Bitcoin Sell-Off: Risiko Jangka Pendek dan Potensi Peluang Baru di Pasar Kripto 2026

Penjualan besar-besaran Bitcoin baru-baru ini memicu perdebatan di kalangan pelaku pasar mengenai apakah penurunan ini hanya bersifat sementara akibat tekanan likuiditas atau menandakan melemahnya posisi Bitcoin sebagai penyimpan nilai. Sebagian besar analis sepakat bahwa penurunan ini bersifat siklikal, meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai prospek Bitcoin selanjutnya dalam menyerap aliran modal yang berputar dari aset tradisional di tengah ketidakpastian makroekonomi dan dolar AS yang menguat.

Setelah harga logam mulia seperti emas dan perak mengalami koreksi tajam, Bitcoin relatif mampu bertahan stabil. Pada satu hari, Bitcoin bahkan naik sekitar 3,8% ke level $78.800 meskipun dalam 30 hari terakhir nilainya anjlok 13,6%, menurut data dari CoinGecko. Hal ini memunculkan pemikiran ulang di kalangan investor apakah pergerakan pada pasar logam tersebut telah menjadi terlalu ramai sehingga menyebabkan reaksi berantai ke aset kripto.

Dinamika Aliran Modal dan Dampaknya pada Bitcoin

Martin Gaspar, pakar strategi pasar kripto dari FalconX, menyoroti bahwa selama ini Bitcoin mendapatkan keuntungan dari penguatan emas. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, modal yang sebelumnya mengalir ke kripto lebih banyak mengarah ke perak. Gaspar mengingatkan kemungkinan adanya pembalikan tren ini saat pasar perak mulai mendingin kembali. Investor juga tengah mengamati kebijakan dan pengaruh dari RUU struktur pasar kripto Amerika Serikat yang dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat.

Dukungan industri juga menjadi perhatian utama. Binance berencana mengonversi sekitar $1 miliar dana SAFU ke dalam Bitcoin, sementara Tether aktif membeli emas sebagai instrumen pendukung. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan pasar yang tengah bergejolak.

Pandangan Berbeda dari Pelaku Pasar

Menurut Zerocap, perusahaan investasi aset digital asal Australia, Bitcoin masih memiliki keunggulan sebagai penyimpan nilai dibandingkan emas, meski dalam jangka pendek posisi Bitcoin tampak rapuh. Mereka menilai penurunan harga lebih didorong oleh faktor likuiditas dan manajemen risiko daripada tekanan struktural. Bitcoin dianggap sebagai aset yang sensitif terhadap likuiditas, bukan akibat penjualan paksa yang melemahkan fundamentalnya.

Sebaliknya, Alex Thorn dari Galaxy Digital memberikan pandangan yang lebih hati-hati. Dia mencatat bahwa penurunan Bitcoin saat ini menunjukkan adanya tekanan likuidasi dan minimnya akumulasi dari pemegang jangka panjang atau whales. Meskipun profit taking dari pemegang jangka panjang mulai berkurang, kekhawatiran pasar masih tetap ada. Hal ini tercermin dari aktivitas derivatif Bitcoin yang menunjukkan tingkat stres pasar yang tinggi setelah gelombang jual besar-besaran.

Rotasi Aset dan Potensi Pemulihan

Vincent Liu, Chief Investment Officer Kronos Research, menyatakan bahwa penjualan Bitcoin ini lebih mencerminkan posisi jangka pendek dan kondisi likuiditas daripada melemahnya fundamental. Rotasi modal yang terjadi ke logam mulia dianggap sebagai pergeseran alokasi makroekonomi, bukan tanda menyerah (capitulation). Menurut Liu, keyakinan para pemegang strategi jangka panjang terhadap Bitcoin sebagai penyimpan nilai masih kuat, dan kemungkinan aliran modal kembali ke kripto dapat terjadi dalam waktu dekat.

Siwon Huh dari Four Pillars menjelaskan bahwa pasar logam menunjukkan volatilitas ekstrem dengan penurunan terbesar dalam empat dekade terakhir. Dampak penurunan logam mulia ini meluas ke pasar kripto yang sangat leverage, memicu kondisi saat ini. Dia juga menyebut perkembangan baru seperti tokenisasi emas yang meningkatkan likuiditas dan menghubungkan emas dengan aktivitas yield farming serta pinjaman beragunan melalui platform DeFi.

Tantangan Membangun Narasi Bitcoin sebagai “Store of Value”

Ryan Yoon dari Tiger Research menilai bahwa definisi jelas terkait fungsi Bitcoin sebagai penyimpan nilai perlu dibangun ulang. Menurutnya, Bitcoin perlu menjadi aset pelindung yang dapat diandalkan saat aset lain mengalami penurunan. Saat ini, produk seperti ETF Bitcoin membuat aset ini mudah diakses, tapi data pasar justru menunjukkan kurangnya alasan kuat untuk menyimpan Bitcoin secara jangka panjang sehingga citranya lebih mirip sebagai alat spekulasi.

Yoon menggarisbawahi perlunya dukungan kebijakan serta contoh negara yang mengadopsi Bitcoin secara luas, seperti El Salvador, agar Bitcoin dapat merebut posisi lebih kuat menghadapi rezim dolar yang menguat.

Data On-Chain dan Indikator Teknis

Menurut laporan Glassnode, lebih dari 22% suplai Bitcoin saat ini berada dalam kondisi rugi setelah penurunan pada Januari. Kondisi ini meningkatkan tekanan jual karena para dealer opsi melakukan lindung nilai dengan menjual pada harga yang menurun. Sementara itu, aliran masuk dari ETF spot hampir mencapai nol dan pasar opsi cenderung memperkirakan perlindungan downside yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun risiko masih terjadi, keyakinan investor terhadap Bitcoin sebagai safe haven belum sepenuhnya terbentuk.

Sinyal Positif dari Penyelesaian Likuidasi

Para analis menyebutkan bahwa pasar telah berhasil mengeliminasi penjual dengan posisi leverage tanpa menimbulkan kepanikan besar. Harga Bitcoin kini tergantung pada apakah permintaan baru maupun kebijakan yang akan datang mampu memberikan dukungan yang nyata. Skenario ini membuka kemungkinan adanya titik balik positif bagi Bitcoin jika faktor-faktor tersebut mulai berperan aktif.

Berita Terkait

Back to top button