Gelombang besar aksi ambil rugi untuk Bitcoin tercatat mencapai rekor dengan nilai sebesar $3,2 miliar pada tanggal 5 Februari. Fenomena ini menunjukkan bahwa para investor Bitcoin bergegas menjual aset mereka dalam skala yang belum pernah terlihat sebelumnya, melampaui tingkat kerugian saat krisis besar seperti runtuhnya Luna dan kebangkrutan FTX.
Menurut analisis on-chain oleh ahli pasar Murphy, nilai kerugian yang sudah terealisasi ini jauh melampaui momen-momen guncangan pasar crypto yang terkenal, menandakan tingkat kepanikan yang sangat tinggi. Bitcoin mengalami penurunan sekitar 10% pada hari itu, turun ke level harga sekitar $64.000, level terendah sejak akhir 2024, dan membatalkan momentum positif yang sempat terbentuk pasca kemenangan Donald Trump.
Rekor Kerugian Bitcoin Melampaui Krisis Besar Sebelumnya
Murphy menegaskan bahwa gelombang penjualan besar ini bukan sekadar koreksi biasa. Dengan jumlah kerugian yang melebihi $3 miliar, prospek pasar Bitcoin saat ini sedang menghadapi tekanan hebat yang belum pernah muncul sejak peristiwa-peristiwa besar sebelumnya.
Beberapa krisis terdahulu yang menjadi pembanding seperti peristiwa runtuhnya Luna, kebangkrutan FTX, dan kejadian black swan pada 3 Desember dan 19 Mei, menurut Murphy, tidak menghasilkan tingkat pengambilan kerugian setinggi ini. Hal ini semakin memperkuat bahwa kondisi saat ini bisa dikategorikan sebagai fase capitulasi, yaitu saat investor besar-besaran meninggalkan pasar secara panik.
Pengukuran Realisasi Kerugian Berdasarkan Nilai USD
Murphy juga menolak pandangan yang mengukur kerugian Bitcoin dalam satuan BTC. Ia menjelaskan bahwa karena harga Bitcoin sangat dinamis, satu-satunya cara akurat untuk memahami tekanan jual pasar adalah dengan mengukur kerugian dalam nilai tukar USD. Hal ini penting agar bisa menggambarkan skala kepanikan dengan tepat saat terjadi aksi jual massal.
Sebagai informasi tambahan, data serupa pernah muncul pada November 2025, namun mengalami penyesuaian setelah Coinbase melakukan reorganisasi data dompet digital penggunanya. Kali ini, data menunjukkan bahwa kepanikan pasar benar-benar nyata dan tanpa adanya kejadian berita besar sebagai pemicunya.
Dinamika Pasar dan Prediksi Tren Berikutnya
Pasar Bitcoin kini tengah mengamati apakah gelombang jual besar ini adalah puncak kemerosotan atau justru pertanda ketakutan yang masih akan berlanjut. Fluktuasi harga yang tajam sering kali memicu penjualan paksa yang berpotensi mempercepat realisasi kerugian di pasar.
Dimatikannya tekanan jual yang besar bisa menandai habisnya para penjual utama, sementara jika ketakutan masih berlanjut, maka penurunan harga Bitcoin dapat terus berlanjut. Michael Burry, pendiri Scion Asset Management yang terkenal karena prediksinya saat krisis perumahan 2008, membagikan grafik perbandingan tren saat ini dengan penurunan harga pada 2021-2022. Ia menunjukkan kemungkinan bahwa harga Bitcoin bisa turun lebih jauh ke kisaran $50.000 sebelum menemukan titik dasar yang lebih stabil.
Data Penting Terkait Aksi Jual Bitcoin
- Kerugian realisasi Bitcoin mencapai $3,2 miliar pada tanggal 5 Februari, nilai tertinggi sepanjang sejarah.
- Penurunan harga mencapai 10% dalam satu hari, ke level sekitar $64.000.
- Skala kerugian melebihi krisis Luna, FTX, dan kejadian black swan terdahulu.
- Pengukuran kerugian berdasarkan nilai USD untuk menggambarkan tekanan pasar secara akurat.
- Potensi penurunan lebih jauh menurut analisis Michael Burry hingga kisaran $50.000.
Gejolak yang terjadi dalam pasar Bitcoin saat ini menempatkan investor dan pengamat pasar dalam situasi waspada tinggi. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa volatilitas harga yang ekstrem masih menjadi tantangan utama di sektor aset kripto. Monitoring konstan terhadap realisasi kerugian dan pergerakan pasar menjadi kunci untuk memahami arah tren ke depan bagi investor dan pelaku pasar.







