Ekonom Peter Schiff memberikan pandangan kritis terkait upaya Presiden Donald Trump menjadikan Amerika Serikat sebagai pusat utama Bitcoin di dunia. Schiff menilai bahwa upaya tersebut tidak berdampak signifikan karena kepemimpinan China dinilai terlalu cerdas untuk memperhatikan Bitcoin.
Schiff mengungkapkan melalui sebuah unggahan di platform X bahwa klaim Trump tentang perlunya mendominasi pasar cryptocurrency guna menghambat China adalah sebuah kesalahan strategi. Menurut Schiff, sementara Amerika membuang sumber daya dan modal untuk Bitcoin, China justru fokus membangun infrastruktur industri dan memperbanyak cadangan emasnya.
Perbedaan Sikap Amerika dan China terhadap Cryptocurrency
Trump sebelumnya mengungkapkan kekhawatiran bahwa China berusaha masuk secara besar-besaran ke ranah cryptocurrency. Namun, faktanya Beijing telah menerapkan berbagai pembatasan yang secara bertahap mengarah pada pelarangan total transaksi dan aktivitas mining cryptocurrency antara 2013 sampai dengan 2021. Pada September 2021, bank sentral China secara resmi menyatakan perdagangan aset digital ilegal.
Sebagai tambahan, layanan terkait perdagangan aset digital yang disediakan dari luar negeri kepada warga China juga dilarang keras. Penegakan aturan ini diperkuat kembali oleh bank sentral China pada bulan November dengan perhatian khusus terhadap stablecoin yang dipatok pada dolar AS.
Berbeda dengan pendekatan Amerika yang kerap mendukung pengembangan Bitcoin, China justru melanjutkan inovasi pada mata uang digital bank sentralnya, yakni Digital Yuan. Negara ini juga belum mengumumkan cadangan strategis Bitcoin seperti yang diisyaratkan oleh Amerika Serikat.
Fokus China pada Cadangan Emas dan Industri
Dalam waktu bersamaan, China dengan intensif meningkatkan cadangan emasnya selama 14 bulan berturut-turut menurut laporan Bloomberg. Langkah ini memperlihatkan strategi China untuk memperkuat stabilitas ekonomi melalui aset-aset tradisional yang telah teruji.
Schiff menegaskan bahwa kepemimpinan China lebih memilih strategi konservatif dan nyata dibandingkan mengejar hype aset digital yang volatil. Pernyataan ini muncul di tengah gejolak pasar cryptocurrency yang menekan nilai Bitcoin hingga hampir mendekati harga tertingginya pada siklus bullish sebelumnya sebesar 69,700 dolar.
Dampak Penurunan Bitcoin dan Relevansi Strategi
Bitcoin kini mengalami tekanan jual yang hebat sehingga hampir menghapus sebagian besar keuntungan yang diraih sejak Trump memegang jabatan. Tren ini memperkuat argumen Schiff bahwa fokus berlebihan pada pengembangan Bitcoin dalam konteks persaingan geopolitik tidak akan efektif.
Berikut ini poin-poin penting mengenai perbedaan pendekatan AS dan China dalam menghadapi pasar mata uang digital:
- Trump ingin AS menjadi pusat Bitcoin untuk mengantisipasi dominasi China.
- China secara resmi melarang semua aktivitas cryptocurrency dan mining.
- Beijing mengutamakan pengembangan Digital Yuan, mata uang digital bank sentral.
- China meningkatkan cadangan emas selama lebih dari setahun berturut-turut.
- Schiff menilai kepemimpinan China lebih cerdas dan pragmatis dalam strategi ini.
- Pasar Bitcoin mengalami penurunan signifikan di bawah pengaruh persaingan ini.
Strategi China yang menempatkan aset digital sebagai bagian kecil dari kebijakan moneter dan investasi nasional memperlihatkan keengganan mereka untuk terjebak dalam fluktuasi pasar kripto global. Fokus mereka tetap pada penguatan ekonomi melalui diversifikasi aset dan pengembangan teknologi yang dapat dikendalikan secara terpusat.
Pandangan Schiff memberikan perspektif baru mengenai kompetisi AS-China dalam ranah cryptocurrency. Ini juga menjadi bahan refleksi tentang bagaimana kebijakan moneter dan strategi investasi negara-negara besar berbeda dalam menghadapi teknologi finansial baru. Di saat pasar kripto penuh volatile, keberhasilan sebuah negara dalam menyusun strategi makroekonomi dan moneternya memiliki dampak jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren digital aset terbaru.
