Video Medis YouTube Banyak Faktanya Salah, 62,5% Konten Dokter Justru Tak Kredibel dan Berbahaya

Para peneliti dari National Cancer Center di Korea mengungkapkan fakta mengejutkan terkait video-video medis yang beredar di YouTube. Studi menunjukkan sebagian besar konten medis yang diunggah tidak menyajikan informasi yang akurat meskipun dibuat oleh dokter yang berprofesi sebagai tenaga medis profesional.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal JAMA Network Open ini meninjau 309 video berbahasa Korea dengan rata-rata durasi 19 menit dan penayangan hingga 164.454 kali. Lebih dari 75% video tersebut diproduksi oleh dokter, namun tetap gagal memenuhi standar kredibilitas medis yang ketat.

Kredibilitas Video Medis di YouTube

Video-video medis ini dinilai berdasarkan tingkat kredibilitasnya dalam empat kategori: A, B, C, dan D. Penilaian tersebut didasarkan pada metode tinjauan sistematis dan kualitas bukti ilmiah dari masing-masing video. Berikut pembagian kategori dengan kriteria singkatnya:

  1. Kategori A: Berbasis tinjauan sistematis dan pedoman medis yang kuat.
  2. Kategori B: Didukung oleh uji klinis acak dan studi kohort dengan bukti sedang.
  3. Kategori C: Memiliki bukti rendah, termasuk studi observasional terbatas atau studi kasus tanpa evaluasi kritis.
  4. Kategori D: Bukti sangat rendah atau hanya mengandalkan anekdot tanpa validasi ilmiah.

Hasilnya sangat mengkhawatirkan karena 62,5% video termasuk dalam kategori D. Sebaliknya, hanya sekitar 19,7% video yang mendapatkan peringkat A — menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil konten memenuhi standar informasi medis terpercaya.

Video dengan Kredibilitas Rendah Justru Lebih Populer

Lebih mengejutkan lagi, video dengan kredibilitas rendah (kategori D) justru mendapatkan penayangan lebih tinggi, yaitu 34,6% lebih banyak dibandingkan video dalam kategori A. Kondisi ini menunjukkan bahwa video dengan konten yang kurang tepat malah lebih sering dilihat dan menyebar luas.

Temuan ini mengungkap adanya kesenjangan besar antara kualitas informasi dan popularitas konten. Bahkan otoritas medis sekalipun terkadang melegitimasi informasi yang tidak didasarkan pada bukti kuat, sehingga menimbulkan potensi risiko misinformasi bagi masyarakat.

Dampak dan Implikasi Studi

Dalam konteks masyarakat modern yang sangat bergantung pada YouTube sebagai sumber informasi kesehatan, dampak misinformasi bisa sangat berbahaya. Studi lain memperlihatkan bahwa perilaku kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh konten video dan reputasi pembuat konten. Kompetensi, daya tarik, dan kepercayaan terhadap pembuat konten menjadi faktor penting dalam memengaruhi tindakan pemirsa.

Peneliti Kang Eun-kyo menegaskan pentingnya adanya pedoman konten berbasis bukti serta pelatihan komunikasi sains yang lebih baik untuk para profesional kesehatan. Hal ini bertujuan menjaga keakuratan dan integritas informasi medis yang beredar di media digital.

Rekomendasi untuk Pengguna YouTube

Untuk menghadapi realitas ini, masyarakat disarankan agar lebih kritis dalam memilih dan menilai informasi medis di YouTube. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:

  1. Memeriksa kredibilitas pembuat konten, apakah mereka merujuk pada sumber medis terpercaya.
  2. Membandingkan informasi dengan situs resmi atau literatur medis.
  3. Menghindari mengambil keputusan kesehatan hanya berdasarkan video tanpa konsultasi ke profesional medis.
  4. Mengutamakan video yang mencantumkan referensi dan bukti ilmiah jelas.

Kesadaran ini sangat penting agar pengguna tidak terjebak pada informasi yang berpotensi menyesatkan dan berisiko bagi kesehatan.

Studi ini menggambarkan tantangan besar dalam era digital, di mana penyebaran informasi tanpa filter yang memadai dapat menyebabkan kebingungan dan risiko kesehatan bagi publik. Ke depannya, kolaborasi antara platform digital, tenaga medis, dan institusi pendidikan sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kualitas informasi kesehatan yang bisa diakses oleh masyarakat luas.

Baca selengkapnya di: www.cnbcindonesia.com
Terkait