Bagaimana Bias Otak Investor Dorong Bitcoin Naik: Pengaruh Anchoring dan Regret Aversion pada Harga BTC

Bitcoin memang sedang menghadapi tekanan pasar bearish yang cukup berat. Analis menyarankan bahwa pemangkasan suku bunga The Fed dan pelonggaran regulasi kripto bisa diperlukan untuk membalikkan tren ini.

Namun, di balik dinamika pasar, dua bias perilaku manusia berperan penting dalam potensi kenaikan harga Bitcoin. Bias tersebut adalah anchoring bias dan regret aversion.

Anchoring bias terjadi saat investor terfokus pada satu harga patokan, misalnya harga Bitcoin $100.000 yang pernah dibayangkan. Akibatnya, mereka menganggap Bitcoin terlalu mahal dibandingkan saham teknologi biasa atau indeks Nasdaq, sehingga ragu berinvestasi.

Pada kenyataannya, selama bull market tahun lalu tidak ada lonjakan pembelian besar-besaran seperti tahun-tahun sebelumnya. ETF spot memang menyerap dana miliaran dolar, tapi kebanyakan dari aktivitas arbitrase, bukan investasi penuh keyakinan.

Saat ini, harga Bitcoin berada di sekitar $76.000, turun jauh dari puncaknya. Bila turun di bawah $60.000, artinya diskon 50% dari harga tertingginya. Di titik inilah bias regret aversion muncul.

Regret aversion adalah ketakutan ketinggalan momentum kenaikan harga setelah menunggu lama tanpa masuk pasar. Ini mendorong investor untuk membeli agresif saat harga turun, terutama pada aset yang sudah terbukti naik secara signifikan.

Selain faktor psikologis, perkembangan makroekonomi dan regulasi akan tetap menentukan arah pasar Bitcoin. Misalnya, data fundamental AS seperti laporan pekerjaan dan sektor jasa bisa menimbulkan volatilitas baru.

Di pasar kripto saat ini, Bitcoin telah naik kembali dari level terendah sekitar $73.000 ke sekitar $76.000. Aset lain seperti Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan XRP juga menunjukkan kenaikan, meski tidak sebesar beberapa token kecil seperti Monero (XMR) dan WLFI.

Data on-chain mengindikasikan bahwa koin yang dipegang oleh investor jangka panjang—yang menyimpan selama lebih dari lima bulan—saat ini mulai jarang dijual. Ini bisa menjadi sinyal ketahanan pasar yang membantu harga Bitcoin bertahan.

Namun, risiko penurunan lebih dalam masih ada jika indeks Nasdaq 100 terus melemah dan imbal hasil obligasi Treasury AS naik. Kondisi ini bisa membuat investor berhati-hati atau bahkan menjual aset berisiko, termasuk kripto.

Investor dan pengamat disarankan untuk terus memantau perkembangan data ekonomi penting dan sentimen pasar. Faktor-faktor ini bisa menjadi penentu utama apakah Bitcoin benar-benar akan melampaui level sebelumnya atau justru menyusut lebih dalam.

Intinya, kombinasi dari bias perilaku manusia dan faktor eksternal ekonomi-regulatori membentuk pola pergerakan harga Bitcoin saat ini. Kesadaran akan dinamika ini penting untuk pengambilan keputusan investasi yang lebih matang.

Exit mobile version