
Aktivitas transaksi cryptocurrency di Iran melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir, mencapai estimasi nilai transaksi antara 8 hingga 10 miliar dolar AS pada tahun lalu. Lonjakan ini mendorong pihak berwenang Amerika Serikat untuk melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan platform kripto yang membantu penghindaran sanksi oleh pejabat yang terkait dengan negara tersebut.
Departemen Keuangan AS kini fokus pada penyelidikan apakah platform-platform tersebut menyediakan sarana bagi entitas yang terkait dengan negara Iran untuk memindahkan uang ke luar negeri, mendapatkan mata uang keras, atau membeli barang. Informasi ini diungkapkan oleh Ari Redbord, kepala kebijakan global di perusahaan analisis blockchain AS, TRM Labs, yang memiliki pengetahuan langsung mengenai kekhawatiran departemen terkait.
Lonjakan Aktivitas Crypto di Iran
Menurut TRM Labs dan Chainalysis, dua perusahaan analisis blockchain terkemuka di AS, transaksi cryptocurrency di Iran menyentuh angka miliaran dolar secara signifikan. TRM Labs memperkirakan volume transaksi kripto mencapai sekitar 10 miliar dolar pada tahun lalu, sedikit meningkat menjadi 11,4 miliar dolar tahun ini. Sementara Chainalysis melaporkan bahwa dompet digital yang terkait dengan Iran menerima dana sebesar 7,8 miliar dolar, naik dari 7,4 miliar dolar pada tahun sebelumnya.
Meningkatnya penggunaan cryptocurrency ini juga didorong oleh faktor ekonomi domestik, seperti depresiasi cepat mata uang rial Iran dan isolasi negara dari sistem keuangan berbasis dolar. Dana hasil penjualan minyak masih menjadi sumber devisa terbesar Iran, dengan pendapatan mencapai 53 miliar dolar pada tahun lalu, menurut estimasi Administrasi Informasi Energi pemerintah AS.
Penggunaan Crypto oleh Kelompok Negara dan Investor Ritel
Data analisis menunjukkan bahwa aktivitas kripto tidak hanya diikuti oleh investor biasa, tetapi juga oleh kelompok yang memiliki koneksi dengan negara, terutama Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Estimasi Chainalysis menyebutkan sekitar 50% dari transaksi kripto di Iran terkait dengan IRGC, sebuah organisasi militer dan ekonomi yang memiliki kedekatan erat dengan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Namun, TRM Labs mencatat mayoritas aliran kripto, sekitar 95%, bergerak dari investor ritel, meski mereka juga mengidentifikasi lebih dari 5.000 alamat dompet yang terhubung dengan IRGC. IRGC diperkirakan telah memindahkan aset kripto senilai lebih dari 3 miliar dolar sejak tahun 2023. Hal ini menunjukkan peranan penting crypto dalam berbagai segmen pengguna di Iran, mulai dari kelompok resmi hingga masyarakat umum.
Strategi Bypass Sanksi dan Tantangan Penegakan Hukum
Perusahaan riset blockchain asal Inggris, Elliptic, melaporkan bahwa Bank Sentral Iran telah membeli stablecoin USDT senilai lebih dari 507 juta dolar pada tahun ini sebagai bagian dari strategi kompleks untuk menghindari hambatan sistem perbankan global. Tether, penerbit USDT, menegaskan kebijakan nol toleransi terhadap penggunaan token-nya untuk aktivitas kriminal dan bekerjasama erat dengan lembaga penegak hukum.
Namun, kompleksitas sistem blockchain dan sifat pseudonim dari dompet kripto menyulitkan identifikasi pelaku. Direktur intelijen keamanan nasional Chainalysis, Andrew Fierman, menegaskan bahwa ketika sebuah dompet kripto sudah teridentifikasi atau disanksi, pemilik dapat dengan mudah membuat dompet baru. Hal ini menjadi tantangan besar bagi otoritas AS dalam menelusuri dan menghambat penggelapan sanksi, yang oleh analis disebut sebagai permainan “whack-a-mole” dengan kecepatan tinggi.
Penggunaan Crypto oleh Warga Iran dan Dampak Ekonomi
Lebih dari 15 juta warga Iran diperkirakan memiliki eksposur atau menggunakan aset kripto. Lonjakan aktivitas ini sangat dipengaruhi oleh penurunan nilai mata uang lokal dan situasi ketidakstabilan sosial-politik, termasuk demonstrasi anti-pemerintah yang sempat menyebabkan pembatasan internet. Bursa kripto terbesar di Iran, Nobitex, mencatat memiliki 11 juta pengguna dengan mayoritas adalah investor ritel.
Bagi banyak pengguna, cryptocurrency digunakan sebagai alat penyimpan nilai akibat depresiasi rial yang berkepanjangan. Selain itu, beberapa pengguna memindahkan aset ke dompet digital yang dikawal pribadi atau ke platform di luar negeri untuk memastikan keamanan aset mereka, terutama menyusul serangan peretas pada Nobitex tahun lalu.
Peran Crypto sebagai Jalur Keluar Dana
Analisis dari perusahaan Nansen di Singapura menunjukkan adanya pergerakan dana yang signifikan dari bursa lokal ke bursa internasional sepanjang tahun ini. Hal ini menandakan bahwa selain fungsi penyimpanan nilai, cryptocurrency juga berfungsi sebagai jalur keluar struktural bagi dana dari Iran yang menghadapi pembatasan sistem keuangan global secara konvensional.
Meski Nobitex mengonfirmasi bahwa mereka memonitor transaksi dan melakukan pengecekan terhadap aktivitas mencurigakan, mereka menyatakan tidak memiliki akses untuk melacak tujuan dan alasan pengiriman dana keluar negeri secara rinci. Kondisi ini mencerminkan kompleksitas operasional platform kripto di negara yang sedang di bawah sanksi tersebut.
Pengawasan ketat AS terhadap penggunaan cryptocurrency di Iran menunjukkan bahwa teknologi digital ini semakin menjadi medan baru dalam perang ekonomi dan politik. Pemerintah AS berupaya menggunakan sumber daya yang besar untuk melakukan pelacakan transaksi dan sanksi, di tengah tantangan besar yang dihadapi dalam mengidentifikasi dan menghentikan praktik penghindaran sanksi melalui mata uang digital.





