Rekor Aktivitas Opsi Bitcoin ETF BlackRock Saat Crash Dipicu Spekulasi Hedge Fund Bangkrut

Author: Qoo Media

BlackRock’s bitcoin spot ETF telah menarik perhatian besar dari investor yang menginginkan paparan aset kripto tanpa harus berurusan dengan dompet digital atau bursa. Namun, baru-baru ini aktivitas opsi yang terkait dengan ETF ini mencapai rekor selama penurunan harga yang tajam, memunculkan spekulasi tentang kemungkinan kegagalan hedge fund besar.

Pada hari Jumat, saat ETF tersebut anjlok hingga 13%, volume opsi melonjak ke rekor tertinggi 2,33 juta kontrak. Transaksi put options sedikit lebih dominan dibanding call options, menandakan tingginya permintaan perlindungan terhadap penurunan harga seperti biasanya pada masa gejolak pasar.

Opsi merupakan instrumen derivatif yang berfungsi sebagai asuransi terhadap perubahan harga aset dasar. Untuk IBIT, pembeli opsi membayar premi kecil yang memberi hak, bukan kewajiban, membeli atau menjual ETF pada harga tertentu hingga tanggal kedaluwarsa. Call options memungkinkan keuntungan dari kenaikan harga, sedangkan put options melindungi dari penurunan.

Angka mencengangkan muncul dari total premi opsi IBIT yang dibayarkan pada hari tersebut, mencapai 900 juta dolar—jumlah tertinggi dalam satu hari. Nilai ini setara dengan kapitalisasi pasar beberapa token kripto yang berada di luar 70 besar. Data ini otomatis menimbulkan pertanyaan besar di kalangan analis.

Salah satu analis, Parker, mengklaim bahwa lonjakan premi dan aktivitas opsi ini mencerminkan kegagalan hedge fund besar yang hampir 100% investasinya berada di IBIT. Fund ini konon membeli call options “out of the money” setelah penurunan pada Oktober, berharap harga cepat pulih dan memberikan keuntungan besar.

Call options OTM tersebut seperti tiket lotere murah dengan harga strike jauh di atas harga pasar saat ini. Jika harga naik melewati strike tersebut, pemegang call bisa meraih keuntungan besar. Namun, bila harga tidak sampai ke level itu, premi yang dibayarkan hangus begitu saja.

Yang menarik, hedge fund itu membeli opsi ini menggunakan dana pinjaman (leverage). Saat harga IBIT terus turun, mereka malah menambah posisi yang membuat kerugian semakin membengkak. Ketika pasar jatuh pada Kamis, nilai call options turun tajam dan pihak broker mengeluarkan margin call, memaksa fund tersebut melepas saham IBIT secara besar-besaran.

Penjualan besar-besaran ini mencapai volume spot sebesar 10 miliar dolar, yang memperparah tekanan jual. Fund juga terpaksa menutup posisi call options yang merugi atau mengganti opsi yang masa berlakunya habis, sehingga total premi mencapai rekor 900 juta dolar dalam satu hari itu.

Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya disepakati. Shreyas Chari, seorang direktur trading di Monarq Asset Management, menilai penjualan sistematis di beberapa aset utama termasuk IBIT kemungkinan dipicu oleh margin call secara lebih luas. Menurutnya, ada rumor bahwa entitas penjual opsi short melakukan aksi jual agresif setelah beberapa level harga kunci ditembus, memperburuk penurunan ke harga 60 ribu.

Sementara itu, Tony Stewart, pendiri Pelion Capital dan pakar opsi, berpendapat bahwa aktivitas opsi pada IBIT memang menambah kekacauan pasar, tetapi tidak dapat dikaitkan secara pasti dengan kegagalan satu hedge fund besar. Ia mengemukakan bahwa sekitar 150 juta dari premi 900 juta dolar berasal dari pembelian kembali put options oleh trader yang semula melakukan short selling pada opsi tersebut dan ingin mengurangi risiko kerugian saat harga jatuh.

Selain itu, bagian besar dari premi sisanya berasal dari transaksi kecil yang normal pada hari perdagangan yang volatile. Stewart menjelaskan bahwa fenomena ini lebih mencerminkan kepanikan pasar secara umum, bukan indikasi tunggal dari kegagalan besar.

Meskipun begitu, ia mengakui kemungkinan adanya aktivitas tersembunyi yang dilakukan melalui perdagangan over-the-counter (OTC) yang tidak tercatat dalam data publik. Perdebatan antara teori blowup hedge fund dan penjelasan pasar chaos ini menegaskan kompleksitas dinamika di balik rekor aktivitas opsi IBIT.

Meski beragam pendapat muncul, peristiwa ini menandai bahwa opsi IBIT kini cukup likuid dan berpengaruh terhadap pergerakan pasar. Trader dan analis pun mulai memperhatikan volume dan aktivitas opsi ini sebagai indikator penting, setara dengan pemantauan arus dana masuk ke ETF itu sendiri.

Catatan penting lainnya adalah efek leverage yang digunakan oleh pemain besar, yang dapat memperbesar dampak penurunan nilai aset dan memicu reaksi pasar lebih dramatis. Ke depan, pengawasan lebih ketat terhadap posisi opsi dan penggunaan leverage di sektor kripto akan menjadi bagian kunci dalam memahami dan mengelola risiko di pasar yang volatil ini.

Terbaru