Investor semakin optimis terhadap Bitcoin meskipun harga aset kripto terbesar ini terhenti di sekitar level $70,000. Para analis menyebutkan bahwa kondisi makroekonomi yang membaik dan kebijakan moneter Amerika Serikat berperan penting dalam membuat investor bersemangat kembali.
Ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan kuat yang menjadi faktor kunci untuk mendorong harga Bitcoin naik ke depan. Selain itu, Federal Reserve kembali membeli Treasury bills sejak Desember untuk menjaga likuiditas dan mengendalikan suku bunga, sehingga membantu mendongkrak harga aset termasuk Bitcoin.
Menurut David Brickell dan Chris Mills dari London Crypto Club, kebijakan Fed ini menciptakan lingkungan makro yang mendukung baik pasar saham maupun kripto. Mereka menegaskan, “Kami tetap bullish pada ekuitas dan kripto dalam beberapa bulan mendatang berkat pertumbuhan ekonomi AS yang kokoh, inflasi yang mulai mereda, serta peningkatan likuiditas.”
Pergerakan harga Bitcoin akhir pekan lalu juga menunjukkan sentimen positif, yakni kenaikan sekitar 12% setelah likuidasi posisi short senilai $245 juta. Meski sempat turun menyentuh $60,000 pada Jumat, Bitcoin berhasil kembali mendekati level $70,000.
Namun, Bitcoin masih mengalami penurunan lebih dari 44% dari rekor tertingginya mencapai $126,000. Sementara aset lain seperti saham dan emas sudah mulai mendekati harga tertinggi mereka masing-masing.
Data dari DefiLlama menunjukkan investor melepas dana senilai $6,5 miliar dari dana spot Bitcoin sejak November. Di sisi lain, indeks S&P 500 terus menanjak meski ada kekhawatiran soal gelembung aset kecerdasan buatan, penjualan besar saham teknologi, dan ketidakstabilan politik.
Brickell dan Mills menambahkan, “Ekuitas dan emas menunjukkan ketahanan yang lebih baik didukung aliran dana dan posisi investor.” Mereka juga mencatat, permintaan emas tetap kuat karena bank sentral memperkuat langkah ‘de-dollarisation’ di tengah meningkatnya tekanan geopolitik terhadap dolar AS.
Penunjukan Kevin Warsh yang dianggap hawkish sebagai calon Ketua Fed sempat menekan harga aset kripto. Namun, para analis percaya ekspansi keuangan tidak bisa dihindari dan Fed kemungkinan besar akan terus menyuntikkan likuiditas ke pasar.
Mereka menyatakan, “Ekspansi neraca Fed sering kali menjadi kebutuhan daripada pilihan saat pasar mengalami tekanan, seperti yang terlihat dalam pembelian kembali Treasury bills.” Setiap upaya untuk mengecilkan neraca kemungkinan besar akan diimbangi oleh perubahan regulasi yang mengalihkan penyediaan likuiditas ke neraca swasta sehingga tidak mengurangi uang yang beredar secara sistemik.
Harga Bitcoin saat ini bergerak stabil di kisaran $69,697 setelah mengalami kenaikan tipis 0,5% dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, Ethereum justru turun 3% menjadi $2,042 pada periode yang sama.
Faktor fundamental makro yang kuat, didukung kebijakan Fed yang ekspansif dan perbaikan kondisi ekonomi, menjadi alasan utama investor tetap optimis meskipun harga Bitcoin belum menembus level tertinggi baru. Kondisi ini menunjukkan sentimen positif yang berpotensi mendorong kenaikan harga aset kripto di bulan-bulan mendatang.
