Bitcoin mengalami penurunan tajam, memicu anjloknya nilai pasar kripto hingga mencapai $2 triliun secara global. Penurunan ini didorong oleh sentimen risiko yang melemah, dipengaruhi oleh volatilitas logam mulia dan penurunan nilai saham teknologi secara luas.
Harga Bitcoin jatuh ke level $63.295,74, terendah sejak Oktober, dengan penurunan 12,6% ke $63.525. Kondisi ini menjadi penurunan satu hari terbesar sejak November sebelumnya, di mana sekitar $1 miliar posisi Bitcoin terlikuidasi dalam 24 jam terakhir menurut data CoinGlass.
Dampak pada Pasar Kripto Global
Sejak puncak pasar kripto yang mencapai $4,379 triliun pada awal Oktober, nilai pasar turun hingga $2 triliun. Dalam satu bulan terakhir, kerugian mencapai $800 miliar. Bitcoin telah anjlok 17% selama pekan ini, dengan penurunan tahunan sebesar 28%.
Ethereum, aset kripto terbesar kedua, juga mengalami penurunan signifikan. Harga Ethereum turun lebih dari 13% ke level $1.854, dengan penurunan mingguan 19% dan 38% tahun ini.
Faktor Pendukung Penurunan
Penurunan harga kripto dipengaruhi oleh volatilitas intens di pasar logam mulia, termasuk emas dan perak. Silver bahkan jatuh hingga 18% ke level $72,21. Selain itu, indeks saham S&P 500 dan Nasdaq mengalami penurunan signifikan, masing-masing ke level terendah selama tujuh minggu dan dua bulan, terutama karena tekanan pada tema kecerdasan buatan (AI).
Menurut Nic Puckrin, analis investasi dan co-founder Coin Bureau, pasar kripto saat ini berada dalam mode kapitulasi penuh. “Ini bukan koreksi jangka pendek, melainkan transisi dari distribusi menuju reset yang biasanya berlangsung berbulan-bulan,” ujarnya.
Pengaruh Kebijakan dan Sentimen Investor
Pemilihan Kevin Warsh sebagai calon ketua Federal Reserve oleh Donald Trump memicu kekhawatiran pasar, karena ekspektasi pengetatan moneter yang dapat memperkecil neraca besar Fed. Investor menganggap neraca besar Fed selama ini memberikan dukungan likuiditas bagi aset spekulatif seperti kripto.
Manuel Villegas Franceschi, dari Julius Baer, menyatakan bahwa ekspektasi neraca yang lebih kecil tidak memberikan sinyal positif bagi pasar kripto. Di sisi lain, laporan dari Deutsche Bank menunjukkan adanya arus keluar dana besar-besaran dari ETF kripto sejak penurunan tajam pada Oktober lalu.
Pengelolaan dana institusional juga menunjukkan tren pelepasan aset kripto. ETF spot Bitcoin di AS mengalami arus keluar lebih dari $3 miliar pada Januari, setelah mengalami outflow $2 miliar dan $7 miliar pada dua bulan sebelumnya. Hal ini menandakan menurunnya minat investor tradisional dan meningkatnya sentimen pesimistis terhadap aset kripto.
Keterkaitan dengan Sektor Teknologi
Harga Bitcoin telah lama berkorelasi dengan sektor teknologi, khususnya saham berbasis teknologi dan AI. Namun, penurunan tajam dalam saham perangkat lunak global akhir-akhir ini mempercepat kemerosotan nilai Bitcoin dan aset kripto lain.
Para analis mulai mempertanyakan apakah penurunan ini merupakan awal dari koreksi pasar yang lebih dalam. Mohit Kumar, strategis dari Jefferies, memperingatkan potensi likuidasi paksa di kalangan penambang kripto jika harga terus turun. Situasi ini bisa memicu siklus negatif yang berkelanjutan.
Meskipun demikian, Kumar menekankan bahwa kripto sebaiknya hanya menjadi bagian kecil dari total portofolio investasi. Namun, karena aset kripto sangat populer di kalangan investor ritel, volatilitasnya bisa menambah risiko pasar secara keseluruhan.
Penurunan signifikan Bitcoin dan aset kripto lain mencerminkan tantangan pasar yang lebih luas. Beragam faktor mulai dari perubahan kebijakan moneter, volatilitas pasar logam mulia, hingga dinamika sektor teknologi saling memengaruhi pergerakan harga kripto secara global. Data menunjukkan perlunya kewaspadaan bagi investor menghadapi volatilitas dan risiko berkelanjutan di pasar aset digital.
