Bitcoin kembali melanjutkan penurunan harga seiring tekanan jual yang meningkat dan aktivitas likuidasi di pasar derivatif. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terkait tekanan makroekonomi dan proses pengurangan leverage yang tengah berlangsung.
Harga Bitcoin sempat turun di bawah level $72.000 untuk pertama kalinya sejak November. Meski demikian, menurut John Haar, Managing Director Swan Bitcoin, penurunan tersebut masih termasuk hal yang wajar dan tidak mengubah dasar investasi jangka panjang pada Bitcoin.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan sekitar $71.400, turun sekitar 6% dalam sehari dan hampir 43% dari rekor tertinggi di kisaran $126.080 pada awal Oktober, menurut data CoinGecko. Haar menghubungkan pelemahan ini dengan sejumlah faktor makroekonomi, seperti nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve oleh Presiden Trump, pengeluaran posisi leverage trader, serta ketegangan geopolitik yang berkembang.
Likuidasi total di pasar kripto dalam 24 jam terakhir melonjak melebihi $654 juta. Dari angka tersebut, Bitcoin menyumbang sekitar 41% atau sekitar $272 juta, menurut data CoinGlass. Tekanan jual ini banyak dipicu oleh aksi pengurangan eksposur oleh investor jangka panjang.
Georgii Verbitskii, pendiri aplikasi investasi kripto TYMIO, mengatakan bahwa narasi utama Bitcoin sebagai pelindung inflasi mata uang fiat sedang dipertanyakan dalam jangka pendek. Harga emas dan logam mulia lainnya menunjukkan tren kenaikan, sementara Bitcoin justru bergerak berlawanan, yang menjadi perbedaan signifikan saat ini.
Akibatnya, para pemegang Bitcoin jangka panjang mulai mengevaluasi ulang posisi mereka. Verbitskii menegaskan bahwa meskipun keyakinan terhadap fungsi Bitcoin sebagai lindung nilai inflasi melemah sementara, hal ini belum berarti tesis jangka panjangnya rusak. Namun, tren penurunan ini membuka kemungkinan terjadinya koreksi lebih dalam.
Potensi penurunan harga Bitcoin menuju kisaran $60.000 tidak bisa diabaikan jika tekanan korektif berlanjut. Hal tersebut bisa menjadikan tahun ini serupa dengan fase reset pasar Bitcoin yang terjadi pada 2018 atau 2022, bukan kelanjutan tren penguatan yang solid.
Dinamika Pasar dan Risiko Tekanan Lebih Lanjut
Para analis mencatat pasar secara keseluruhan masih menghadapi tekanan akibat unwind leverage dan arus dana ETF yang tidak stabil. Konsolidasi pasar dan kesabaran investor dinilai penting sebelum risiko penurunan mereda dan pasar kembali stabil.
Ryan Yoon, analis senior di Tiger Research, menyatakan bahwa kondisi saat ini sangat kurang menguntungkan. Bitcoin menunjukkan reaksi negatif terhadap berbagai faktor makro, membuat aset digital ini tampak semakin tersisihkan.
Namun demikian, Bitcoin menunjukkan tanda-tanda masuk ke wilayah oversold atau jenuh jual. Yoon menilai nilai Bitcoin sebagai aset alternatif akan kembali bersinar setelah likuiditas mengalir masuk secara jelas. Februari diprediksi menjadi bulan yang menantang bagi pasar kripto.
Menurut Vincent Liu, Chief Investment Officer Kronos Research, penurunan harga Bitcoin di bawah $72.000, meskipun singkat, tidak menggagalkan prospek bullish jangka panjang. Namun, hal ini menandai fase unwind leverage yang memperpanjang periode menunggu pasar, bukan kelanjutan kenaikan harga secara tiba-tiba.
Liu mengungkapkan kemungkinan berkurangnya tekanan jual seiring kompresi leverage tanpa penurunan harga lebih lanjut, perlambatan arus keluar dana ETF, dan permintaan pasar spot yang mulai menyerap pasokan. Tanda-tanda stabilisasi leverage serta harga yang bertahan saat terjadi aksi jual atau berita negatif akan menjadi indikator penting perubahan tren pasar.
Secara keseluruhan, kondisi pasar Bitcoin kini masih dalam fase volatil dan penuh tekanan eksternal. Investor dan pelaku pasar disarankan untuk memantau perkembangan risiko makro dan pergerakan leverage sebagai refleksi sentimen dan arah jangka pendek aset digital tersebut.
