Bitcoin mengalami penurunan harga ke level terendah sejak kemenangan pemilihan ulang Presiden Donald Trump lebih dari setahun lalu. Penurunan ini menghapus keuntungan yang telah diraih aset digital utama tersebut sejak saat Trump kembali menjabat sebagai presiden yang dikenal ramah terhadap kripto.
Kripto terbesar ini melanjutkan tren pelemahan hampir selama empat bulan, dengan harga sempat turun di bawah $74,424.95, harga terendah di tahun ini yang tercatat pada awal April setelah pengumuman awal rencana tarif Trump yang menguncang pasar keuangan global.
Tekanan Pasar dan Peran Trader
Menurut Bohan Jiang, senior derivatives trader di FalconX, banyak trader mencoba memanfaatkan penurunan dengan membeli di harga rendah sambil berharap Bitcoin bisa rebound di atas $80,000. Namun, penurunan yang terus terjadi menyebabkan posisi-posisi beli tersebut dilikuidasi, memberikan tekanan lebih lanjut pada harga Bitcoin.
Pada hari Selasa, Bitcoin jatuh hingga 7% mencapai $72,877, level terendah sejak 6 November tahun lalu, sebelum sedikit pulih ke angka sekitar $76,000 pada sore hari waktu New York. Secara keseluruhan, harga Bitcoin menurun hampir 14% dalam tahun berjalan.
Dampak Komentar Trump dan Liquidasi Besar
Meskipun didukung oleh pemerintah yang pro-kripto dan peningkatan adopsi institusional, harga Bitcoin turun hingga 40% dari puncak rekor yang dibukukan awal Oktober. Penurunan tajam ini dipicu oleh likuidasi besar-besaran senilai $19 miliar pada tanggal 10 Oktober, yang disebabkan oleh komentar tambahan Trump terkait tarif. Dampak likuidasi ini masih terasa di pasar crypto secara keseluruhan hingga saat ini.
Guncangan di Pasar Keuangan Lebih Luas
Penurunan Bitcoin terjadi bersamaan dengan turbulensi pasar yang lebih luas, termasuk penurunan historis pada logam mulia di akhir pekan sebelumnya setelah reli yang kuat. Indeks S&P 500 mengalami penurunan akibat aksi jual saham teknologi, sementara harga emas dan perak kembali naik dan harga minyak melonjak karena risiko geopolitik yang meningkat.
Indikator Derivatif Menunjukkan Potensi Pelemahan
Data dari CME dan Coinglass mengindikasikan jumlah kontrak terbuka (open interest) untuk futures kripto menurun drastis selama akhir pekan, menandakan penurunan minat perdagangan di pasar derivatif Bitcoin. Selain itu, tingkat pendanaan untuk futures perpetual yang dominan di pasar kripto sudah negatif, menunjukkan minat lebih besar pada posisi bearish.
Kontrak opsi put yang digunakan untuk melindungi risiko penurunan juga menurun, namun konsentrasi harga strike masih menunjukkan pasar belum lepas dari kecemasan. Augustine Fan, partner di platform opsi kripto SignalPlus, menyatakan bahwa sentimen pasar kripto berada di titik terendah, dengan volatilitas yang akhirnya meningkat setelah periode pergerakan turun selama setahun terakhir.
Performa Bitcoin sebagai Aset Risiko
Selain gejolak akibat kebijakan tarif, Bitcoin sebelumnya bertahan di level di atas $75,000 setelah kemenangan Trump yang diharapkan akan membawa kebijakan lebih menguntungkan bagi industri kripto. Namun, tekanan terus berlanjut sejak aksi jual besar pada bulan Oktober.
Investor masih dibayangi kekhawatiran ekonomi makro, dan saham-saham kesulitan untuk pulih di tengah rendahnya selera risiko serta kekhawatiran terkait gelembung kecerdasan buatan (AI). Sementara sebagian investor institusional tetap bertahan, partisipasi ritel menurun karena pemegang Bitcoin jangka panjang telah menjual aset senilai miliaran dolar.
Penurunan Altcoin dan Pergerakan ETF
Indeks MarketVector Digital Assets 100 Small-Cap, yang memuat 50 aset digital terkecil di antara 100 aset teratas, turun hampir 70% selama setahun terakhir. Altcoin secara umum berkinerja lebih buruk dibanding Bitcoin dan Ether sejak persetujuan produk exchange-traded fund (ETF) kripto yang menarik dana institusional. Namun, ETF spot untuk altcoin yang sebagian besar dimiliki investor ritel juga mengalami arus keluar dana miliaran dolar pada November.
Morten Christensen dari AirdropAlert.com mengungkapkan bahwa Bitcoin masih diperdagangkan layaknya aset berisiko tinggi (high-beta) alih-alih sebagai "emas digital". Hal ini tidak berarti bahwa tesis Bitcoin telah mati, melainkan belum sepenuhnya terealisasi.
Pergerakan harga Bitcoin yang stagnan dan tekanan pasar yang kuat menunjukkan tantangan besar bagi aset digital ini dalam menjaga momentum positifnya di tengah ketidakpastian ekonomi dan gejolak geopolitik yang sedang berlangsung.





