Bitcoin Terjebak di Level Terendah 2 Bulan Usai Warsh Dipilih, ETF Bitcoin Kehilangan Miliaran USD

Author: Qoo Media

Bitcoin kembali stagnan setelah pengumuman penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve yang baru. Pasar kripto tampak kesulitan untuk menemukan sentimen positif, terutama di tengah tekanan keluarnya dana besar-besaran dari produk ETF Bitcoin.

Setelah pengumuman tersebut, Bitcoin sempat turun hingga 4% ke level terendahnya dalam dua bulan di harga $81.045, kemudian pulih tipis ke kisaran $84.000. Pilihan Warsh, mantan gubernur bank sentral dengan rekam jejak kebijakan hawkish, tidak mampu mendorong optimisme trader kripto. Ketidakjelasan sikap Warsh menghadirkan ketidakpastian bagi investor mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve selanjutnya.

Tekanan Eksternal dan Sentimen Pasar

Sementara itu, pasar saham turun dan dolar relatif stabil di dekat posisi terendah empat tahun setelah berita itu beredar. Bitcoin kini merosot lebih dari 30% dari puncaknya pada Oktober lalu. Selain itu, dana yang mengalir keluar dari spot ETF Bitcoin AS terus berlanjut. Selama tiga bulan berturut-turut, 12 ETF Bitcoin yang terdaftar di Bursa AS mencatat penarikan dana bersih mencapai $5,7 miliar, sebuah tren terpanjang sejak peluncuran produk ETF ini. Data dari CoinGlass menunjukkan likuidasi posisi bullish mencapai $1,4 miliar di berbagai token dalam 24 jam terakhir.

Hayden Hughes, mitra umum Tokenize Capital, menyatakan bahwa penunjukan Warsh bisa mendukung ekspektasi penurunan suku bunga di 2026 hingga 2027. Namun, pengalaman dan kecenderungan ekonom Warsh membuatnya berhati-hati dalam menurunkan suku bunga secara cepat dan ekstrem.

Pergerakan Dana dan Pilihan Investor

Binance mengumumkan akan mengonversi sekitar $1 miliar asetnya yang disimpan dalam stablecoin ke Bitcoin dalam 30 hari ke depan. Dana cadangan darurat Binance, SAFU, didirikan untuk memberikan kompensasi jika terjadi kegagalan keamanan atau kerusakan platform.

Peralihan dana dari Bitcoin ke aset aman tradisional tercermin dari melonjaknya harga emas dan logam mulia lainnya. Investor cenderung menghindari cryptocurrency di tengah ketidakpastian geopolitik. Analis pasar FxPro, Alex Kuptsikevich, menilai bahwa cryptocurrency saat ini gagal berfungsi sebagai alternatif uang fiat maupun lindung nilai terhadap kebijakan finansial tidak bertanggung jawab negara besar.

Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa BlackRock’s iShares Bitcoin Trust, ETF Bitcoin terbesar dan salah satu peluncuran dana paling sukses, kini aset totalnya tertinggal dibandingkan BlackRock’s Gold ETF. Ini menandakan perubahan preferensi investor ke arah aset tradisional.

Pergerakan Harga dan Proyeksi Ke Depan

Jake Ostrovskis dari Wintermute mencatat bahwa Bitcoin mengalami penjualan bersamaan dengan aksi jual saham teknologi. Namun, pembeli mulai muncul di level saat ini sehingga harga Bitcoin bergerak di kisaran $85.000 hingga $90.000 sebelum jeda opsi kontrak berakhir.

Namun, jika mengukur nilai Bitcoin dalam emas, performanya belum memenuhi ekspektasi. Harga Bitcoin turun sekitar 60% jika dibandingkan dengan nilai emas sejak puncaknya pada akhir tahun lalu.

Menurut Adam McCarthy, analis riset Kaiko, Bitcoin berpotensi turun di bawah level $80.000, bahkan bisa melanjutkan penurunan ke kisaran $70.000 jika sentimen bearish terus mendominasi terutama saat aktivitas pasar menurun menjelang akhir pekan. Likuiditas rendah bisa memperbesar dampak penurunan harga.

Tony Sycamore dari IG Australia melihat bahwa penurunan harga baru-baru ini merupakan kelanjutan tren turun setelah reli korektif dari posisi rendah November. Penurunan ini mengonfirmasi bahwa tren penurunan jangka menengah kembali berlanjut.

Kondisi pasar Bitcoin saat ini memperlihatkan tantangan bagi cryptocurrency untuk menempatkan diri sebagai aset “emas digital” di tengah pergeseran preferensi investor. Dana keluar yang besar dan ketidakpastian kebijakan moneter menjadi faktor utama yang menjaga Bitcoin dalam fase stagnan meskipun ada berbagai upaya penguatan dari beberapa pihak.

Terbaru