Bitcoin diprediksi akan mengalami penurunan tajam hingga mencapai level $38.000, menurut analisis terbaru dari Stifel, sebuah perusahaan jasa keuangan berpengalaman yang berbasis di St. Louis. Prediksi ini muncul setelah harga bitcoin turun sekitar 41% dari puncaknya, menyusul pola penurunan sejarah yang diobservasi sejak tahun 2010.
Para analis Stifel menggunakan tren linear yang menghubungkan titik terendah dari setiap crash besar bitcoin sejak 2010. Data menunjukkan penurunan signifikan pada beberapa periode, yakni sekitar 93% pada 2011, 84% pada 2015, 83% pada 2018, dan 76% pada 2022. Garis tren yang menghubungkan titik-titik tersebut menunjukkan kemungkinan harga bitcoin akan menyentuh $38.000 dalam koreksi saat ini.
Analisis tren historis bitcoin
Metode observasi Stifel didasarkan pada pola historis kejatuhan bitcoin yang berulang. Garis tren yang naik secara perlahan mengindikasikan bahwa meskipun bitcoin mengalami crash besar, level rendahnya terus bergerak naik secara bertahap. Namun, prediksi terbaru mengisyaratkan koreksi lebih dalam dari kondisi terkini yang saat ini berada sekitar $70.000, mendekati harga pada November lalu.
Analogi dengan film "The Curious Case of Benjamin Button"
Stifel menggambarkan bitcoin dengan analogi karakter Benjamin Button dalam film terkenal yang semakin muda seiring waktu. Mereka menyebut bitcoin seperti “berusia mundur” karena pasokan bitcoin yang terbatas hanya 21 juta koin, sehingga nilainya kuat saat dolar AS melemah akibat pencetakan uang yang berlebihan. Namun, kini bitcoin seperti “bayi yang berperilaku tua,” mengalami pelemahan layaknya versi muda yang kekurangan kekuatan.
Perubahan korelasi bitcoin dengan dolar dan pasar global
Pada masa lalu, bitcoin cenderung naik ketika dolar melemah dan jumlah uang beredar global (M2) naik. Namun sejak 2025, korelasi ini berubah menjadi sebaliknya. Bitcoin kini justru turun seiring penguatan dolar AS. Indeks dolar selama tahun berjalan ini telah turun hampir 1%, melanjutkan penurunan hampir 10% tahun sebelumnya.
Pengaruh pasar saham teknologi dan kebijakan Federal Reserve
Bitcoin kini mengikuti pergerakan indeks Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi dan saham pertumbuhan. Harga bitcoin cenderung naik saat Federal Reserve Amerika Serikat mengindikasikan pelonggaran moneter atau suku bunga rendah (dovish), dan turun saat Fed menunjukkan sikap ketat (hawkish). Meski pada tiga pertemuan terakhir tahun 2025 Fed menurunkan suku bunga, nada hawkish tetap dominan dengan menghambat percepatan penurunan suku bunga di masa depan.
Risiko akibat biaya pinjaman yang meningkat
Analis Stifel menyoroti bahwa perusahaan teknologi semakin banyak meminjam dana dengan biaya yang juga meningkat. Kondisi ini berpotensi memperketat likuiditas pasar modal dan menggoyang valuasi saham teknologi, sehingga memberi tekanan tambahan pada harga bitcoin. Ketegangan finansial yang meningkat ini diperkirakan akan memperparah pelemahan di pasar bitcoin.
Poin utama prediksi Stifel
- Harga bitcoin diperkirakan jatuh ke sekitar $38.000.
- Pola penurunan mengikuti tren historis sejak 2010 dengan korelasi linear.
- Korelasi bitcoin dengan dolar berbalik sejak 2025, bitcoin kini cenderung turun jika dolar menguat.
- Bitcoin mengikuti pergerakan saham teknologi dan indeks Nasdaq 100.
- Sikap hawkish Federal Reserve dan kenaikan biaya pinjaman perusahaan teknologi menambah tekanan pasar.
Prediksi ini memberikan peringatan bahwa pasar bitcoin sedang memasuki fase koreksi yang dalam dan akan sangat bergantung pada kondisi makroekonomi serta kebijakan moneter global. Investor dan pelaku pasar diharapkan terus waspada terhadap dinamika pasar ke depan seiring ketidakpastian yang semakin tinggi.
