Lebih dari $10 triliun nilai pasar aset safe haven seperti emas dan perak hilang dalam tiga hari terakhir. Penurunan drastis ini menjadi salah satu episode kerugian terkaya dan tercepat dalam sejarah logam modern.
Harga emas spot merosot hingga di bawah $4.500 per ons, turun hampir $1.000 hanya dalam tiga hari perdagangan. Perak juga jatuh ke bawah $72 per ons, mencapai penurunan hampir 40% dari puncak harga terbaru.
Secara nilai pasar, emas menghapus sekitar $7,4 triliun, dan perak kehilangan $2,7 triliun, totalnya melebihi kapitalisasi pasar seluruh aset kripto. Kondisi ini memicu tanda tanya besar soal likuiditas dan peran aset safe haven di tengah kebijakan moneter baru.
Yang membuat situasi ini lebih mengkhawatirkan adalah tidak adanya pemicu geopolitik atau ekonomi besar yang jelas. Pasar tampak sedang melakukan penyesuaian harga terhadap kebijakan agresif pengurangan neraca Federal Reserve (The Fed).
Mantan calon ketua The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan bahwa neraca The Fed yang mencapai sekitar $7 triliun terlalu besar secara signifikan. Ia mendorong agar neraca ini dikurangi, yang otomatis berarti likuiditas pasar akan berkurang.
Pengurangan likuiditas ini tidak hanya memengaruhi logam mulia, tetapi juga pasar aset digital. Kapitalisasi pasar kripto turun lebih dari $430 miliar dalam empat hari terakhir.
Bitcoin dan Ethereum mencatat penurunan harga cukup tajam, sementara sentimen pasar kripto melemah secara signifikan. Ini menunjukkan potensi risiko pengurangan likuiditas menyebar ke berbagai kelas aset.
Analis Bull Theory menyoroti bahwa emas telah jatuh 20% dan kehilangan nilainya hingga lima kali lipat kapitalisasi pasar Bitcoin. Perak turun hampir 40%, hapus nilai pasar setara dengan seluruh aset kripto. Aset safe haven kini bergerak seperti “meme coin” kripto yang spekulatif.
Psikologi investor juga mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan yang lebih parah dibandingkan dengan kehancuran pasar kripto tahun lalu. Beberapa investor bahkan mulai meninggalkan emas, meski masih ada yang mempertahankan posisi di aset keras ini.
Natalie Brunell mengingatkan agar tidak menyamakan aksi jual karena ketakutan jangka pendek dengan kehancuran fundamental Bitcoin sebagai aset digital. Sementara itu, beberapa analis tetap optimistis terhadap harga emas jangka panjang.
Deutsche Bank mempertahankan prediksi harga emas mencapai hingga $6.000 dalam horizon jangka panjang. Pemisahan antara tekanan likuiditas jangka pendek dan narasi lindung nilai moneter tetap menjadi fakta penting.
Analis Zev membandingkan pola kenaikan dan penurunan emas saat ini dengan puncak harga tahun 1980. Ia memperingatkan risiko stagnasi bertahun-tahun setelah lonjakan harga yang sangat tajam, bukan keruntuhan total.
Dalam konteks kripto, Tom Lee dari Fundstrat menyatakan bahwa penurunan kripto saat ini dipengaruhi oleh proses deleveraging historis pada Oktober lalu. Meskipun tetap mendukung tesis Bitcoin sebagai “emas digital”, Lee memperingatkan volatilitas tinggi akan terus terjadi.
Tahun 2026 diperkirakan menjadi momen pengujian kritis bagi adopsi dan stabilitas Bitcoin dalam jangka menengah. Para investor disarankan untuk mencermati dinamika baru ini sebagai bagian dari risiko pasar yang tidak dapat diabaikan.
Berikut beberapa data penting saham kripto Amerika yang mengalami penurunan harga sebelum pasar buka:
1. MicroStrategy (MSTR) turun 6,84% menjadi $139,47.
2. Coinbase (COIN) turun 3,52% menjadi $187,89.
3. Galaxy Digital Holdings (GLXY) turun 4,35% menjadi $27,03.
4. MARA Holdings (MARA) turun 4,84% menjadi $9,04.
5. Riot Platforms (RIOT) turun 4,40% menjadi $14,79.
6. Core Scientific (CORZ) turun tipis 0,39% menjadi $17,92.
Pergerakan pasar ini mencerminkan bahwa pasar global tengah menyesuaikan diri dengan rezim moneter baru yang mengutamakan penyusutan neraca The Fed. Dampaknya terasa luas, tidak hanya pada logam mulia tapi juga di ranah kripto dan saham teknologi terkait.
Investor disarankan tetap waspada dan mengamati perkembangan kebijakan The Fed serta respons pasar terhadap likuiditas yang semakin ketat. Perubahan ini membuka babak baru dalam dinamika investasi aset defensif dan digital.
