat sistem mendeteksi pengemudi lengah, bermain ponsel, atau mengantuk, mobil akan mengeluarkan peringatan. Fungsi ini dirancang agar pengemudi tetap siaga, karena Autopilot dan FSD tetap membutuhkan pengawasan manusia.

Masalahnya, sebagian pengguna menemukan cara untuk mengelabui kamera tersebut. Mereka menempelkan miniatur kepala figur publik ke kaca depan mobil, tepat di depan kamera interior Tesla, dengan bantuan suction cup.

Objek itu bukan dipakai oleh pengemudi, melainkan diposisikan agar tertangkap kamera dari sudut yang tepat. Karena kamera berada cukup tinggi dan menyorot ke bawah ke arah kursi pengemudi, kepala boneka yang diam dengan detail wajah dianggap sebagai wajah manusia yang sedang memperhatikan jalan.

Nama-nama yang muncul dalam tren ini bukan tokoh sembarangan. Miniatur kepala Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, hingga Dwayne “The Rock” Johnson disebut dipakai untuk tujuan yang sama, yakni membuat sistem membaca ada wajah manusia yang aktif di balik kemudi.

Secara visual, trik ini terdengar konyol. Namun implikasinya serius, karena sistem yang mestinya mendeteksi perhatian pengemudi justru bisa tertipu oleh wajah plastik statis.

Carscoops dan Digital Trends ikut menyoroti praktik ini setelah videonya menyebar luas. Perbincangan makin ramai karena metode tersebut dinilai sangat murah, mudah dilakukan, dan berpotensi mengurangi fungsi pengamanan yang sudah dibangun Tesla.

Laporan Wired menambah kekhawatiran itu dengan contoh uji coba di dunia nyata. Seorang pemilik Tesla Model 3 mengaku sempat mencoba trik tersebut dalam perjalanan jauh dan mobil tetap melaju sekitar 30 menit tanpa memunculkan peringatan distracted-driver, meski ia melakukan aktivitas lain.

Pengakuan itu menunjukkan persoalannya bukan sekadar eksperimen lucu untuk media sosial. Jika sistem bisa dibohongi dalam durasi cukup lama, maka risiko penyalahgunaan fitur bantuan mengemudi ikut meningkat.

Celah pada sistem pemantauan

DMS pada dasarnya bekerja dengan membaca arah pandang dan gerakan kepala. Ketika kamera hanya melihat pola wajah yang tampak meyakinkan dari sudut tertentu, sistem bisa salah menilai bahwa pengemudi berada dalam kondisi siaga.

Di sinilah kelemahan pendekatan berbasis visual terlihat. Wajah tiruan dengan bentuk detail ternyata cukup untuk menciptakan sinyal palsu bagi sistem, setidaknya pada kondisi tertentu yang kini ramai diperbincangkan pengguna.

Praktik akal-akalan itu juga disebut berkembang seiring pembaruan sistem yang lebih ketat. Setelah Tesla meluncurkan FSD (Supervised) versi yang diklaim lebih keras dalam mengawasi perhatian pengemudi, sebagian pemilik mobil justru mencari cara lain yang lebih canggih.

Metode berikutnya tidak lagi mengandalkan boneka plastik. Beberapa pengguna memasang layar monitor mini di depan kamera Tesla, lalu memutar video pendek berisi wajah manusia asli yang berkedip dan menoleh secara natural.

Cara itu dirancang agar tampak lebih hidup dibanding kepala boneka statis. Jika benar efektif, trik tersebut menunjukkan bahwa tantangan sistem pemantauan bukan hanya mengenali wajah, tetapi juga membedakan manusia sungguhan dari simulasi visual yang semakin meyakinkan.

Kasus ini kembali mengingatkan bahwa teknologi bantuan mengemudi masih sangat bergantung pada perilaku pengguna. Sistem keselamatan dapat dirancang ketat, tetapi tetap punya celah ketika pemilik kendaraan sengaja berupaya mematikannya secara tidak langsung.

Di sisi lain, viralnya trik boneka kepala ini memperlihatkan tekanan besar bagi produsen mobil untuk terus memperbaiki pengawasan kabin. Kamera interior yang hanya cukup baik untuk membaca wajah mungkin tidak lagi memadai ketika pengguna mulai mencoba menipu sistem dengan objek murah atau video buatan.

Bagi pemilik Tesla, isu ini bukan sekadar soal kreativitas pengguna internet. Yang dipertaruhkan adalah fungsi dasar pengaman saat kendaraan berjalan dengan fitur bantuan mengemudi aktif, terutama ketika sistem mengasumsikan pengemudi masih awas padahal kenyataannya tidak demikian.

Source: oto.detik.com

Terkait